TARAKAN - Ratusan jemaat Konghucu di Kota Tarakan bersiap merayakan Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Tahun ini, tema Imlek yang diusung secara nasional menekankan bahwa keadilan adalah kunci menghapus kemiskinan dan menciptakan kesejahteraan bersama.
Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Tarakan, Ayi Diyanto mengatakan, tema Imlek tahun ini merupakan instruksi dari pusat dan berlaku secara nasional. Menurutnya, ajaran Konghucu menekankan bahwa pemimpin harus memiliki sikap adil dan hukum harus ditegakkan secara tetap. Bila keadilan hadir dalam pemerintahan maupun sektor swasta, maka kehidupan masyarakat akan berjalan lebih baik dan sejahtera.
“Tema tahun ini diambil dari kitab suci Konghucu. Kalau ada keadilan, tidak ada persoalan kemiskinan. Kalau tidak adil, kasihan masyarakat. Kalau adil, masyarakat paling enak. Kehidupan berjalan lancar, orang muda bisa bekerja, mencari rezeki, hidup berdampingan,” ujarnya, Senin (16/2).
Ia menilai tema tersebut relevan dengan kondisi sosial saat ini. Dalam kehidupan bermasyarakat, keadilan menjadi kebutuhan mendasar agar tidak terjadi kesenjangan. Prosesi ibadah menyambut Imlek di Tarakan sejatinya sudah dimulai sejak dua hingga tiga pekan sebelum puncak perayaan. Umat secara bergantian datang ke tempat ibadah untuk berdoa menyambut tahun baru.
Ayi menjelaskan, penanggalan Tionghoa berbeda dengan kalender Masehi. “Di masyarakat selalu ada persoalan kalau tidak adil. Karena itu keadilan penting, baik di pemerintahan maupun swasta. Tanggal 16 sore dan malamnya puncak penyambutan. Tanggal 17 baru masuk tahun baru. Kalender Cina masih 2025, nanti baru masuk 2026,” jelasnya.
Berbeda dengan ibadah agama lain yang memiliki jadwal serentak, ibadah dalam tradisi Konghucu berlangsung fleksibel. Umat dapat datang dan pulang sesuai kesempatan masing-masing tanpa terikat waktu tertentu.
Lanjutnya, Pada malam puncak perayaan, panitia menghadirkan atraksi barongsai sebagai bagian dari tradisi penyambutan tahun baru. Sekitar delapan barongsai dijadwalkan tampil memeriahkan suasana. Dari sisi keamanan, pihaknya berkoordinasi dengan aparat. Setiap tahun, pengamanan dilakukan oleh jajaran kepolisian untuk memastikan ibadah berjalan lancar.
“Tidak ada aturan jam harus selesai. Datang silakan, selesai boleh pulang. Jadi tidak menumpuk. Dari Polres turun pengamanan. Ada juga pemeriksaan lokasi oleh tim terkait untuk memastikan situasi aman,” katanya.
Ia menyebut, selama ini kondisi perayaan Imlek di Tarakan berlangsung kondusif. Arus lalu lintas di sekitar lokasi ibadah pun dinilai tidak menjadi persoalan karena kedatangan umat tidak bersamaan dalam satu waktu. “Masyarakat datang bergantian, jadi tidak ada antrean panjang,” jelasnya.
Diungkapkannya, memasuki Tahun Kuda dalam kalender Tionghoa, Ayi menyampaikan pesan kepada warga Tionghoa di Tarakan agar lebih giat bekerja dan bijak mengelola keuangan. Adapun terkait fasilitas tempat ibadah, ia menilai kondisinya sudah cukup memadai. Bahkan sebelumnya telah mendapat bantuan renovasi lantai dari pemerintah kota.
“Kemarin dapat bantuan dari pemkot untuk perbaikan. Mudah-mudahan ke depan bisa ada renovasi lagi,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT