TARAKAN - KRI Tarakan 905 kali pertama tiba di Kota Tarakan pukul 07.00 WITA. KRI Tarakan merupakan karya anak bangsa yang diproduksi oleh PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari Jakarta.
KRI Tarakan 905 memiliki panjang 122,5 meter lebar 8,5 meter dengan draft atau sarat air maksimal 6,5. Dengan begitu KRI Tarakan 905 mempunyai kemampuan yang berbeda dari kapal lainnya. Yakni kemampuan replenishment at sea atau mampu mengisi kapal lain sambil berlayar. Selain itu bisa melakukan operasi maupun taktis lainnya.
"Karena dilengkapi dengan geladak helikopter, kapal ini juga mempunyai fungsi sebagai kapal komando, dan mendukung kegiatan SAR dan lainnya," kata Letkol Laut (P) Yohanes Upang Irawadi, komandan KRI Tarakan yang ke tiga.
Nama KRI Tarakan diambil dari nama Kota Tarakan, karena Kota Tarakan itu sudah terkenal sejak zaman penjajahan Belanda. Di mana Tarakan dikenal sebagai penghasil minyak. Bahkan minyak di Tarakan itu berbeda dengan minyak di wilayah lain, yang jika diambil langsung bisa digunakan.
Kapal ini juga dikenal sebagai kapal kelas tanker, yang digunakan untuk mengangkut BBM, atau di lingkungan TNI Angkatan Laut dinamakan bantu cair minyak (BCM). Jadi tugas pokok dari KRI Tarakan adalah melaksanakan hubungan logistik, jadi bisa mendukung bahan bakar, mendukung air tawar, spare part, kemudian amunisi dan lain sebagainya.
“Jadi mendukungnya sambil melaksanakan pelayaran, jadi tidak harus berhenti tetapi sambil berjalan,” tutur Alumni Akademi Angkatan Laut lulusan 1999 ini.
Kapal ini mempunyai kapasitas angkut maksimal 5.500 metrik ton. Namun untuk kepentingan sendiri juga bisa mengangkut 1.200 metrik ton. Jadi kalau total secara keseluruhan bisa mengangkut 6.700 metrik ton.
Saat ini sedang melaksanakan operasi keamanan laut. Jadi kapal ini digunakan sebagai kapal markas, digunakan sebagai pengendali dari kapal-kapal yang lain. Jadi ada beberapa kapal dikendalikan lewat KRI Tarakan.
“Jadi melaksanakan operasi keamanan laut di sini, pada umumnya nama operasinya yakni Martil Sakti,” jelasnya.
Kapal KRI Tarakan ini memang murni hanya untuk keamanan laut, berbeda dengan operasi gugus tempur laut, karena ini namanya gugus keamanan laut. Kalau gugus tempur laut ada di KRI Ahmad Yani yang saat ini sedang ada di Nunukan. Kalau gugus tempur laut memang operasi perbatasan seperti permasalahan ambalat dengan Malaysia. Sedangkan KRI Tarakan murni hanya untuk keamanan.
Kapal KRI Tarakan dibuat di Jakarta, sudah ada semenjak tahun 2011. Kemudian tahun 2014 itu sudah pernah diresmikan oleh Menteri Pertahanan. Namun saat itu belum siap karena belum selesai, tetapi hanya digunakan untuk sailing pass. Tetapi secara resmi masuk ke jajaran Komando Armada II pada tanggal 8 Agustus 2016.
“Jadi usianya masih termasuk kapal baru, ini juga dibeli dengan uang rakyat pada tahun 2016 senilai Rp 224.875.313.000,” ungkapnya.
Jadi karena dibeli menggunakan uang rakyat, sehingga siapa pun dapat berkunjung. Sebenarnya, untuk KRI itu siapa saja yang ingin memasuki diperbolehkan, dan tentunya selalu terbuka. Bahkan untuk pelajar diperbolehkan sebagai bahan pembelajaran. Hanya karena di Pelabuhan Malundung cukup padat, sehingga sulit dan kurang nyaman untuk berkunjung.
KRI Tarakan berada di Kota Tarakan hingga 3 hari. Diakuinya, kapal tanker KRI Tarakan menjadi kapal paling canggih saat ini, karena memiliki kecepatan di atas 14 knot. Bahkan bisa mengisi di tengah laut sambil berjalan tanpa harus berhenti. Sambil berjalan dengan kecepatan 14 knot, berdekatan jarak 50 meter dengan kapal lainnya, lalu mengirim selang dan bisa mengirimkan air maupun bahan bakar secara bersamaan.
“Jadi dalam waktu 40 menit saja, mampu mengisi sekitar 100 kiloliter,” tutupnya. (*/naa/lim)
KRI Tarakan 905 Bersandar Pertama Kali
Editor : Azwar Halim