(Wartawan Senior)
SUBUH menjelang pagi, di awal Agustus, tahun 80-an. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang hendak ke pasar. Di ujung jalan itu, asap putih mengepul menyeruak di antara daun rumbia, atap kedai. Cahaya mentari menyelinap di cela-cela dinding anyaman bambu menyapa di ruang-ruang gelap tanpa penerang.
Di kedai itu, seorang wanita paruh baya terlihat sibuk: Sumindar namanya. Seorang laki-laki berpenampilan wanita. Lengkapnya, waria. Tinggi rata-rata. Rambut sebahu dibiarkan terurai. Layaknya emak-emak di kampung, Sitti tampil mengenakan sarung dan kebaya. Karena tampilannya yang feminim itu, orang-orang kampung lantas menyematkan nama “Sitti” di belakang nama aslinya: Sitti Sumindar.
Kedainya kecil. Tidak lebih dari 5x4 meter. Jauh dari kata sederhana. Lantainya terbuka tanpa lapisan semen. Di sinilah saban hari Sitti melayani pelanggannya yang hampir semua dari kalangan petani yang baru kembali dari pasar usai menjual hasil kebun.
Mereka mampir di kedai itu sekadar melepasi lelah seraya menyeruput kopi setelah berjalan jauh dari desanya. Kedai ini, ramainya hanya pagi. Orang-orang desa memang tak terbiasa ngopi sore hari. Lagian, menjelang sore kedai kopi di kampung tidak ada yang buka. Beda dengan di kota di mana kedai buka hingga sore dan malam hari.
Bagi warga kampung, nama Sitti sangat popular. Selain kopinya enak, harganya pun terukur buat dompet pelanggannya yang rata-rata petani asal pegunungan. Sitti tidak saja terkenal tapi juga ramah. Suaranya khas. Tapi kalau sudah marah, nada bariton kelaki-lakiannya muncul yang kadang membuat pelanggannya ngakak.
“Buatkan kopi setengah gelas,” ucap Lenso, lelaki berusia 60-an tahun itu kepada Sitti. Lenso dan Sitti adalah dua nama yang melegenda di kampung itu. Sangking populernya, sampai-sampai ada istilah, kucing sekampung pun juga mengenal keduanya.
Lenso bukanlah pemilik kedai, atau pemegang ‘saham’ mayoritas di kedai milik Sitti. Ia hanya penjaja perhiasan emas imitasi di pasar yang menjadi pelanggan setiap Sitti sejak lama. Di Kampung, perhiasan emas imitasi yang dijajakan Lemso dari rumah ke rumah (door to door) mereka sebut “callo’-callo’.
Orang-orang desa mengenal Lenso sebagai sosok yang sedikit mengalami keterbelakangan mental. Pendiam, dan hanya sesekali bicara ketika butuh sesuatu. Kalau jalan, agak menuunduk. Ia tidak pernah menoleh kecuali ada yang menyapanya.
Tetapi, bagi penulis, Lenso terbilang cerdas. Di kedai Sitti, harga segelas kopi di waktu itu 100 rupiah. Jadi, kalau Lenso pesan setengah gelas, bayarnya hanya 50 rupiah. Bertahun ngopi di kedai Sitti, baru kali itu Lenso minta dibuatkan kopi ‘setengah tiang’. Jadi, wajar saja kalau Sitti bertanya, “Kenapa mesannya setengah gelas?” “Uang saya cuma 50 rupiah,” jawab Lenso polos.
Sitti tertawa kecil. Maklum, barusan itu Lenso minta dibuatkan kopi dalam takaran yang tak biasa. Apa dagangannya kurang laku? Pikir Sitti mengawang. Ternyata, bukan itu alasannya. Ini strategi sang legend menjawab imbas krisis ‘ekonomi global’ yang serpihannya terasa di desa-desa.
Sitti menyeduh kopi buatannya. Aromanya menyengat dalam ruang kecil menyatu dinginnya pagi di antara orang-orang bersarung penuh canda. Lenso duduk di bangku paling pojok. Sebatang kretek di tangannya terlihat utuh tanpa asap.
Tak menunggu lama, kopi sudah tersaji. Lenso membakar ujung rokok di tangannya. Ia merogoh saku bajunya. Ia keluarkan uang 50 rupiah, lalu diberikannya pada Sitti, tanpa kata. Begitulah kebiasaan Lenso bayarnya lebih awal.
Persoalan kemudian muncul ketika Lenso beranjak dari tempat duduknya. Ia menuju sebuah meja tua, di mana, termos air panas diletakkan. Tangannya memegang gelas berisi kopi. Di meja itulah, Lenso menuang air panas ke dalam gelasnya hingga penuh.
Adegan tak biasa itu tentu saja memantik reaksi Sitti. “Kau harus banyar 100 rupiah,” nada Sitti meninggi. Para pelanggan yang tadinya asyik bergurau berubah hening. “Aku kan, pesan 50 rupiah, jadi, bayarnya 50 rupiah,” balas Lenso. Sitti tak menyerah. “Loh, itu kan, kopinya sudah satu gelas, jadi kamu harus bayar 100 rupiah,” Sitti mencoba menekan.
Lenso, yang oleh orang-orang kampung dianggap ‘beleng-beleng’, ternyata cukup cedik. Bahkan dalam hal mencari pembenaran, Lenso mungkin terbilang ahlinya. “Saya kan cuma nambah air panas, bukan kopi,” Lenso ngeles.
Seisi ruang kedai yang kebanyakan orang-orang sepuh mulai gaduh. Ada yang membenarkan kelakuan Lenso, ada pula yang menyalahkan. “Cuma na tambah ji air panas kasian, bukan kopi,” celetuk pelanggan berkopiah lusuh yang duduk dekat pintu dengan logat khas Masamba. “Tapi kan, sudah satu gelas. Jadi wajar mi kalau na bayar 100 rupiah,” kata yang lain.
Akhirnya Sitti menyerah. Ia memaklumi. Apalagi Lenso adalah langganan setianya yang sudah betahun-tahun ngopi di kedai miliknya. Meskipun, Sitti masih menyimpan satu tanda tanya besar dalam benaknya, “Siapa sesungguhnya yang salah: saya atau pelanggan setiaku, Lenso?” (*/penulis merupakan ketua DK PWI Kaltara)
Editor : Azward Halim