TANJUNG SELOR - Duka mendalam kembali menyelimuti dunia jurnalisme. Wartawan Kota Palu, Situr Wijaya (33), ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di salah satu hotel kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (4/4) malam.
Menanggapi hal itu, Ketua PWI Bulungan Fathu Rizqil Mufid menekankan kepada aparat penegak hukum, agar serius menangani kasus meninggalnya wartawan secara tidak wajar tersebut.
"Kami (PWI Bulungan) mendesak kepolisian mengusut tuntas peristiwa tersebut," kata Rizqil.
Untuk itu, ia menekankan agar kasus ini diusut tuntas, terbuka dan profesional. Sehingga, peristiwa yang menyebabkan kehilangan nyawa rekan seprofesi dapat terungkap dengan jelas. Kuasa hukum telah melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya dengan Laporan Polisi (LP) Nomor : LP/B/2261/IV/2025/SPKT/Polda Metro Jaya. Diduga kliennya meninggal karena menjadi korban kekerasan berujung yang pembunuhan.
“Kami mendukung polisi mengusut kasus yang sudah dilaporkan ini. Dalam proses pembuktiannya, perlu dipastikan apakah korban dibunuh atau tidak,” tegasnya.
Menurutnya, jika dugaan pembunuhan terhadap jurnalis itu terkait dengan tugas kewartawanan, maka siapapun yang terlibat harus dikenai sanksi tanpa pandang bulu. Begitupun jika kasus tersebut merupakan permasalahan pribadi.
“Jangan sampai ada motif kriminalisasi pada profesi. Kami tentu mengecam keras tindakan pelaku. Karena tidak hanya melakukan tindakan kriminal pembunuhan, tetapi juga mencederai kebebasan pers yang dilindungi oleh undang-undang (UU)," jelasnya.
Untuk itu, ia menekankan aparat penegak hukum agar menuntaskan kasus ini secara adil. Kematian editor sekaligus pemimpin portal berita Insulteng.id itu, menyisakan luka mendalam bagi awak media. Apalagi tak berselang lama dengan pembunuhan yang dialami jurnalis muda di Kalimantan Selatan, Juwita.
“Kita hidup di negara demokrasi, yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Pers dalam menjalankan aktivitasnya, tidak boleh dihalang-halangi apalagi sampai dibunuh karena berita. Siapapun yang melakukan itu, maka dia atau mereka melawan demokrasi di negeri ini,” pungkasnya. (jai/har)
Editor : Azwar Halim