TARAKAN – Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momentum menyalakan kembali semangat kerja keras dan keberanian mengambil langkah besar. Perayaan Imlek 2577 di Tarakan pun dimaknai demikian, dengan simbol Kuda Api yang diyakini membawa energi kuat, penuh gairah, dan dorongan untuk bergerak maju.
Saat dikonfirmasi, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Tarakan Ayi Diyanto menerangkan, pelaksanaan ibadah tahun ini berlangsung khidmat dengan jumlah jemaat diperkirakan sekitar 600 orang.
“Pelaksanaan ibadah tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Sementara pagi ini merupakan ibadah rutin bulanan, karena dalam Konghucu ada dua kali ibadah wajib setiap bulan,” ujarnya, Selasa (17/2).
Ia menambahkan, rangkaian perayaan dilanjutkan pada malam hari dengan pertunjukan barongsai yang lebih dulu melakukan ritual penghormatan di kelenteng sebelum tampil. Tradisi tersebut, menurutnya, menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek hingga Cap Go Meh.
“Tiap tahun barongsai selalu ada. Sebelum tampil, mereka mohon permisi di kelenteng sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan leluhur,” jelasnya.
Tahun ini dalam penanggalan Tionghoa dikenal sebagai Tahun Kuda Api. Ayi menerangkan, kuda melambangkan kebebasan, kekuatan, kecepatan, dan kerja keras. Sementara elemen api mencerminkan energi, ambisi serta semangat transformasi.
“Kuda itu hewan tangguh dan kuat di medan apa pun. Api melambangkan energi dan gairah. Jika dimanfaatkan dengan tepat, energi ini mendorong kemajuan besar. Tapi tanpa keseimbangan juga bisa memicu keputusan yang tergesa-gesa,” terangnya.
Dikatakan Ayi, kombinasi Kuda dan Api menciptakan simbol yang penuh daya dorong. Tahun ini dinilai sebagai momentum tepat untuk mengambil langkah strategis dalam karier maupun usaha, dengan tetap menjaga kendali diri dan keharmonisan.
Selain simbol Kuda Api, perayaan tahun ini juga mengusung tema "Harmoni Imlek Nusantara" dengan logo melambangkan keberagaman dan persatuan Indonesia. Tema Harmoni Imlek Nusantara menegaskan bahwa Imlek bukan hanya tradisi milik komunitas tertentu, melainkan bagian dari kekayaan budaya nasional yang tumbuh dan dirayakan bersama seluruh masyarakat Indonesia.
Konsep ini menonjolkan nilai kebangsaan dengan memadukan identitas budaya, warisan tradisi, dan semangat kemajuan zaman. "Tema ini menegaskan semangat persatuan dalam keberagaman, sejalan dengan karakter bangsa Indonesia. Pemerintah memosisikan perayaan Imlek sebagai ruang kebersamaan lintas budaya dan identitas," katanya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMT) Tarakan, Juferson Thomas, menyampaikan rasa syukur karena perayaan berlangsung lancar. Ia berharap Imlek tahun ini menjadi refleksi untuk memperbaiki kualitas kehidupan umat, baik secara spiritual maupun ekonomi.
“Semoga tahun ini membawa keberkahan dan memberi warna kehidupan yang lebih terang. Kami berharap shio Kuda Api memberi kelancaran dalam bisnis dan pekerjaan,” katanya.
Menurutnya, setiap perayaan Imlek selalu memberi motivasi baru. Tradisi makan bersama keluarga usai ibadah dan open house tetap menjadi bagian penting dalam merawat silaturahmi. Lanjutnya, Ia menilai makna Kuda Api relevan dengan kondisi saat ini. Ketangguhan dan kerja keras, katanya, menjadi kunci menghadapi tantangan ekonomi.
“Tahun kuda api melambangkan kekuatan, kemandirian, dan kepemimpinan yang proaktif. Ini momentum untuk bekerja lebih giat, mengejar kemajuan, serta mengambil keputusan penting demi kemajuan bangsa dan negara,” katanya.
"Sama seperti hari besar keyakinan lainnya, setelah ibadah biasanya kami makan bersama keluarga di rumah. Kemudian open house untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga, tetangga, dan rekan. Kalau rekan-rekan media mau datang silahkan, kami menyambut dengan senang hati," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT