Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Minimalisir Anak Putus Sekolah, Disdik Kota Tarakan Merilis Aplikasi SIAPLAH

Radar Tarakan • Jumat, 21 Juni 2024 | 10:11 WIB

 

Tamrin Toha Kepala Disdik Tarakan FOTO:AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Tamrin Toha Kepala Disdik Tarakan FOTO:AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM dan meminimalisir anak putus sekolah, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan merilis aplikasi SIAPLAH untuk mengakomodir anak putus sekolah. Diketahui, Siaplah' merupakan sistem informasi pendataan pembelajaran yang memberikan kemudahan bagi sekolah, siswa, dinas kebudayaan provinsi kabupaten/kota, Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil Kaltara, kabupaten/kota dalam menerima update data siswa yang terintegrasi dalam satu layanan dashboard pendataan. Nantinya melalui aplikasi SIAPLAH akan mendata anak putus sekolah di Tarakan, Kaltara yang berusia dari 7 tahun sampai 18 tahun.

Kepala Disdik Tarakan Tamrin Toha menjelaskan, aplikasi SIAPLAH merupakan kebijakan Disdik Tarakan dalam rangka peningkatan layanan aksesbilitas pendidikan non formal yang maju, transparan, akuntabel serta partisipatif. Diharapkan dengan aplikasi ini tidak ada lagi istilah anak putus sekolah di Tarakan.

"Untuk aplikasi SIAPLAH ini akan disebarkan ke masyarakat melalui tingkat kecamatan, kelurahan dan RT. Nantinya akan bertugas menyampaikan kepada orang tua yang memiliki anak putus sekolah untuk mengisi kuisioner yang ada dalam sistem aplikasi," ujarnya, Kamis (20/6).

"Berdasarkan data Kemendikbud, ada database terkait anak putus sekolah dan tidak melanjutkan sebanyak 4.000 anak di Tarakan sehingga ini dibutuhkan untuk verifikasi di lapangan. Dengan verifikasi di lapangan khususnya anak-anak yang bersangkutan, Disdik Tarakan bisa memperoleh data dan informasi keinginan anak-anak. Misalnya, ketika dia mau kembali ke sekolah ke non formal apakah paket A, B dan C atau lembaga kursus dan pelatihan, maka akan diakomodir,” sambungnya.

Saat ini di Tarakan terdapat 14 satuan pendidikan (SP). Lanjutnya, berdasarkan data residu Kemendikbudristek jumlah anak putus sekolah di Tarakan sebanyak 4.000. Dan menurutnya, jumlah tersebut bisa saja telah berubah karena perkembangan kondisi. Sehingga diperlukan sistem seperti Aplikasi SIAPLAH untuk mengupdate status pendidikan anak di Tarakan.

"Saat ini dari data Kemendikbud ada 4.000 anak yang putus sekolah. Tapi bisa saja sekarang ada anak yang sudah keluar meninggalkan Tarakan pindah ke daerah lain apakah sudah bersekolah di tempat tujuan belum diketahui. Kemudian lanjutnya secara teknis, untuk sosialisasi sudah disebarkan melalui group WA dan tinggal nanti dimonitoring sejauh mana pendataan ini di-update," tuturnya.

"Apakah sudah sampai ke anak-anak putus sekolah masuk database. “Kami berharap dari kelurahan minta bantuan ke RT, bisa sebarkan ke warganya tentu kan ada group WA, masyarakat bisa mengakses itu, bisa melihat anak yang putus sekolah apakah ada namanya di situ, lalu dia isi kuisioner,” jelasnya.

Adapun mengenai jika ada anak yang putus sekolah namun tidak masuk dalam database,l Kemendikbud, lanjutnya nanti akan didaftarkan dalam aplikasi sebagai data baru. Nantinya diimput melalui aplikasi dan diharapkan RT melaporkan ke kelurahan dan sampai ke Disdik pelaporannya. Ia menduga saat ini masih ada RT yang tidak melaporkan anak putus sekolah di lingkungannya karena berbagai faktor.

"Bisa jadi masih ada anak yang putus sekolah belum teridentifikasi karena belum masuk dalam KK RT. nanti diharapkan ada data sendiri laporan RT, kelurahan, dan kecamatan. Secara keseluruhan tujuan dari kegiatan ini untuk mengakomodir juga anak pedagang asongan yang kerap masih ditemukan di beberapa titik di Tarakan. Jika diketahui putus sekolah dan masih berusia di kisaran 7 tahun sampai 18 tahun maka harus dimasukkan dalam database aplikasi.

“Jadi bukan SD dan SMP saja tapi SMA juga karena kami sediakan paket C juga dikelola Disdik melalui Sanggar Kegiatan Belajar. Harapan kami hasil pemetaan tadi bisa melihat di sistem, kesulitan apa anak-anak kita, pembiayaan misalnya melalui kebijakan Pemkot mudah-mudahan bisa menyediakan biaya operasional pendidikan khusus pendidikan nonformal,” jelsnya. (zac/lim)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #Disdik Tarakan #kaltara