BALIKPAPAN – Selama ini mengandalkan pendapatan dari kota jasa, Balikpapan harus bersiap mewujudkan diri sebagai kota industri. Sebagai kota penyangga dan kota terdekat dari IKN, ada peluang besar sektor industri berjalan di Kota Beriman.
Itu yang membuat raperda rencana pembangunan industri kota (RPIK) Balikpapan masih dalam tahap pembahasan.
Sekkot Balikpapan Muhaimin mengatakan, sesuai data BPS terdapat 98 unit industri kategori besar dan sedang aktif beroperasi.
Khusus klaster industri kecil menengah (IKM) makanan dan minuman mengambil porsi terbesar 44,9 persen dari total IKM yang ada di Balikpapan. Selanjutnya industri pakaian 12 persen dan sisanya kelompok industri lainnya.
Menurutnya kehadiran raperda RPIK penting untuk pengembangan industri yang terdiversifikasi melalui strategi hilirisasi komoditas nonmigas. Terutama kebutuhan diversifikasi industri pada potensi sumber daya baru dan terbarukan.
“Strategi prioritas saat ini tertuju pada industri pangan yang mengandalkan komoditas perikanan, pertanian, dan perkebunan,” katanya.
Kemudian industri aneka manfaat hasil hutan juga berpeluang bagi pelaku industri furniture, perkebunan, dan hulu agro.
Serta industri dari energi alternatif berbahan dasar nabati. Nantinya RPIK bisa melahirkan rangkaian kebijakan pemerintah yang berdampak pada beragam produk industri.
“Caranya dengan penyediaan kebutuhan infrastruktur logistik misal jalan, pelabuhan, dan kawasan industri,” tuturnya.
Muhaimin menjelaskan, pembangunan industri prioritas pangan dan hulu agro sebenarnya disiapkan untuk strategi menopang IKN. Dia mengakui, lonjakan penduduk akibat aktivitas IKN akan diiringi dengan kebutuhan pangan dan rumah tangga lainnya.
Sehingga dengan geliat industri pangan dan industri hulu agro, harapannya kebutuhan pangan di kawasan IKN akan terpenuhi.
“Industri pangan yang cukup kuat di Balikpapan saat ini industri pengolahan tepung dan produk turunannya,” tuturnya.
Industri ini kuat karena melihat pasokan bahan baku yang berasal dari Balikpapan saja hampir 14 ribu ton per tahun sejak 2020. Lalu ada industri pengolahan minyak nabati dan produk aplikasinya juga bisa memenuhi kebutuhan kawasan IKN.
Melihat ada aktivitas perusahaan pengelolaan sawit di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Kariangau.
Begitu pula untuk industri tahu tempe yang menjadi karakteristik Sentra Industri Kecil Somber (SIKS). Penguatan eksistensi kawasan industri Somber dan Teritip yang dominasi oleh industri kecil menghasilkan produk pangan.
“Ini menjadi bagian strategi pengembangan wilayah industri dalam RPIK,” sebutnya.
Harapannya industri ini bisa bekerja secara masif menguatkan industri Balikpapan yang tangguh dan andalan dalam memenuhi kebutuhan IKN. Namun perlu perhatian serius terhadap daya dukung industri Balikpapan.
Selama ini, Balikpapan masih tergantung pada industri minyak dan sumber daya tidak terbarukan.
“Tantangan menggali upaya hilirisasi dari komunitas terbarukan dan pemenuhan sarana prasarana yang relevan,” tuturnya.
Terakhir ada peluang dari produk turunan karet dan rencana investasi pembangunan pabrik di KPI Kariangau. Produksi perkebunan karet relatif besar di Balikpapan dan tambahan dari daerah sekitar penghasil karet.
Seperti Paser, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat. Komoditas karet paskapanen banyak dikirim ke luar daerah seperti Kalsel dikelola menjadi barang.
Baca Juga: Transportasi Laut Melemah, Diduga Akibat Turunnya Pembangunan di IKN
“Pembangunan pabrik karet di KPI Kariangau akan menjadi pabrik karet pertama di Kaltim yang bisa menampung bahan baku secara optimal,” ujarnya.
Termasuk produk turunan karet. Seperti industri otomotif, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga. (gel/jnr)
Editor : Azwar Halim