Syahrul yang merupakan atlet peraih medali emas dalam Kejurnas Pencak Silat Paku Bumi Open IV memiliki kisah hidup yang cukup menginspirasi. Mulai dari awal masuk sekolah hingga menjadi pesilat kebanggan Kaltara. Seperti apa sosok remaja ini, berikut liputannya.
RACHMAD RHOMADHANI
MENGAWALI latihan bela diri Pencak Silat Cepedi 2015 lalu. Syahrul salah seorang pelajar kelas XII di SMK Tridaya Pratama sudah menunjukan bakat yang cukup luar biasa.
Bahkan, tak tanggung-tanggung. Anak dari pasangan Nani dan Uding ini secara rutin mengikuti program latihan setiap pekan hingga enam kali. Diketahui, dalam kurun waktu setahun untuk di awal karirnya ini, di tingkat nasional ia mempu menyabet mendali emas kelas fighter pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Open di Jakarta dua tahun lalu.
Tak hanya itu, terbaru Syahrul yang menjadi salah satu perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara) dalam Kejurnas Pencak Silat Paku Bumi Open IV di Bandung, Jawa Barat. Ia juga menjadi satu-satunya atlet pencak silat yang berhasil menyumbangkan medali emas kategori fighter kelas D bagi provinsi termuda di Indonesia ini.
Kejurnas berlangsung di GOR Tri Lomba Juang, Bandung, Jawa Barat pada 2 hingga 4 Februari yang diikuti sebanyak 300 kontingen se-Asia dan Eropa.
Syahrul yang diketahui lahir di Bantaeng, Sulsel, 5 Juni 1998 ini mengakui bahwa keberhasilannya selama ini dalam meraih prestasi yang cukup gemilang tak lepas dari dukungan kedua orang tua, pelatih, guru, rekan dan semua pihak yang lain.
Selain itu, ia memiliki tekad kuat disertai dengan niat dan fokus dalam berlatih. Bahkan, menganggap latihan pencak silat menjadi makanan sehari-hari. Dan buah dari kerja kerasnya tersebut segala prestasi mampu diraihnya hingga kini.
Sementara, untuk di akademik sendiri. Syahrul yang merupakan anak kelima dari enam bersaudara juga tak ketinggalan. Di mana prestasi dari teman satu angkatannya, ia mampu mengimbangi dan membagi waktunya antara kegiatan ketarunaan, produktif kejuruan dan latihan. Bahkan, karena prestasinya selama ini, ia sempat menjabat sebagai Danton (Komandan Pleton) dalam staf batalionnya.
Sedangkan bicara kesehariannya, Syahrul yang merupakan sosok anak berdarah Sulawesi dan terbilang cukup sederhana. Bahkan, sebelum masuk di SMK Tridaya Pratama, ia sempat bekerja sebagai tukang kebun milik selama empat bulan. Sebagian penghasilannya digunakan untuk biaya hidup dengan sepupunya.
Namun, yang cukup berkenang baginya adalah adanya sosok pelatih pencak silatnya, yakni Dony Ari Yuwono S.Pd yang selalu memotivasinya. Meski diakui gaya berlatihnya cukup keras. Namun, itu dianggapnya sebagai hal biasa demi menunjang prestasinya selama ini.
“Saya dan mewakili teman-teman pencak silat bersyukur atas kesempatan yang diberikan pelatih dan sekolah untuk bisa mengikuti segala pertandingan. Dan kami pasti tidak akan menyia-nyiakan peluang ini. Itu kami buktikan dengan mampu menyaingi pesilat dari provinsi lain,” ungkap Syahrul.
Sementara, Doni Ari Yuwono menambahkan, memang atletnya itu sejak awal memiliki potensi. Syahrul dikenal tekun berlatih dan bertanggung jawab. “Di samping memang dalam pelatihan saya mengenai karakter kepribadian digenjot sejak awal sebelum merangkak ke prestasi,” ungkap Doni.
“Karena santun adalah modal bagi atletnya untuk mengembangkan prestasinya,” sambungnya.
Untuk diketahui, pesilat Kaltara lainnya sekalipun tak mampu meraih medali emas dalam Kejurnas Pencak Silat Paku Bumi Open IV. Namun mereka mampu meraih masing-masing meraih medali perak. Mulai dari Andar Tabah Dwi P di kelas C dan Riswadi bersama Triono Maulan di kategori Ganda Putra. “Ini berarti keempat pesilat yang yang mengikuti kejuaraan baru-baru ini berhasil memperoleh medali semua,” tuturnya. (***/eza)
Editor : Azwar Halim