NUNUKAN – Sejumlah aturan yang diterapkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan untuk para pengunjung masih tidak diperdulikan. Salah satunya terkait larangan merokok dan membawa anak ke rumah sakit. Sebab, banyak keluarga pasien yang menjenguk bebas merokok di area rumah sakit dan membawa anak-anak atau balitanya.
Kebanyakan pengunjung justru tidak mengetahui aturan itu atau bahkan hanya ikut-ikutan dengan pengunjung lainnya. Salah satunya Intan, pengunjung RSUD Nunukan. Ia mengaku tidak mengetahui jika RSUD Nunukan melarang membawa anak. Ia juga tidak mengetahui bahaya yang mengancam buah hatinya jika berada di RSUD. “Terus terang tidak tahu, karena banyak saja yang datang bawa anak tapi tidak apa-apa,” katanya.
Selain larangan membawa anak, larangan merokok juga menurut pria yang tak ingin namanya disebutkan menilai ia berani merokok sebab pengunjung lainnya juga lebih dulu merokok. Ia juga menilai lokasi tempat ia menikmati rokoknya jauh dari ruang rawat. Selain itu lokasi terbuka. “Inikan tempat terbuka juga. Tidak sampai ke ruang rawat,” singkatnya.
Direktur RSUD Nunukan dr. Dulman mengungkapkan, pihaknya terus berupaya memberikan pemahaman kepada pengunjung untuk tidak membawa anak. Lantaran RS sangat berisiko terhadap anak. “Banyak yang belum tahu kalau bawa anak itu tidak boleh. Coba ada kacamata yang bisa melihat kuman dan bakteri, pasti tidak ada yang datang karena RS memiliki potensi menularkan infeksi yang disebarkan melalui udara. Apalagi anak-anak sangat rentan terinfeksi,” ujar Dulman kepada Radar Nunukan, Jumat (22/9).
Dijelaskan, infeksi terjadi dapat ditularkan dari petugas medis ke pasien, dari pasien ke pasien. Bahkan dari pasien ke pengunjung rumah sakit. Sehingga pihaknya mengantisipasi agar tidak terjadi. “Perawat saja bisa terinfeksi apalagi pengunjung. Jangan sampai hari ini datang ke RS mengunjungi pasien, beberapa hari kemudian kembali ke RS menjadi pasien, kan kasihan,” jelasnya.
Ia menilai upaya yang dilakukan pihaknya masih mendapatkan respons yang negatif dari pengujung. Sebab, sebagian pengunjung ketika mendapatkan teguran lebih mengedepankan emosi. Namun, itu merupakan tugas RSUD Nunukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. “Baru dikasih tahu, sudah mau ribut. Padahal apa yang kami lakukan ini untuk kebaikan masyarakat sendiri. Tapi, perlahan kami terus upayakan,” tambahnya.
Tak hanya itu, larangan merokok di sekitar RSUD Nunukan juga tak digubris pengunjung. Padahal, semua tahu bahwa area RSUD dilarang merokok. Namun hal itu sulit ditertibkan. “RS itu area dilarang merokok. Tentunya kami berharap masyarakat dapat mematuhi itu, dikarenakan tindakan pengunjung merokok di area RS merugikan dan mengganggu pasien yang sakit,” tegasnya.
Selain itu, berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP), jumlah penjaga pasien hingga dua orang. Namun, selama ini melebihi bahkan lorong RS dipenuhi pengunjung. Dengan jumlah tersebut menambah masalah baru. Di antaranya jumlah tagihan air yang harus dibayarkan RSUD meningkat. “Sejumlah pengunjung yang datang bahkan sampai mandi hingga mencuci pakaian, otomatis penggunaan air banyak. Jika ditegur, lagi-lagi lebih mengedepankan emosi untuk menanggapinya,” jelasnya. (akz/eza/ash)
Editor : Azwar Halim