AGUSSALAM SANIP
MINGGU malam (6/3) saya ditelepon staf dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara), diminta untuk ikut bersama Wagub Kaltara, Dr. Yansen TP, M.Si, dalam kunjungan kerjanya di wilayah Krayan, Nunukan selama beberapa hari. Setelah meminta izin kepada istri dan diperbolehkan, saya pun mengiyakan untuk berangkat esok hari.
Saya memang sudah terbiasa dengan ajakan liputan dadakan, oleh karena itu saya harus siap diajak oleh Wagub. Senin (7/3) pukul 08.30 WITA saya diantar istri saya ke Bandara Tanjung Harapan, Tanjung Selor dan selang 15 menit kemudian Wagub sudah tiba di bandara dan kami pun serta rombongan yang ikut langsung menuju pesawat kecil yang bisa mengangkut 9 orang.
Pukul 09.30, pesawat yang kami tumpangi terbang menuju Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan, Krayan. Sekira sejam perjalanan, kami hampir tiba dan sempat berputar-putar di atas gunung-gunung di Long Bawan karena pilot mencari celah untuk turun karena awan putih tebal masih menutupi.
Setelah ada celah dan landasan pacu kelihatan barulah pesawat jenis Kodiak tersebut didaratkan oleh seorang pilot bule. Saya diminta Wagub untuk turun duluan, karena di bandara sudah banyak pejabat kecamatan dan tokoh-tokoh masyarakat yang akan menjemput.
Usai beristirahat, Wagub menyempatkan diri memberi arahan dan pembinaan kepada para petugas dan pimpinan Bandara Yuvai Semaring. Wagub mengingatkan agar saling koordinasi dengan unsur pimpinan kecamatan agar pelayanan bandara betul-betul untuk rakyat dan tentu sesuai aturan keselamatan. “Bandara ini adalah milik rakyat. Jangan ada saling ego di sini,” pesan Wagub Yansen TP.
Wagub memberikan semangat dan menyatakan bahwa tugas yang dilaksanakan oleh petugas bandara adalah sebuah tanggung jawab yang besar karena Bandara Yuvai Semaring berada di wilayah perbatasan negara dan mempunyai nilai bangsa.
Setelah memberikan pembinaan, Wagub didampingi oleh pihak bandara mengecek pembangunan di wilayah Bandara Yuvai Semaring. Menurut petugas bandara, Bandara Yuvai Semaring sebenarnya sudah bisa didarati pesawat jenis ATR, namun untuk lebih amannya ada beberapa ketentuan yang diminta oleh sebuah maskapai agar bisa ditingkatkan.
Dari Bandara Yuvai Semaring, Wagub dan rombongan bergeser ke lokasi pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Long Midang. Di lokasi ini, Wagub sempat meradang karena progres pembangunannya masih rendah padahal sudah setahun lebih pelaksanaannya. Alasan terkendalanya pembangunan PLBN karena adanya pandemi Covid-19 yang material dan alat tidak masuk melalui negara tetangga yang lockdown.
Namun dari pihak pelaksana dijanjikan mulai April kembali berprogres dan Wagub pun mengingatkan bahwa dirinya akan kembali mengecek progres yang dijanjikan. Wagub juga mengingatkan kepada para kontraktor agar bekerja serius dan tidak main-main dalam mengerjakan bangunan pos lintas batas tersebut. Karena ada marwah bangsa dan negara di sana.
Menegaskan ini, kata Wagub, bukan tanpa alasan, karena dirinya pun diminta oleh Gubernur Kaltara, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, untuk memperketat pengawasan. Karena gubernur merupakan wakil pemerintah pusat, jadi turut mengawasi proyek bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). “Pesan Pak Gubernur ke saya supaya perketat pengawasan. Kenapa, karena beliau itu mengharapkan 2023 sudah klir soal perbatasan ini. Tapi kalau begini modelnya (progresnya), gimana? Jadi jangan main-main lagi. Serius ya,” pintanya dengan tegas.
Sebelum istirahat makan siang, Wagub menyempatkan diri singgah di Pos Gabma Long Midang dan memberikan suntikan semangat kepada Satgas Pamtas yang bertugas di sana. Wagub dan rombongan makan siang tepat di depan Pos Gabma RI-Malaysia. Di sana ada sebuah warung makan dan Wagub tampak menikmati nasi kotak yang berisikan sepotong ayam goreng, tahu, tempe sambal dan nasi putih.
Sepulang dari meninjau PLBN, rombongan juga menyempatkan diri melihat bangunan untuk pengolahan garam dan kemudian kembali ke penginapan untuk beristirahat.
Selasa pagi (8/3), Wagub dan rombongan kembali melakukan monitoring. Kali ini yang disasar adalah pembangunan jalan perbatasan ruas jalan Long Bawan-Lembudud. Tahun 2022 jalan ini kualitasnya ditingkatkan diaspal melanjutkan peningkatan jalan yang sudah dikerjakan beberapa kilometer tahun sebelumnya.
Tahun ini jalan yang termasuk Jalan Perbatasan Lingkar Krayan ini dibangun sepanjang 0,831 kilometer dengan produk akhir lapis aspal beton aus atau asphalt concrete- wearing course (AC-WC) dan nilai kontrak Rp 9.376.147.410,10 bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) penugasan bidang jalan.
Melihat dana yang begitu besar untuk membangun jalan yang tidak sampai satu kilometer pastilah membuat kaget orang yang baru melihat pembangunan di perbatasan, khususnya perbatasan Kaltara.
Ya, membangun di perbatasan memang butuh dana yang besar, sebab mendatangkan alat dan material tidaklah mudah. Bahkan, ada material yang harus diangkut dengan pesawat dan pesawatnya pun kapasitas terbatas. Bayangkan!
Kepada pihak kontraktor dan pengawas, Wagub meminta agar memperhatikan daerah sekitar pembangunan. Tak hanya sesuai kontrak kerja, tapi bisa membantu memperbaiki jalan sekitar, apalagi jalan tersebut dekat dengan Rumah Sakit Pratama Krayan.
Wagub dan rombongan melanjutkan kunjungan kerjanya ke Rumah Sakit Pratama Krayan, karena hari itu juga dimulai beroperasinya layanan rumah sakit. Wagub berkeliling rumah sakit melihat peralatan-peralatan dan ruangan. Kemudian langsung memberikan pembinaan dan arahan kepada petugas medis maupun non medis agar memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Rumah Sakit Pratama Krayan, kata Wagub, sudah lama dinantikan masyarakat layanannya. Karena itu dirinya bersyukur setelah kurang lebih 7 tahun dibangun baru bisa mulai beroperasi sekarang.
Di hari yang sama, direncanakan akan bertolak dari Long Bawan menuju Pa’ Upan, Krayan Selatan dan bermalam di sana. Namun sebelum berangkat, Wagub juga menyempatkan diri untuk memberikan pembinaan kepada guru-guru dan petugas sekolah di SMA Negeri 1 Krayan.
Sekira pukul 3 sore, perjalanan dimulai dari Long Bawan menuju Pa’ Upan, nah di sinilah mulai tantangan perjalanan. Belum satu jam perjalanan di Jalan Lingkar Krayan ini, kami disambut hujan. Jalan pun licin dan sudah agak susah dilewati karena ada jalan yang mendaki dan turunan yang curam.
Tetiba, mobil di depan yang saya tumpangi pada berhenti semua. Setelah dicek ternyata mobil yang dikendarai langsung oleh Wagub tergelincir. Saya pun dan rombongan bergegas untuk melihat keadaan. Saking licinnya, saya berlari kecil pun hampir terpelanting.
Setelah dicek ternyata benar mobil dobel gardan yang dikendarai Wagub terperosok di samping tebing dan amblas tidak bisa keluar. Alhamdulillah Wagub dan penumpang yang ada di mobil aman.
Beberapa kali percobaan didorong mobil tetap tidak bisa keluar. Hujan semakin deras, saya tetap merekam video dan memotret proses mengeluarkan mobil dari parit tebing yang sudah dalam tersebut.
Saya tidak ikut menarik atau mendorong mobil bukan karena tidak ingin membantu, tapi karena tugas saya mendokumentasikan setiap apa yang terjadi dalam perjalanan tersebut, makanya saya merekam video dan memotret menggunakan kamera telepon seluler.
Sambil menunggu mobil ditarik, di balik kemudi mobil, Wagub melambaikan tangan dan memanggil saya. Saya bergegas menghampiri mobil yang sudah miring dan seperti terhimpit di samping tebing. Saya sambil merekam video, Wagub pun membuka kaca mobil dan menjelaskan bahwa seperti inilah kondisi jalan di Krayan saat ini.
Ia menyebutkan mobil jenis dobel gardan dan memang sudah didesain untuk jalan-jalan yang ekstrem seperti itu pun tetap tergelincir dan amblas. Apalagi kendaraan masyarakat yang biasa. Tentu itu sangat berbahaya. Karena itu dirinya menegaskan sesuai dengan komitmen Gubernur Kaltara, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, bersamanya untuk terus meningkatkan pembangunan jalan lingkar Krayan.
Setelah berhasil ditarik, rombongan kembali menyusuri jalan lingkar Krayan. Di beberapa titik kami dihadapkan jalan yang rusak dan lumpur dalam serta jembatan-jembatan sementara terbuat dari susunan pohon kayu besar yang sudah mulai lapuk. Cuaca semakin dingin karena masih disertai hujan dan sudah memasuki malam hari.
Kami tiba di Desa Pa’ Upan dan menginap di rumah warga di sana. Untuk diketahui, Desa Pa’ Upan, Kecamatan Krayan Selatan adalah desa tempat Wagub Yansen TP dilahirkan. Ia lahir pada tahun 1960 lalu dari pasangan Samuel Tipa Padan dan Roslen Betung.
Setibanya di Pa’ Upan, kami disuguhi banyak buah-buahan seperti durian, mata kucing dan maritam (seperti rambutan). Duriannya isinya tebal-tebal dengan ada beberapa varian rasa. Menikmati buah-buahan tersebut langsung mengurangi rasa penat dan tegang kami selama perjalanan yang dibilang cukup ekstrem.
Keesokan harinya, Rabu (9/3), kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Binuang, Krayan Tengah. Kami sempat singgah di lokasi bekas rumah kelahiran Wagub. Di sana dibangun sebuah tugu oleh masyarakat karena mereka bangga ada anak dari Desa Pa’ Upan yang menjadi orang hebat, yaitu menjadi Bupati Malinau dua periode dan sekarang menjabat sebagai Wagub Kaltara.
Setelah mengabadikan momen di tempat kelahiran Wagub, rombongan langsung bertolak ke Binuang, namun di perjalanan beberapa kali singgah di beberapa desa dan kami kembali disuguhi berbagai macam buah-buahan, karena kebetulan lagi musim buah.
Di setiap kesempatan di perjalanan, Wagub tampak lancar dan hafal sekali menjelaskan seluk beluk jalan maupun desa-desa di Krayan. Ia mengenang masa kecil di kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Nunukan dan berbatasan langsung dengan negara Malaysia itu.
Pukul 12.30 WITA, kami pun tiba di Desa Binuang. Masyarakat sudah menunggu dan menggelar acara penyambutan. Wagub dan beberapa orang mewakili rombongan menerima kalung yang terbuat dari buah-buahan. Suara teriakan khas warga Dayak di Krayan langsung menggema. “Bui.. Bui... Bui.....,” teriak mereka semua dari orang dewasa hingga anak-anak kecil.
Setelah dijamu makan siang, kami langsung beristirahat di penginapan masing-masing yang sudah disediakan. Menuju penginapan, Wagub berjalan dan melihat langsung kondisi Bandara S. Tipa Padan, Binuang yang saat ini sedang proses pengaspalan. Dulu bandara ini landasan pacunya hanya tanah.
Malam hari, Wagub dan rombongan mendapat kehormatan diundang dalam acara ibadah syukur panen dan perayaan Hari Pertanian Organik (HPO) Ke-6 Krayan Tengah. HPO merupakan upaya masyarakat Krayan untuk tetap melestarikan pertanian dengan pola organik, tanpa menggunakan pupuk berbahan kimia.
Makanan yang disuguhkan juga berbagai macam buah-buahan, nasi merah dan putih dari beras lokal yang harum-harum sangat nikmat, karena berasal dari pertanian organik. Pada acara tersebut, Wagub diminta memberikan arahan, motivasi dan semangat bagi warga Krayan Tengah. Yang unik, saat makan semua warga lesehan dengan makanan yang ditaruh di atas daun pisang serta lauk pauknya ditaruh dalam bambu. Cara makan ini merupakan tradisi nenek moyang mereka saat syukuran pesta panen dan acara-acara besar lainnya.
Kamis (10/3), inilah hari yang terasa sangat berat dan bisa dibilang antara hidup dan mati. Ya, tanpa persiapan khusus, ternyata pembangunan jalan yang kami tinjau berada di hutan belantara rerata di atas ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (MDPL) yang rencananya menghubungkan Kabupaten Malinau ke Krayan.
Dari Desa Binuang, kami dijemput dengan mobil dan perkiraan saya mobil inilah yang langsung membawa kami ke lokasi jalan yang ditinjau. Hanya beberapa menit kami telah sampai di dekat jembatan gantung yang lumayan panjang. Ternyata kami belum sampai dan harus menyeberangi jembatan gantung yang terbuat dari kayu biasa dan kawat seling baja yang ditopang dengan kayu log atau gelondongan.
Sesampainya di seberang sungai, kami harus menaiki mobil lagi sekira 10 menit dan sampai ke titik di mana mobil dobel gardan yang kami tumpangi tidak bisa lagi melewati lokasi jalan yang kami akan tinjau.
Cuaca sangat panas dan saya lupa membawa air minum padahal di mobil pertama sudah saya siapkan dan itu membuat saya risau. Kami pun berganti kendaraan. Kami menaiki kendaraan bak terbuka seperti truk, namun bannya seperti yang dipakai tank atau bulldozer namun berbahan karet.
Kendaraan ini bermerek Morooka milik PT Waskita Karya yang biasa mereka gunakan untuk mengangkut logistik. Wagub langsung naik ke bak belakang, juga termasuk saya dan beberapa orang lainnya.
Kendaraan mulai bergerak dengan dikawal buldoser atau traktor beroda rantai, dua di depan dan belakang serta ditambah dua ekskavator atau alat ekskavasi. Mulanya jalan biasa saja, namun selang beberapa menit sudah memasuki hutan yang pohonnya menjulang tinggi dan berada di lereng gunung yang kemiringannya sangat miring. Salah jalan sedikit bisa-bisa ke jurang.
Walaupun berada di ketinggian 1.000 MDPL lebih, cuaca tetap terasa panas ditambah dengan panasnya mesin kendaraan yang kami tumpangi. Terlihat Wagub merekam aktivitasnya sambil berbicara tentang perjuangan yang begitu berat membangun jalan untuk membuka keterisolasian wilayah.
Sesekali dia mengangkat tangannya dari pegangan besi bak kendaraan, sebab panasnya mesin kontak dengan besi bak. Saya mulai mual dan sakit kepala karena tidak pakai topi. Pengin rasanya muntah namun saya tahan.
Rasa haus mulai terasa. Dehidrasi. Kendaraan tiba-tiba berhenti dan tidak bisa menanjak. Langsung ditarik buldoser yang memang mengawal di depan dan belakang. Setelah naik ke gunung, kendaraan yang kami tumpangi berhenti dan bannya disiram pakai air.
Kata operatornya, kendaraan jenis ini biasanya dipakai di perkebunan sawit atau di rawa, dan kalau ia pakai di kawasan gunung sekira satu kilometer perjalanan harus berhenti mendinginkan mesin dan ban.
Kendaraan jalan lagi menuruni dan menaiki gunung. Beberapa kali berhenti tidak bisa naik, kemudian ditarik atau didorong oleh buldoser. Kemudian kembali berhenti dan Wagub menanyakan apakah masih sanggup jalan kendaraannya? Kalau tidak sanggup ia minta tidak dipaksakan.
Saat berhenti, operator dan pekerja proyek lainnya mengeluarkan air dari sebuah jeriken dan minum. Saya pun meminta air karena sudah sangat haus dan sempat rasanya berhalusinasi jatuh dari kendaraan dan ingat anak istri di rumah.
Melihat saya minta air, Wagub memerintahkan agar segera saya dikasih air. “Kasih (air) dia, kasih dia!” perintahnya.
Saya juga melihat Wagub merasa kepanasan dan awalnya di bak belakang, pindah ke depan dekat saya dan kemudian naik ke bagian atas yang ada tempatnya duduknya menghindari panas mesin.
Perjalanan dilanjutkan dan selang beberapa waktu kemudian kami berhenti kembali dan diminta untuk turun berjalan kaki karena tanjakan berikut jalannya sempit dan ada jurang di sampingnya. Kami pun turun dan berjalan mendaki.
Sebelum mendaki, Wagub sempat mengecek jalan dan setelah itu saya duluan mendaki. Saat mendaki, beban kaki saya terasa dibanduli berton-ton besi. Namun dengan semangat turut membangun perbatasan, saya berhasil mendaki dan jalan sambil menunggu melanjutkan naik truk beroda rantai karet jenis Morooka MST-2000.
Saya mendapatkan air minum kemasan berukuran botol tanggung dari teman-teman yang baru datang menyusul menggunakan ekskavator. Air minum tersebut betul-betul saya irit, karena perasaan sudah jauh, tapi belum sampai ke tujuan.
Saya lihat rombongan yang duduk di bak belakang juga mungkin merasakan hal yang sama seperti saya. Mungkin baru pertama juga masuk ke lokasi pembangunan jalan yang berada di tengah hutan tersebut. Ketidaksiapan itu terlihat ada yang mengenakan pakaian batik dan tidak memakai pakaian lapangan.
Air tersisa sedikit. Pikiran saya jauh melayang, apakah saya masih bisa bertahan. Dalam pikiran saya perjalanan ini antara hidup dan mati, karena terasa sangat jauh. Saya sudah tidak fokus mau bertanya atau mencatat berapa kilometer jalan yang dilewati.
Kendaraan kembali berhenti dan Wagub kembali turun. Saya masih bertahan di kendaraan. Namun melihat semuanya turun, saya pun ikut turun dan bertanya kenapa lagi jalan kaki dan harus menuruni gunung. Karena saya berpikir bagaimana naiknya nanti. Karena sudah sangat lemas.
Namun alangkah senangnya saya melihat ternyata di bawah adalah kamp PT Duta Mega Perkasa. Ternyata di sana kita disiapkan makanan dan minuman. Yang saya tuju adalah air minum dan ada air teh manis untuk mengembalikan tenaga. Setelah berdoa, kami pun makan bersama.
Karena sudah sore, kami pun cukup sampai di kamp tersebut saja dan kembali ke Desa Binuang. Dalam perjalanan pulang sudah tidak terasa sangat panas seperti awal berangkat. Karena sudah agak sore dan cuaca pegunungan yang dingin mulai terasa.
Sama seperti perjalanan berangkat, pulangnya pun beberapa kali ditarik dan didorong kendaraan yang kami tumpangi. Alhamdulillah kami sampai di lokasi mobil sehingga kami berganti kendaraan dan sampai di jembatan gantung yang menghubungkan Pa’ Milau dan Binuang dengan kondisi sudah mulai gelap karena sudah pukul 18.30 WITA.
Sesampainya di penginapan di Desa Binuang, saya langsung mandi dan tidak terasa tertidur karena terasa sangat capai betul. Namun saya terbangun setelah dibangunkan untuk makan malam. Wagub pun bertanya kepada saya kenapa cepat tidur apakah kecapaian. Saya pun menjawab ia sambil mengangguk.
Mudah-mudahan jalan dari Malinau ke Krayan bisa segera selesai dan masyarakat Krayan bisa menikmati barang-barang yang lebih murah dan bisa menikmati kemudahan-kemudahan seperti halnya dengan saudara-saudara mereka yang berada di kota. Kasihan mereka sudah puluhan tahun Indonesia merdeka, namun belum bisa menikmati apa itu kata merdeka. (***/lim)
Editor : Sopian Hadi