Tidak dapat dipungkiri lagi, karya seni sastra memang hampir tertinggal oleh pesatnya perkembangan zaman. Generasi muda seakan hanyut dalam kecanggihan teknologi. Indonesia patut berbangga karena masih ada anak muda yang memiliki minat pada perkembangan sastra. Rendy Aditya Paraja, sastrawan muda asal Provinsi Kaltara berhasil mewakili Indonesia dalam ajang Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) pada 12 hingga 18 Agustus lalu di Jawa Barat.
Mega Retno Wulandari
Berbicara soal sastra memang tidak pernah lepas dari sosok Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, dan sejumlah tokoh Sastrawan Indonesia yang lainnya. Minat kawula muda terhadap sastra memang tidak sebanyak dulu.
Berbeda dengan Rendy, karena kegemarannya terhadap sastra, dia beruntung menjadi satu dari dua wakil Indonesia dari Provinsi Kaltara, untuk menjadi perserta dalam Mastera 2018 dalam kategori cerpen.
Diceritakan Rendy, dirinya pertama kali mendapatkan informasi pendaftaran peserta Mastera 2018 pada pertengahan Mei lalu, tidak berpikir lama, Rendy pun mengirimkan karya cerpen miliknya, yang sudah pernah dimuat untuk melengkapi syarat menjadi calon peserta Mastera 2018. Tentunya melalui proses seleksi yang panjang dan cukup ketat.
“Sebernarnya kategori Mastera ini ada lima terdiri dari novel, cerpen, drama, essay, dan puisi. Kebetulan tahun ini cerpen jadi sebelum ke sana, saya dapat informasi awal Ramadan, diminta untuk mengirimkan cerpen atau tulisan yang sudah dimuat untuk dikirimkan beserta curriculum vittae (CV),” ujarnya.
Setelah menanti cukup lama, akhri Juli Rendy, mendapati informasi jika dia lolos seleksi, rasa tak percaya dan bangga pun menyelimuti hati Rendy saat itu. Terlebih menjadi salah satu peserta dalam kegiatan internasional tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Selain Rendy dan Ramli yang juga berasal dari Kaltara, ada sepuluh peserta lain dari sejumlah daerah di Indonesia yang juga menjadi peserta, ditambah peserta dari Brunai Darussalam, Singapura, dan Malaysia.
Kegiatan yang dimulai sejak tanggal 12 hingga 18 Agustus lalu itu, menambah wawasan Rendy seputar perkembangan sastra di tiap negara yang menjadi peserta pada Mastera 2018. Tidak hanya itu, mahasiswa Universitas Borneo Tarakan jurusan PGSD ini, juga berkesempatan membuat cerpen dengan bimbingan langsung dari para sastrawan dari negara lain seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
“Di sana kami dibagi kelompok sesuai pembimbingnya, saya satu kelompok peserta dari Malaysia dan Singapura, saya mendapat pembimbing dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Jadi kami diminta membaca cerpen masing-masing lalu mendapat penilaian, berupa kritik, dan saran,” ungkapnya.
Diakuinya, saat ajang internasional tersebut berlangsung, dia sempat kesulitan berkomunikasi dengan para peserta dari luar negeri. Sebab keterbatasan bahasa. Meski demikian, hal itu bukan menjadi halangan untuk mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya.
“Meski sama-sama berbahasa Melayu tapi saya cukup sulit memahami. Jadi cerpen yang lolos seleksi itu di sana diperiksa lagi, teknis, kedalamannya. Saya cukup banyak menerima kritik, tapi itu membuat saya paham cerita seperti apa yang mentor mau, kritik yang diberikan sangat membangun,” ucap penggemar Sastrawan Mahbub Junaidi ini.
“Belajar Membaca” menjadi judul cerpen yang membawa Rendy berhasil menjadi peserta Mastera 2018. Cerpen yang dibuatnya berdasarkan pengalaman pribadi Rendy, dituangkannya dalam sebuah cerita yang diharapkan dapat dinikmati semua orang. Meski cerpen tersebut mendapat cukup banyak kritik, mulai dari pendalaman cerita maupun teknis penyusunan bahasanya oleh para mentor.
Setelah seluruh peserta diyakini mendapatkan bekal yang cukup, diputuskan oleh para mentor para peserta membuat ulang cerpen untuk diterbitkan dalam buku Jurnal Mastera 2018, berdasarkan riset alami. Rendy pun memutuskan untuk membuat cerpen dalam bentuk surealis bertemakan manusia dan tanah air.
“Setelah cerpen diserahkan, banyak sekali dicoret-coret, revisi berkali-kali, sempat kesulitan meneruskan ide cerpen yang saya buat. Pokoknya sangat detail lah pemeriksaannya. Jadi judul yang saya buat itu ‘Memburu Weikapeh’, menceritakan tentang bagaimana manusia tidak pernah puas dengan apa yang diperolehnya diwujudkan dalam orang yang kelaparan, ada perwujudan daing yang dianggap bisa memperpanjang umur,” ceritanya.
Rendy mengakui dia tertarik pada dunia sastra belum lama ini, namun dirinya sudah menulis sejak 2015 lalu.
“Saya tertarik dunia sastra baru setahun ini, kalau menulis sudah dari 2015 lalu, tapi saya lebih tertarik bikin essay, kalau untuk cepern dan puisi baru mulai di 2017. Saya pikir fiksi itu sangat memengaruhi manusia, meskipun fiksi nilai-nilai terkandung didalamnya sangat banyak makanya saya tertarik,” sebut penulis opini “Empati Solutif Lah Kan” ini.
Untuk membuat suatu karya cerpen, Rendy mengakui tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sehingga dia tidak harus berada di tempat-tempat tertentu untuk melahirkan ide sebuah karya yang akan dituangkannya dalam tulisan.
“Jadi kalau ada ide ditampung dulu, nanti tinggal dicocokkan, lebih kepada banyak pengalaman pribadi sih, terus apa yang saya lihat dan tampak ditarik dari sudut pandang sendiri, dan yang pasti harus banyak baca buku. Jadi setiap tulisan saya tertarik membacanya dan menginspirasi saya,” jelas pengagum cerpen karya Seno Gumira Ajidarma ini.
Diakuinya saat ini minat baca seseorang pada karya sastra memang berkurang, oleh karenanya Rendy ingin melahirkan tulisan yang menarik, dengan bahasa yang mudah dipahami, dan tidak berjarak saat dibaca. Sebab, hanya cara itu yang bisa membuat orang lain kembali memiliki minat baca, dan karya sastra pun mendapat apresiasi.
“Kalau di era digital saat ini justru orang rajin, hanya saja untuk membaca karya kedalaman itu yang kurang sehingga orang itu sulit menerima sesuatu itu dengan benar, jadi ya menurut saya bagaimana mau membaca ya buatlah tulisan yang menarik, bisa dibaca dan tidak berjarak, dan seorang penulis itu syaratnya harus kreatif dan banyak membaca,” tambah pria yang rencananya tahun ini akan segara menerbitkan buku.
“Semua orang punya gaya masing-masing dalam berkarya, intinya perbanyak membaca, jadi dalam membaca itu, ada perbandingan dari bahan bacaan itu akan melahirkan paragdima baru dalam melahirkan tulisan,” akhir lelaki kelahiran 1 Januari 1992 ini. (***/nri)
Judsm: Berkarya Tanpa Terbatas Ruang dan Waktu
Editor : Azwar Halim