alexametrics
26.7 C
Tarakan
Friday, August 12, 2022

Dorong Minat Baca dengan Memperkuat Perpustakaan

TANJUNG SELOR – Sejumlah persoalan terungkap dalam rapat koordinasi (rakor) bidang perpustakaan di Tarakan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Kalimantan Utara (Kaltara), Senin (11/7).

Dalam rapat juga dipaparkan berbagai persoalan dan juga rencana strategis perpustakaan di Kaltara. Yang disinergikan dengan strategi Perpustakaan Nasional. Juga beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perpustakaan, antara lain kurangnya data dukungan perpustakaan, masih ada perpustakaan yang belum terdata, kurangnya kualitas dan kuantitas tenaga pengelola perpustakaan, belum maksimalnya keberpihakan pemangku kepentingan terhadap perpustakaan, terbatasnya anggaran untuk operasional, jumlah bahan bacaan yang masih minim, sarana dan prasarana yang masih kurang, serta masih rendah minat baca masyarakat.

Untuk mengatasi permasalahan ini, seperti disampaikan kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kaltara, Ramli, sudah ada beberapa solusi yang dilakukan. Di antaranya, memperkuat struktur kelembagaan perpustakaan dengan pembuatan peraturan daerah, peraturan gubernur, dan peraturan bupati sampai di tingkat bawahnya.

Hal yang perlu lagi ditingkatkan, lanjut dia, adanya pengembangan koleksi, update data dan pelaporan, peningkatan SDM secara kulitas dan kuantitas, peningkatan kualitas layanan (kegiatan dan sarpras), perlu adanya sinergitas program pembangunan perpustakaan dari pusat sampai ke daerah, serta komitmen bersama bahwa keberadaan perpustakaan yang juga tak kalah penting.

Mewakili Perpusnas, Kusmeri menyampaikan ada dua masalah pokok yang menyebabkan literasi secara nasional masih rendah. Masalah pertama adalah rasio ketersediaan bahan bacaan dibandingkan jumlah penduduk di Indonesia.

Baca Juga :  Dispora Harap ISSI Ikut Promosikan Pariwisata Daerah

Masalah pokok yang kedua adalah rendahnya tingkat inovasi. “Indonesia adalah negara dengan tingkat inovasi yang rendah di dunia, dengan tingkat produksi yang rendah (juga),” tambahnya.

Dua masalah ini dijadikan dasar oleh Presiden untuk merancang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang salah satunya berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan kecuali meningkatkan kualitas SDM,” katanya.

Rendahnya kualitas SDM menyebabkan Indonesia saat ini hanya berperan sebagai penyuplai bahan mentah ke negara maju. Karenanya perpustakaan harus terus memperluas aksesnya ke masyarakat untuk menciptakan manusia unggul dengan tingkat literasi tinggi, bukan sekedar literasi baca tulis, tetapi kedalaman pengetahuan seseorang yang dapat menciptakan barang atau jasa yang berkualitas tinggi yang dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Disampaikan, sesuai rencana strategis Perpustakaan Nasional, tujuan utama yang akan dicapai adalah terwujudnya budaya literasi masyarakat. Dengan sasaran strategis, terrwujudnya Perpustakaan sesuai standar nasional Perpustakaan dan berbasis inklusi sosial untuk memperkuat budaya literasi.

Dari itu, laniut Kusmeri, sasaran program yang akan dicapai antara lain; terwujudnya semua jenis Perpustakaan sesuai Standar Nasional, terwujudnya layanan prima, pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan bahan Perpustakaan dan naskah Nusantara. Kemudian ketiga, terwujudnya tata kelola dan manajemen Perpustakaan Nasional yang baik dan andal.

Baca Juga :  TPBIS Butuh Komitmen Pemangku Kepentingan di Kaltara

Kusmeri juga membeberkan, perlunya sinkronisasi dokumen perencanaan, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga secara nasional.

“Sesuai hasil rakornas, hal penting menjadi tujuan kita adalah transformasi perpustakaan untuk mewujudkan ekosistem digital nasional,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, mewakili Gubernur Kaltara, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, Staf Ahli Bidang Aparatur Pelayanan Publik dan Kemasyarakatan, Syahrullah Mursalim mengatakan, peran perpustkaan sangat penting dalam mewujudkan visi dan misi Kaltara.

Yaitu, mewujudkan pembangunan SDM yang sehat, cerdas, kreatif, inovatif, berakhlak mulia, produktifitas dan berdaya saing dengan berbasiskan pendidikan wajib belajar 16 tahun dan berwawasan.

Gubernur, kata dia, berharap agar budaya literasi di Kaltara semakin ditingkatkan. Dengan budaya literasi, maka SDM masyarakat akan semakin meningkat. Disebutkan, ada delapan tipe kecerdasan yang meliputi kecerdasan spasial atau visual, kinestetik, linguistik, intrapersonal, interpersonal, logis, musikal, dan naturalistik. Gubernur mendorong pendidikan di Kaltara agar dapat mengakomodir berbagai potensi bakat berdasarkan tipe tersebut.

Setiap orang bisa mengakselerasi lebih dari dua tipe kecerdasan tersebut. Karenanya pendidikan baik formal maupun nonformal harus dapat menyediakan sarana agar literasi dalam konteks tersebut bisa tumbuh.

“Sekolah itu harus ada sarana musik, olahraga, dan guru yang kompeten, sehingga seluruh anak bangsa kita bisa tumbuh dan berkembang dengan tipe kecerdasan yang bermacam-macam,” tekannya. (*/lim)

TANJUNG SELOR – Sejumlah persoalan terungkap dalam rapat koordinasi (rakor) bidang perpustakaan di Tarakan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Kalimantan Utara (Kaltara), Senin (11/7).

Dalam rapat juga dipaparkan berbagai persoalan dan juga rencana strategis perpustakaan di Kaltara. Yang disinergikan dengan strategi Perpustakaan Nasional. Juga beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perpustakaan, antara lain kurangnya data dukungan perpustakaan, masih ada perpustakaan yang belum terdata, kurangnya kualitas dan kuantitas tenaga pengelola perpustakaan, belum maksimalnya keberpihakan pemangku kepentingan terhadap perpustakaan, terbatasnya anggaran untuk operasional, jumlah bahan bacaan yang masih minim, sarana dan prasarana yang masih kurang, serta masih rendah minat baca masyarakat.

Untuk mengatasi permasalahan ini, seperti disampaikan kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kaltara, Ramli, sudah ada beberapa solusi yang dilakukan. Di antaranya, memperkuat struktur kelembagaan perpustakaan dengan pembuatan peraturan daerah, peraturan gubernur, dan peraturan bupati sampai di tingkat bawahnya.

Hal yang perlu lagi ditingkatkan, lanjut dia, adanya pengembangan koleksi, update data dan pelaporan, peningkatan SDM secara kulitas dan kuantitas, peningkatan kualitas layanan (kegiatan dan sarpras), perlu adanya sinergitas program pembangunan perpustakaan dari pusat sampai ke daerah, serta komitmen bersama bahwa keberadaan perpustakaan yang juga tak kalah penting.

Mewakili Perpusnas, Kusmeri menyampaikan ada dua masalah pokok yang menyebabkan literasi secara nasional masih rendah. Masalah pertama adalah rasio ketersediaan bahan bacaan dibandingkan jumlah penduduk di Indonesia.

Baca Juga :  Ini Sumber Tanah dan Air dari Kaltara yang Dibawa ke IKN Nusantara

Masalah pokok yang kedua adalah rendahnya tingkat inovasi. “Indonesia adalah negara dengan tingkat inovasi yang rendah di dunia, dengan tingkat produksi yang rendah (juga),” tambahnya.

Dua masalah ini dijadikan dasar oleh Presiden untuk merancang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang salah satunya berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan kecuali meningkatkan kualitas SDM,” katanya.

Rendahnya kualitas SDM menyebabkan Indonesia saat ini hanya berperan sebagai penyuplai bahan mentah ke negara maju. Karenanya perpustakaan harus terus memperluas aksesnya ke masyarakat untuk menciptakan manusia unggul dengan tingkat literasi tinggi, bukan sekedar literasi baca tulis, tetapi kedalaman pengetahuan seseorang yang dapat menciptakan barang atau jasa yang berkualitas tinggi yang dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Disampaikan, sesuai rencana strategis Perpustakaan Nasional, tujuan utama yang akan dicapai adalah terwujudnya budaya literasi masyarakat. Dengan sasaran strategis, terrwujudnya Perpustakaan sesuai standar nasional Perpustakaan dan berbasis inklusi sosial untuk memperkuat budaya literasi.

Dari itu, laniut Kusmeri, sasaran program yang akan dicapai antara lain; terwujudnya semua jenis Perpustakaan sesuai Standar Nasional, terwujudnya layanan prima, pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan bahan Perpustakaan dan naskah Nusantara. Kemudian ketiga, terwujudnya tata kelola dan manajemen Perpustakaan Nasional yang baik dan andal.

Baca Juga :  Dispora Harap ISSI Ikut Promosikan Pariwisata Daerah

Kusmeri juga membeberkan, perlunya sinkronisasi dokumen perencanaan, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga secara nasional.

“Sesuai hasil rakornas, hal penting menjadi tujuan kita adalah transformasi perpustakaan untuk mewujudkan ekosistem digital nasional,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, mewakili Gubernur Kaltara, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, Staf Ahli Bidang Aparatur Pelayanan Publik dan Kemasyarakatan, Syahrullah Mursalim mengatakan, peran perpustkaan sangat penting dalam mewujudkan visi dan misi Kaltara.

Yaitu, mewujudkan pembangunan SDM yang sehat, cerdas, kreatif, inovatif, berakhlak mulia, produktifitas dan berdaya saing dengan berbasiskan pendidikan wajib belajar 16 tahun dan berwawasan.

Gubernur, kata dia, berharap agar budaya literasi di Kaltara semakin ditingkatkan. Dengan budaya literasi, maka SDM masyarakat akan semakin meningkat. Disebutkan, ada delapan tipe kecerdasan yang meliputi kecerdasan spasial atau visual, kinestetik, linguistik, intrapersonal, interpersonal, logis, musikal, dan naturalistik. Gubernur mendorong pendidikan di Kaltara agar dapat mengakomodir berbagai potensi bakat berdasarkan tipe tersebut.

Setiap orang bisa mengakselerasi lebih dari dua tipe kecerdasan tersebut. Karenanya pendidikan baik formal maupun nonformal harus dapat menyediakan sarana agar literasi dalam konteks tersebut bisa tumbuh.

“Sekolah itu harus ada sarana musik, olahraga, dan guru yang kompeten, sehingga seluruh anak bangsa kita bisa tumbuh dan berkembang dengan tipe kecerdasan yang bermacam-macam,” tekannya. (*/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/