Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Konservasi Penyu, PEP Bunyu Field Gandeng MALIPE dan Masyarakat Balembangan

Azwar Halim • Minggu, 20 Agustus 2023 | 21:57 WIB
ISTIMEWA DILINDUNGI: PEP Bunyu Field saat belajar untuk konservasi penyu di Pulau Balembangan, Berau, Kaltim.
ISTIMEWA DILINDUNGI: PEP Bunyu Field saat belajar untuk konservasi penyu di Pulau Balembangan, Berau, Kaltim.
TANJUNG SELOR - Di Dunia, terdapat 7 jenis penyu dan 6 di antaranya terdapat di perairan Indonesia yang berasal dari dua famili yang berbeda, yakni Cheloniideae dan Dermochelideae. Sesuai regulasi, penyu ini merupakan satwa yang dilindungi.

Adapun regulasi perlindungan penyu di Indonesia tertuang dalam UU Nomor 5 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Hayati dan PermenLHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Adapun 6 jenis penyu di Indonesia itu meliputi penyu belimbing (leatherback turtle/dermochelys coriache), penyu hijau (green turtle/chelonia mydas), penyu sisik (hawksbill turtle/eretmochelys imbricata), penyu tempayan (loggerhead turtle/caretta caretta), penyu lekang (olive ridley turtle/lepidochelys olivacea) dan penyu pipih (flatback turtle/natator depresus).

Untuk belajar terkait konservasi penyu, PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field melakukan kunjungan ke Pulau Balembangan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) pada 15 Agustus 2023. Tujuannya, agar konservasi penyu tersebut dapat di replikasi di Pulau Bunyu yang merupakan area kerja PEP Bunyu Field.

Selain itu, ilmu yang telah diperoleh dapat disebarluaskan ke masyarakat melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah yang ada di Pulau Bunyu.

PT Pertamina EP Bunyu Field telah melakukan pengenalan Pulau Balembangan dimana Pulau Balembangan dikelilingi oleh terumbu karang. Hal tersebut perlu dilestarikan dengan cara tidak menginjak terumbu karang.

Nyoman Suwardi, S.E. selaku tim patroli LSM MALIPE (Maratua Peduli Penyu) di Pulau Balembangan mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan terumbu karang menjadi rusak, di antaranya melakukan penangkapan ikan dengan bom dan bius.

Namun, penggunaan bius lebih memperparah kondisi karang karena racunnya yang tersebar mengikuti arus air sehingga dapat mematikan lebih banyak terumbu karang," ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (20/8).

Sedangkan penggunaan bom menyebabkan lokasi pengeboman memiliki jejak warna air yang keruh dan mengalami kerusakan. Batas lokasi kerusakan terumbu karang tersebut dapat terlihat dengan jelas dibandingkan dengan penggunaan bius.

"Adanya penangkapan ikan dengan cara illegal tersebut menyebabkan jumlah ikan menjadi lebih sedikit karena terumbu karang sebagai rumah ikan untuk perlindungan juga menjadi berkurang," tuturnya.

Selain itu, rusaknya terumbu karang juga menyebabkan jumlah ikan menjadi lebih sedikit dan tangkapan nelayan menjadi berkurang. Perlu adanya pencerdasan kepada nelayan agar tidak menangkap ikan dengan cara illegal.

Selanjutnya, PEP Bunyu Field juga mempelajari bagaimana siklus hidup penyu dimana pada Agustus, September dan Oktober merupakan waktu ideal penyu untuk bertelur. Penyu membutuhkan waktu selama 4 jam untuk menggali lubang dan menaruh telurnya kedalam lubang tersebut.

Lamanya pengeraman pada telur tergantung pada cuaca, pada umumnya penyu dapat menetas dalam kurun waktu paling lama 60 hari. Apabila cuaca cerah maka bisa lebih cepat dan apabila cuaca hujan maka telur penyu juga membutuhkan waktu lama untuk menetas.

Apabila penyu bertelur pada zona 1 (dekat dengan bibir pantai) maka telur akan di-relokasi ke zona yang lebih aman seperti pada zona 2 (berjarak 5 meter dari bibir pantai) dengan tujuan untuk menghindari predator, menghindari gelombang yang dapat menghanyutkan telur penyu dan menghindari air laut yang dapat menyebabkan telur penyu menjadi busuk.

Adapun kedalaman pengeraman telur yaitu 80 cm dengan lebar 50 cm. Tukik yang menetas dari telur penyu, akan segera dilepaskan ke pantai pada sore hari sekitar pukul 18.00 WITA agar penyu terhindar dari predator.

Selanjutnya, terdapat 21 sektor pemantauan di sepanjang pantai di Pulau Balembangan dengan masing-masing sektor berjarak 50 meter dengan tujuan untuk mempermudah plotting atau identifikasi lokasi apabila penyu bertelur ataupun jika ada pencurian telur penyu, itu dapat diketahui dari jejak kaki.

Selanjutnya, PEP Bunyu Field juga mempelajari bagaimana cara memegang tukik yang benar agar tukik dapat bernafas dengan baik. Tukik yang baru lahir biasanya memiliki cadangan makanan untuk 3 hari yang berada di bawah perutnya. Sehingga, apabila tukik telah menetas maka pada hari tersebut tukik juga akan dilepaskan ke lautan agar bisa secara natural beradaptasi untuk bertahan hidup dengan bersembunyi di dalam terumbu karang sebelum selanjutnya dapat mencari makanan di laut lepas.

Tak hanya itu, PEP Bunyu Field juga memberikan beberapa bantuan kepada LSM MALIPE dan masyarakat seperti bantuan patroli (tenda, hammock dan matras) serta bantuan operasional untuk menunjang kegiatan konservasi penyu di Pulau Balembangan.

Muhammad Ardian selaku Ketua LSM Malipe menyampaikan terima kasih banyak kepada PT. Pertamina EP Bunyu Field yang telah berkunjung ke Pulau Balembangan dan telah memberikan bantuan yang dapat menunjang kegiatan patroli dan operasi konservasi penyu di Pulau Balembangan.

"Harapannya semoga ilmu yang telah diperoleh selama berkunjung ke Pulau Balembangan dapat disebarluaskan ke Masyarakat khususnya untuk anak-anak pada tingkat sekolah agar dapat menimbulkan rasa kepedulian dan kecintaan terhadap satwa yang dilindungi dan harapannya agar kerja sama ini dapat terus dilakukan," tuturnya. (iwk) Editor : Azwar Halim
#penyu #kaltara