TANJUNG SELOR - Kaum perempuan sangat gampang terpengaruh paham radikalisme. Bahkan berdasarkan hasil survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) 2023, menunjukkan fenomena keterlibatan perempuan dalam terorisme ini cukup mencengangkan.
Ketua FKPT Kaltara, Datuk Iskandar Zulkarnaen mengatakan, berdasarkan penelitian BNPT 2023, indeks potensi radikalisme menunjukkan peningkatan sebesar 1,7 dibanding tahun 2022. Indeks ini lebih tinggi pada perempuan, generasi Z, dan masyarakat yang aktif di internet.
"Program prioritas BNPT RI menekankan pentingnya pencegahan radikalisme pada perempuan, anak, dan remaja," kata Datu Iskandar kepada Radar Kaltara.
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan terlibat dalam aksi terorisme, baik sebagai pelaku utama maupun bagian dari jaringan keluarga atau sosialnya.
"Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga meningkatkan risiko paparan ideologi radikal, terutama di kalangan generasi muda," bebernya.
Dalam hal ini, keluarga sebagai benteng utama sangat krusial. Ketahanan keluarga mencakup aspek legalitas, fisik, ekonomi, sosial psikologis dan sosial budaya.
"Jadi, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran ibu dan menanamkan nilai-nilai pancasila serta toleransi pada anak dan remaja sebagai upaya pencegahan radikalisme," ujarnya.
Karena itu, peran ibu dan menanamkan nilai pancasila serta toleransi pada anak dan remaja, juga sangat penting dalam mencegah radikalisme.
Baca Juga: Genjot Retribusi Daerah, Dongkrak PAD"Dalam menghadapi tantangan radikalisme dan terorisme, peran keluarga menjadi sangat penting dalam menumbuhkan kesadaran dan memperkuat keimanan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila serta toleransi pada anak-anak dan remaja," pungkasnya. (jai/har)
Editor : Azwar Halim