Kampung Buluh Perindu ternyata sangat erat kaitannya dengan keluarga Kesultanan Bulungan yang berawal dari sebuah tanaman yang dibawa dan ditanam langsung di kampung itu. Seperti apa kisahnya hingga terbentuk nama Kampung Buluh Perindu, berikut liputannya.
RACHMAD RHOMADHANI,Tanjung Selor
KAMPUNG Buluh Perindu yang terletak di salah satu sudut Ibu Kota Kalimantan Utara (Kaltara), Tanjung Selor ini memiliki keistimewaan tersendiri. Kampung itu menjadi salah satu daerah yang erat kaitannya dengan keluarga Kesultanan Bulungan.
Abdul Rahman Salim, salah seorang tokoh masyarakat di Buluh Perindu menceritakan, awal terbentuknya nama Kampung Buluh Perindu dari keluarga Kesultanan Bulungan yang membawa sebuah tanaman untuk dipelihara di daerah tersebut.
Tak lain, dari keterangan keluarga Kesultanan Bulungan kala itu bahwa tanaman itu bernama Buluh Perindu. Tanaman yang dipercaya sebagai obat bagi warga yang sedang mengalami sakit. Alhasil, karena tanaman itu benar memiliki khasiat bagi warga setempat. Akhirnya, sekira tahun 1971 warga secara bersama menanam dan membudidayakannya yang kini menjadi ikon di daerah tersebut.
“Jadi sekitar tahun 1971 itulah nama Kampung Buluh Perindu ini terbentuk. Karena warga saat itu menanam tumbuhan di setiap pekarangan rumah,” ungkapnya.
Akan tetapi, dikatakan Rahman, seiring perkembangan zaman dan adanya penyemprotan rumput. Beberapa tahun terakhir banyak tumbuhan Buluh Perindu yang mati. Sehingga saat ini hanya beberapa warga saja yang memiliki tanaman Buluh Perindu.
“Kalau saya sampai sekarang tetap menanamnya. Karena bagaimana pun tanaman itu memiliki sejarah penting bagi saya dan warga Buluh Perindu khususnya,” ujarnya.
Rahman berharap, generasi penerus atau pemuda di Buluh Perindu dapat menjaga warisan pendahulu. Salah satunya dengan menaman kembali Buluh Perindu di pekarangan rumah. “Jangan pernah melupakan sejarah asal usul nama daerah ini,” pintanya.
Sementara, mengenai sejarah awal warga yang pertama bermukim di Buluh Perindu, Rahman menyebutkan bahwa rerata warga Buluh Perindu berasal dari Peso dan Tanjung Palas. Saat ini, warga di Buluh Perindu yang bermukim sekitar 400 jiwa, itu terbagi menjadi RT 15, 16, 17 dan 25. “Untuk mata pencaharian sampai saat ini warga sebagai petani, penggesek kayu dan nelayan,” sebutnya.
Sedangkan, mengenai akses transportasi dan lainnya. Rahman mengakui beberapa bulan terkahir warga sudah tak cukup sulit untuk menuju ke perkotaan. Pasalnya, pada saat itu warga secara swadaya membangun jembatan penghubung menggunakan kayu-kayu. “Kalau dulu harus menggunakan ketinting. Termasuk anak-anak sekolah juga yang mau berangkat ke kota utuk bersekolah,” jelasnya.
Untuk diketahui, berdasarkan informasi yang dihimpun awak media ini, Kampung Buluh Perindu ke depan bakal masuk dalam wacana pemekaran desa di Kabupaten Bulungan untuk mendukung terbentuknya daerah otonomi baru (DOB) Kota Tanjung Selor.
Bahkan, usulan pemekaran Buluh Perindu menjadi desa bersama dengan Tanjung Rumbia saat ini sudah masuk ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Bulungan. Hanya, usulan itu belum terealisasi karena terbentur anggaran. Sehingga Kampung Buluh Perindu hingga kini masih menjadi bagian Kelurahan Tanjung Selor Hulu. (omg/eza)
Editor : Azwar Halim