Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Jembatan Jelarai Akan Ditutup

Azwar Halim • Rabu, 27 Januari 2021 | 12:38 WIB
jembatan-jelarai-akan-ditutup
jembatan-jelarai-akan-ditutup

TANJUNG SELOR - Jembatan Jelarai yang merupakan akses utama keluar-masuk Tanjung Selor, Ibu Kota Kalimantan Utara (Kaltara) dari daratan Kalimantan, rencananya akan ditutup dalam waktu dekat oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).


Penutupan akses utama ini dilakukan lantaran ada kerusakan yang terjadi pada elemen material antara balok dan tiang pada oprit dari jembatan sepanjang 143 meter dan lebar 6 meter tersebut.


Kepala Seksi (Kasi) Perencanaan Jalan dan Jembatan, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR Perkim) Kaltara, Hendro mengatakan, pengerjaan itu dilakukan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) di bawah Ditjen Bina Marga, Kementerian PUPR. "Informasinya, itu terjadi kerusakan elemen antara balok dan tiang pada oprit jembatan di sisi Tanjung Selor dari jembatan itu," ujarnya kepada Radar Kaltara, saat ditemui di Tanjung Selor, Selasa (26/1).


Awalnya pada 2020 lalu memang ingin dilakukan penutupan akses jalan ini. Hanya saja tertunda karena adanya refocusing anggaran dan fokus penyelesaian jalan tembus yang dari PLTU Gunung Seriang menuju Bulu Perindu dan tembus ke Jalan Meranti, Tanjung Selor. "Karena sebelumnya itu jalan alternatifnya belum selesai makanya di-pending dulu. Sekarang jalan itu sudah bisa dilewati, berarti jembatan Jelarai sudah bisa ditutup," jelasnya.


Artinya, jika jembatan Jelarai itu ditutup maka aktivitas keluar-masuk Tanjung Selor akan dialihkan lewat Jalan Meranti tersebut. Adapun rencana penutupan yang akan dilakukan antara 29 atau 30 Januari 2021 itu baru sebatas surat pengajuan dari Panitia Pelaksana Kegiatan (PPK) BPJN. "Jadi sekarang mereka masih menunggu kapan disetujui oleh Dirlantas Polda Kaltara dan Satlantas Polres Bulungan," tuturnya.


Saat ini, kondisi jalan dari PLTU Gunung Seriang ke Jembatan Meranti itu sudah agregat. Sehingga sudah bisa dilewati, namun tetap harus berhati-hati. Apalagi akses jalan ini hanya perbaikan sebagian, maka diperkirakan waktu lima bulan sudah cukup untuk penyelesaian opritnya.


Kepala BPJN Kaltara Zamzami yang dikonfirmasi terpisah juga mengatakan rencana perbaikan jembatan ini karena oprit dari sisi Tanjung Selor sudah mengalami penurunan. "Dalam masa pelaksanaannya, arus lalu lintas akan dialihkan (dari PLTU Gunung Seriang ke Jalan Meranti). Tapi sampai saat ini kita masih sosialisasikan," katanya.


Pihaknya juga berkoordinasi dengan Ditlantas Polda Kaltara. Setelah sosialisasi selesai dilakukan, maka pihaknya akan melakukan uji coba jalan pengalihan atau jalan alternatif tersebut. Jika sudah bisa, baru dilakukan penutupan Jembatan Jelarai tersebut.


Untuk lebar yang diperbaiki pada jembatan itu tetap sama seperti semula, yakni sebagai jembatan tipe B, lebarnya 7 meter ditambah dengan bahu jalan 1 sampai 2 meter. Sedangkan lebar keseluruhan mencapai 9 hingga 10 meter. "Untuk anggarannya saya kurang hafal. Tapi untuk rencana penutupan antara 29 atau 30 Januari itu masih belum pasti. Itu baru rencana, dan kita harus pastikan dulu," tuturnya.


Kepala Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional  (Kasatker PJN) Wilayah I Kaltara Andi Nugroho Jati menambahkan, sesuai rencana pengerjaan oprit jembatan (arah Tanjung Selor) dimulai tanggal 30 Januari 2021. “Kami upayakan sebelum lebaran pengerjaan sudah selesai,” ungkap Jati kepada Radar Kaltara melalui sambungan telepon, Selasa (26/1).


Selama pengerjaan, jembatan akan ditutup. Namun sebelum dilakukan penutupan, PJN Wilayah I Kaltara bersama Dirlantas Polada Kaltara akan terlebih dahulu melakukan uji coba traffic (lalu lintas). “Jadi, dari hasil uji traffic itu akan diputuskan apakah harus ditutup total atau masih bisa lewat sebagian di jembatan,” ujarnya.


Apabila ditutup total maka arus lalu lintas di jembatan Jelarai akan dialihkan ke jembatan Meranti yang menghubungkan Kelurahan Tanjung Selor Hilir dengan Bulu Perindu. Dalam hal ini pihaknya memastikan bahwa jembatan Meranti dan jembatan Gunung Seriang kuat untuk dilintasi kendaraan berat. “Asal sesuai muatan dan tidak overload (kelebihan beban) jembatan itu masih kuat. Maksimal 8 ton,” ungkapnya.


Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga  Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR-Perkim) Kaltara, Yusran menuturkan, ranah pengerjaan sepenuhnya ada di Kasatker PJN wilayah I Kaltara.  “Informasinya, pengalihan jalan ini sudah ditinjau oleh Dirlantas Polada Kaltara,” bebernya.


Peninjauan itu dilakukan untuk memastikan apakah jalan tersebut layak untuk dialihkan atau tidak. Apabila Jembatan Jelarai diperbaiki maka secara otomatis jalan akan ditutup. “Jadi, harus ada jalan alternatif. Nah, pilihannya di Jembatan Meranti. Tetapi, kalau sepengetahuan saya sampai saat ini belum ada persetujuan dari Polda terkait pengalihan jalan tersebut,” bebernya.


Terpisah, Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Bulungan, H. Fakhrudin saat dikonfirmasi mengaku telah menerima surat terkait pengerjaan Jembatan Jelarai. “Iya, kami sudah mendapatkan surat pemberitahuan dari Satker,” ungkapnya.


Untuk kelayakan Jembatan Jelarai, Fakhrudin enggan berkomentar lebih jauh. Sebab, pemeliharaan ranahnya ada di  Satker. Jadi, mereka yang lebih paham kalau soal itu. “Informasi terakhir yang kami terima dari Satker Jembatan Jelarai ini memang harus segera diperbaiki. Sebab, ada konstruksi oprit yang sudah mulai retak. Jadi, harus segera diperbaiki,” jelasnya.


Ketua DPRD Kaltara Norhayati Andris mendukung rencana penutupan dan pengalihan jalan tersebut, dengan harapan akses masyarakat ke Tanjung Selor dan sebaliknya akan tetap baik-baik saja," kata Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.


Norhayati pun menekankan yang paling utama jangan sampai akses menuju Tanjung Selor ini putus total atau akibat pengalihan jalan ini masyarakat jadi terganggu. "Jalan menuju Jembatan Meranti itu kan belum sempurna, jadi harus disempurnakan dulu. Jangan sampai nanti timbul kecelakaan di jalan alternatif itu. Harus ditata atau ada penjagaan yang ketat di situ," harapnya. (iwk/*/jai/ash)


 


 

Editor : Azwar Halim