TARAKAN - Komoditas minyak goreng kembali menjadi sorotan di tengah fluktuasi harga yang kerap terjadi di pasaran. Perum Bulog menegaskan perannya lebih difokuskan pada stabilisasi harga, bukan pada aspek produksi maupun ketersediaan bahan baku.
Kepala Perum Bulog Cabang Tarakan, Zamahsyari Afsolin menjelaskan, produksi minyak goreng sepenuhnya berada di tangan industri pengolahan. Karena itu, Bulog tidak memiliki kewenangan untuk memberikan pernyataan terkait kondisi produksi.
“Kalau minyak goreng itu tergantung dari pabrik. Bulog tidak bisa memberikan pernyataan terkait produksinya,” ujarnya, Minggu (29/3).
Meski tidak terlibat dalam rantai produksi langsung, Bulog tetap memiliki tanggung jawab dalam menjaga stabilitas harga minyak goreng di pasar. Peran tersebut dijalankan melalui penugasan dari pemerintah, terutama saat terjadi kenaikan harga yang berpotensi membebani masyarakat.
“Yang jelas Bulog hanya ditugaskan membantu menurunkan harga sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah,” lanjutnya.
Di sisi lain, Zamahsyari juga menyinggung kondisi ketahanan pangan nasional. Ia menyebutkan bahwa untuk komoditas beras, Indonesia saat ini telah mencapai swasembada sehingga kebutuhan dapat dipenuhi secara mandiri.
Namun, untuk komoditas lain seperti jagung dan kedelai, upaya menuju kemandirian masih terus dilakukan. Jagung ditargetkan dapat mencapai swasembada dalam waktu dekat, sementara kedelai masih menghadapi keterbatasan produksi dalam negeri.
“Kalau jagung mungkin targetnya tahun ini bisa swasembada. Tetapi kalau kedelai memang masih belum,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Bulog terus berperan menjaga keseimbangan pasar, khususnya melalui intervensi harga agar komoditas strategis tetap terjangkau oleh masyarakat. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT