TANJUNG SELOR – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengapresiasi langkah progresif Pemerintah Kabupaten Bulungan dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif.
Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi dalam kunjungan kerja (kunker) ke Bumi Tenguyun.
Kepada Radar Kaltara, Saryadi menilai Pemkab Bulungan berhasil menghadirkan pendidikan yang ramah bagi semua kalangan, termasuk anak penyandang disabilitas. Ini sejalan dengan visi Kemendikdasmen untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemkab Bulungan atas dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan. Pendidikan inklusif di Bulungan telah menunjukkan praktik-praktik baik yang layak dijadikan contoh oleh daerah lain,” kata Saryadi kepada Radar Kaltara, Selasa (13/5).
Dijelaskan, pendidikan inklusif bukan hanya soal akses, tetapi juga soal kualitas dan kesetaraan. Semua anak, lanjutnya, harus mendapat kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi latar belakang sosial, kondisi fisik, maupun geografis.
“Saya mendengar banyak cerita baik dari masyarakat dan menyaksikan langsung bagaimana pendekatan inklusif ini diterapkan di lapangan,” ungkapnya.
Ia berharap model yang dikembangkan Bulungan bisa direplikasi kabupaten/kota di Kaltara maupun wilayah lain di Indonesia, dengan penyesuaian karakteristik daerah.
“Sekarang ini pendidikan inklusif menjadi salah satu prioritas nasional yang tengah dikawal oleh Kemendikdasmen,” ujarnya.
Sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi penyandang disabilitas.
“Komitmen Presiden dalam Asta Cita sangat jelas, bahwa negara harus hadir dalam pemenuhan hak-hak pendidikan bagi semua warga, termasuk penyandang disabilitas,” ujarnya.
Untuk itu, Saryadi menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam mewujudkan pendidikan inklusif.
Ia menyebut pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media dan masyarakat sebagai strategi penting dalam pembangunan sektor pendidikan.
“Kemendikdasmen tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi menjadi kunci agar pendidikan inklusif tidak hanya menjadi slogan. Tetapi, benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.
Saryadi berharap komitmen yang telah dibangun oleh Pemkab Bulungan terus berlanjut dan dapat memberikan dampak yang lebih luas.
“Semoga ikhtiar ini membawa manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Kabupaten Bulungan, dan menjadi inspirasi bagi daerah lain,” pungkasnya. (jai/har)
Editor : Azwar Halim