
NUNUKAN - Bupati Nunukan H. Irwan Sabri menegaskan lima misi pembangunan sebagai arah kebijakan pemerintah daerah untuk mewujudkan Kabupaten Nunukan yang inovatif, sejahtera, adil, dan mandiri. Dimasa kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Nunukan, Hermanus peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, percepatan pembangunan infrastruktur yang merata menjadi prioritas.
Pernyataan itu disampaikan saat Paripurna HUT ke-27 Nunukan, Senin (12/10). Baginya, peringatan hari ulang tahun ini merupakan momentum yang sangat istimewa untuk melakukan evaluasi dan refleksi atas perjalanan Kabupaten Nunukan selama 27 tahun.
Saat pertama kali berdiri pada 1999, Kabupaten Nunukan hanya memiliki lima kecamatan. Kini, jumlah kecamatan telah berkembang menjadi 21 kecamatan. Pertambahan jumlah kecamatan ini menjadi salah satu gambaran dinamika dan perkembangan pembangunan di Kabupaten Nunukan.
Pertambahan pusat pelayanan administrasi pemerintahan tersebut juga diiringi pertumbuhan jumlah penduduk yang signifikan, dari sekitar 107 ribu jiwa pada 1999 menjadi 235.283 jiwa pada 2025. Artinya, jumlah penduduk bertambah sekitar 128 ribu jiwa dalam kurun waktu tersebut.
Pertumbuhan jumlah penduduk ini menggambarkan bahwa Kabupaten Nunukan memiliki potensi besar dan menjadi daerah yang menjanjikan bagi masyarakat untuk mencari penghidupan.
"Sebagai daerah yang terbuka, kita tidak pernah membeda-bedakan siapa pun. Apa pun agama, suku, dan latar belakangnya, silakan datang dan mencari penghidupan di Kabupaten Nunukan, sepanjang memiliki semangat yang sama untuk hidup rukun, damai, dan saling menghormati," jelasnya.
Ia menceritakan, awal berdirinya Kabupaten Nunukan kerap diidentikkan dengan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kita dianggap sebagai daerah yang masih terisolasi, miskin dan terbelakang.
Namun, stigma tersebut tidak pernah menyurutkan semangat. Sebaliknya, kondisi itu menjadi pemacu untuk bekerja lebih keras dalam mengejar ketertinggalan. Hasilnya, Kabupaten Nunukan kini semakin dikenal sebagai daerah perbatasan yang memiliki potensi besar, bermartabat dan memberikan harapan bagi masyarakatnya.
"Begitu banyak prestasi dan keberhasilan yang telah kita capai hingga hari ini. Namun, pada kesempatan yang baik ini, saya juga ingin menyampaikan bahwa masih banyak persoalan dan pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan," katanya.
Adapun pekerjaan rumah tersebut angka stunting yang masih relatif tinggi berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), belum meratanya pembangunan infrastruktur, serta indeks pembangunan manusia (IPM) yang masih perlu ditingkatkan merupakan sejumlah persoalan yang harus situntaskan bersama.



