TARAKAN – Penggunaan bus sekolah untuk setiap anak sekolah memang sangat terbatas. Bus sekolah yang jumlahnya hanya 4 unit juga harus dibagi di setiap wilayah, salah satunya ke Sekolah Luar Biasa (SLB).
Adanya keterlambatan pengantaran yang dilakukan terhadap anak SLB memang terlihat pada Sabtu (19/1) lalu, dan ternyata dikarenakan sopir yang sedang sakit dan tidak memiliki penggantinya. “Terkadang memang sopir itu ada halangan, mungkin BBMnya habis, atau karena sakit. Jadi masih perlu untuk dicarikan pengganti lagi,” kata Wiranto, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tarakan.
Selama ini diakuinya tidak ada masalah terkait pengantaran dan penjemputan setiap anak sekolah. Baik di SLB maupun sekolah umumnya. Jikalau juga ada keterlambatan tentunya karena adanya kendala lain, seperti bahan bakar yang kehabisan ataupun sopir yang sakit.
Diakuinya bus sekolah memang dibagi dan dibantu dengan BRT untuk mempermudah pengantaran. Selama ini bus sekolah sangat terbatas dengan jumlah yang hanya 4 unit. Sehingga BRT digunakan untuk membantu mengantarkan dan menjemput anak sekolah khususnya yang berada di bagian Tarakan Timur.
Dari empat bus sekolah, tiga digunakan untuk melayani bagian Tarakan Utara, sedangkan hanya satu melayani bagian Tarakan Timur. Sehingga seperti biasa dibantu oleh BRT untuk melayani Tarakan Timur. “Nantinya, tetap tiga melayani wilayah utara, dan satu ke wilayah timur. Tetapi frekuensi pengantaran dan penjemputan akan dikerahkan lebih intens. Ke utara sampai tiga itu karena digunakan untuk SLB, dan banyak juga sekolah yang harus dilewati,” ungkapnya membandingkan dengan wilayah timur hanya satu sekolah saja yang bisa dilewati.
Sebab, bus sekolah hanya sampai di SMPN 10 Tarakan saja, dan tidak sampai di wilayah Tanjung Batu. Berbeda dengan BRT yang sampai ke sekolah yang berada di tanjung Batu. “Karena itu mereka membantu kami, karena ada juga yang tinggal di Tanjung Batu bersekolah ke kota,” ujarnya. (*/naa/fly)
Editor : Azwar Halim