Stim mengatakan, untuk pekan ini belum ada libur. Sebab, pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) pada satuan pendidikan SD dan SMP diestimasikan 4-16 April. “Jadi, selama Ramadan ini tidak ada libur. Mungkin jam pembelajaran saja yang kita kurangi,” kata Stim kepada Radar Kaltara, Minggu (27/3).
Selama pelaksanaan ANBK, Disdikbud Bulungan memastikan seluruh siswa akan tetap mengikuti proses pembelajaran melalaui pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) 50 persen dan belajar dari rumah (BDR) 50 persen. “Tetap belajar, walaupun ada pelajar yang mengikuti ANBK,” ungkapnya.
Setelah ANBK, pelajar kelas 1-5 akan kembali mengikuti ulangan semester. Begitu juga dengan pelajar SMP kelas 7 dan 8. “Kalau sesuai kalender pendidikan, libur lebaran tanggal 2-7 Mei,” bebernya.
Menyoal pelaksanaan PTMT 50 persen, Stim memastikan bahwa pelaksanaannya berjalan dengan lancar. Dalam hal ini, Disdikbud Bulungan menekankan kepada seluruh satuan pendidikan untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. “Edaran sudah kita sampaikan ke seluruh satuan pendidikan. Jadi, kita berharap semua bisa menaati regulasi tersebut,” ujarnya.
Karena itu, satuan pendidikan wajib melaksanakan layanan pendidikan sesuai regulasi yang ada. Apabila ditemukan kasus suspek maupun kontak erat dengan pasien Covid-19 harus melapor kepada puskesmas maupun Satgas Penanganan Covid-19 di setiap wilayah yang menerapkan PTMT.
“Kalau ada ditemukan kasus konfirmasi positif Covid-19. PTMT akan langsung kita hentikan sementara. Hal itu sesuai arahan bupati,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Bulungan, Syarwani menyatakan bahwa pelaksanaan PTMT bersifat fleksibel. Sebab, kegiatan pembelajaran dapat dihentikan apabila ada kasus konfirmasi positif Covid-19. “Saya sudah sampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan untuk untuk menghentikan sementara kegiatan PTMT jika ada kasus konfirmasi positif Covid-19,” tegasnya.
Meski PTMT dihentikan sementara, orang nomor satu di Bumi Tenguyun ini memastikan bahwa proses pembelajaran tetap berlanjut melalui metode BDR. “Sekarang ini kan masih terjadi penyebaran kasus. Jadi, saya minta proses pembelajaran jangan dipaksakan, karena kita tidak ingin mengambil risiko,” ujarnya. (*/jai/eza)
Editor : Azwar Halim