Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Terus Tekan Stunting, Daerah Ini Jadi Kendala Dinkes Tarakan

Zakaria RT • Rabu, 31 Desember 2025 | 19:04 WIB
Kepala Dinkes Tarakan dr Devi Ika Indriarti M.Kes
Kepala Dinkes Tarakan dr Devi Ika Indriarti M.Kes


TARAKAN – Tingginya mobilitas dan perpindahan penduduk menimbulkan kendala dalam penanganan stunting di Kota Tarakan. Hal tersebut lantaran perpindahan penduduk membuat pemerintah tidak dapat melakukan kontrol secara penuh pada bayi hamil dan bayi yang lahir. Alhasil penanganan sulit dilakukan secara optimal.

Hal itulah yang diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan dr Devi Ika Indriarti, di mana ia menyebut sebagian besar kasus stunting masih ditemukan di wilayah pesisir seperti Pantai Amal dan Selumit Pantai. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika sosial masyarakat pesisir yang cenderung berpindah-pindah tempat tinggal.

“Data stunting yang tercatat dalam sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM) bersifat by name dan by address. Tapi kondisi di lapangan, perubahan domisili yang cepat menyulitkan petugas kami memastikan kondisi anak secara berkelanjutan. Mobilitas di wilayah pesisir cukup tinggi. Anak yang sudah terdata dalam sistem kadang sudah tidak lagi berada di alamat awal saat petugas turun melakukan verifikasi,” ujar Devi, Rabu (31/12).

Diungkapkannya, selain persoalan mobilitas, tingkat kunjungan ke posyandu di kawasan pesisir juga belum sepenuhnya optimal. Sebagian orang tua belum rutin membawa anak untuk ditimbang dan diukur tinggi badannya setiap bulan, sehingga potensi stunting tidak terdeteksi sejak dini.

"Yang menjadi kendala kata dia, intervensi tersebut sulit berjalan maksimal apabila keluarga berpindah tempat sebelum proses pendampingan selesai. Kami fokus pada intervensi dini, terutama pada lima tahun pertama kehidupan anak yang merupakan masa emas pertumbuhan,” urainya.

"Sementara pemantauan rutin melalui posyandu menjadi kunci pencegahan stunting. Pengukuran berat dan tinggi badan secara berkala dapat mendeteksi kekurangan energi kronis sebelum berkembang menjadi stunting permanen," lanjutnya.

Dijelaskannya, stunting tidak bisa diperbaiki secara instan dari sisi tinggi badan. Namun, penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah dampak lanjutan terhadap perkembangan kecerdasan anak yang dapat memengaruhi prestasi belajar dan masa depan.

"Saat ini prevalensi stunting di Kota Tarakan tercatat sekitar 4,58 persen dari anak baduta yang diperiksa. Kami terus mengupdate perkembangannya untuk memastikan kawasan pesisir tetap menjadi fokus utama dalam upaya pengendalian stunting di Tarakan," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #dinkes #stunting