TANJUNG SELOR — Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bulungan bersama Pusat Kajian Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah (PK-PPID) Universitas Mulawarman mulai melakukan kajian pengembangan hilirisasi industri kakao di Bulungan.
Langkah ini dilakukan sebagai memperkuat nilai tambah komoditas sekaligus membuka ruang investasi baru di sektor agroindustri.
Pejabat Fungsional Penanaman Modal Ahli Madya DPMPTSP Bulungan, Muhammad Syafie mengatakan kajian tersebut menjadi pijakan penting dalam mendorong terbentuknya ekosistem industri kakao yang lebih modern dan berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan pengembangan hilirisasi kakao di Bulungan memiliki arah yang jelas, berbasis data, dan mampu menarik minat investor,” kata Syafie.
Syafie menegaskan bahwa sinergi antar pemda, akademisi dan pelaku usaha menjadi kunci keberhasilan pengembangan sektor ini.
“Hilirisasi tidak bisa berjalan jika berdiri sendiri. Harus ada kolaborasi kuat antar pemerintah, kampus dan pemangku kepentingan lain,” ungkapnya.
Kajian yang disusun bersama PK-PPID Unmul itu akan memetakan potensi produksi kakao, ketersediaan lahan, peluang pasar, kebutuhan teknologi hingga strategi penguatan daya saing produk.
“Kami ingin menghasilkan rekomendasi yang komprehensif, mulai dari rantai pasok hingga peluang investasi yang paling memungkinkan dikembangkan di Bulungan,” kata Syafie.
Ia menyebutkan bahwa Bulungan memiliki peluang besar untuk mendorong industri turunan kakao, seperti pasta kakao, bubuk kakao, hingga produk olahan premium.
“Pasar kakao masih sangat luas. Jika industri hilir berkembang, dampaknya langsung ke petani, tenaga kerja, dan peningkatan PAD,” jelasnya.
DPMPTSP Bulungan berkomitmen terus mengawal proses penguatan sektor industri dan investasi sebagai bagian dari pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Target kami bukan hanya menarik investasi, tetapi memastikan masyarakat Bulungan mendapatkan manfaat langsung dari tumbuhnya industri ini,” pungkasnya. (jai/har)
Editor : Azwar Halim