Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Harmoni di Perbatasan, TN Kayan Mentarang dan Masyarakat Adat Lundayeh Lestarikan Alam

Asrullah RT • Minggu, 9 November 2025 | 16:39 WIB
DOK TN KAYAN MENTARANG WARISAN BUDAYA: Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito saat berkunjung di rumah adat yang dikelola Elyas Yesaya merupakan budayawan suku adat Dayak Lundayeh
DOK TN KAYAN MENTARANG WARISAN BUDAYA: Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito saat berkunjung di rumah adat yang dikelola Elyas Yesaya merupakan budayawan suku adat Dayak Lundayeh

NUNUKAN - Kepala Balai Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang, Seno Pramudito, melakukan kunjungan ke Rumah Adat Dayak Lundayeh di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Kunjungan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kolaborasi antara pengelola taman nasional dengan masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga alam di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Rumah adat yang dikunjungi Seno dikelola oleh Elyas Yesaya, budayawan sekaligus tokoh masyarakat Suku Dayak Lundayeh yang dikenal aktif melestarikan tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal.

Bagi masyarakat Lundayeh, rumah adat bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol persatuan, identitas, dan hubungan yang erat antara manusia dengan alam.

Seno menjelaskan, kunjungan ini tidak hanya sebagai bentuk silaturahmi, tetapi juga menjadi wadah untuk berdiskusi mengenai berbagai langkah nyata dalam menjaga keseimbangan antara konservasi alam dan pelestarian budaya lokal.

“Kami membahas tentang pentingnya pelestarian budaya, penguatan kearifan lokal, serta upaya menjaga hutan di wilayah perbatasan. Bapak Elyas Yesaya juga menekankan nilai-nilai adat Lundayeh yang sejak dulu mengajarkan hidup selaras dengan alam, tidak merusak, tetapi merawat,” ujar Seno Pramudito, Minggu (9/11).

Seno menjelaskan, Balai TN Kayan Mentarang memandang masyarakat adat sebagai mitra strategis dalam konservasi. Sebab, masyarakat adat telah berabad-abad hidup berdampingan dengan hutan, mengandalkan alam tanpa merusaknya, serta memiliki aturan adat yang kuat untuk melindungi lingkungan.

“Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang bukan hanya memiliki kekayaan alam luar biasa seperti keanekaragaman hayati, hutan hujan tropis, dan ekosistem yang masih terjaga. Namun di balik itu, tersimpan warisan budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat adat di sini,” tambahnya.

Lebih lanjut, Seno menegaskan pentingnya membangun sinergi konservasi berbasis budaya lokal, yakni pendekatan pengelolaan taman nasional yang menggabungkan nilai-nilai ekologis dengan nilai sosial dan budaya masyarakat adat. Dengan begitu, upaya pelestarian tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat jati diri dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Sementara itu, Elyas Yesaya menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menyebut, hubungan antara masyarakat adat dan pengelola taman nasional perlu terus dijaga dalam semangat saling menghormati dan saling belajar.

Menurutnya, masyarakat Lundayeh memiliki banyak praktik adat yang sejalan dengan prinsip konservasi, seperti larangan menebang pohon di wilayah tertentu, pengaturan pembukaan ladang secara bergilir, serta tradisi ritual yang menghormati alam.

“Bagi kami, hutan adalah sumber kehidupan. Alam bukan untuk dieksploitasi, tetapi dijaga seperti menjaga keluarga sendiri. Nilai-nilai itu sudah diwariskan oleh leluhur kami,” tutur Elyas.

Taman Nasional Kayan Mentarang sendiri merupakan salah satu kawasan konservasi terbesar di Indonesia, dengan luas mencapai lebih dari 1,3 juta hektare. Kawasan ini mencakup hutan hujan tropis pegunungan, lembah sungai, dan dataran tinggi Krayan yang menjadi habitat berbagai spesies langka, termasuk orangutan, macan dahan, dan burung enggang.

Selain kekayaan alamnya, wilayah ini juga dihuni berbagai kelompok masyarakat adat seperti Dayak Lundayeh, Kenyah, dan Sa’ban, yang masing-masing memiliki sistem adat dan pengetahuan tradisional dalam menjaga lingkungan.

Kolaborasi antara Balai TN Kayan Mentarang dan masyarakat adat telah terjalin dalam berbagai bentuk, mulai dari program pendidikan konservasi, pelatihan ekowisata, hingga pengembangan ekonomi berbasis hasil hutan non-kayu seperti madu, rotan, dan tanaman obat tradisional.

Seno menekankan bahwa keberhasilan konservasi tidak bisa dicapai hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi harus tumbuh bersama dengan partisipasi dan kepemimpinan masyarakat lokal.

“Upaya pelestarian akan lebih kuat bila masyarakat menjadi bagian aktif dari prosesnya. Mereka memiliki pengetahuan, pengalaman, dan nilai yang telah teruji oleh waktu,” jelasnya.

Ia berharap, melalui sinergi ini, Taman Nasional Kayan Mentarang dapat menjadi ruang hidup yang lestari, di mana alam, budaya, dan masyarakat tumbuh harmonis di perbatasan negeri.

“Kami ingin kawasan ini bukan hanya dijaga, tetapi juga diwariskan sebagai contoh bahwa pembangunan dan pelestarian bisa berjalan seiring, dengan menghormati kearifan yang sudah ada sejak lama,” pungkasnya. (akz/lim)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #nunukan #krayan