Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Menteri ESDM: Program Lisdes Wujud Keadilan Energi Bagi Masyarakat Indonesia

Radar Tarakan • Sabtu, 20 Desember 2025 | 13:09 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat meninjau pembangunan program Lisdes di Desa Bandarjaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat meninjau pembangunan program Lisdes di Desa Bandarjaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa percepatan Program Listrik Perdesaan (Lisdes) merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam memastikan keadilan energi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Saat ini masih ada sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun yang belum menikmati listrik. Ini menjadi tanggung jawab negara dan arahan langsung Presiden Prabowo untuk kita selesaikan paling lambat 2029,” ujar Bahlil saat meninjau pembangunan Program Lisdes di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (16/10/2025) seperti keterangan tertulis Kementerian ESDM, Jumat (19/12/2025).

Pada periode 2025–2029, Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp64,09 triliun, terdiri atas Rp61,65 triliun untuk Lisdes dan Rp2,44 triliun untuk Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Program BPBL menyasar rumah tangga tidak mampu yang berada di sekitar jaringan listrik PLN namun belum dapat melakukan sambungan baru karena keterbatasan ekonomi.

Manfaat Program Lisdes dan BPBL ini nyata dirasakan oleh Ruslam (52) Warga Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Selama bertahun-tahun, Ruslam dan keluarganya hidup dalam keterbatasan cahaya. Saat malam tiba, mereka hanya mengandalkan genset kecil yang harus diberi bahan bakar setiap beberapa jam.

 “Sebelumnya saya pakai genset. Untuk enam jam harus satu liter bensin. Jadi jam sepuluh malam sudah gelap lagi,” kenang Ruslam.

Setiap malam, anak-anaknya belajar dengan penerangan seadanya. Sementara istrinya, yang biasa menjahit pakaian warga sekitar untuk menambah penghasilan, sering kali harus menghentikan pekerjaannya karena bahan bakar genset sudah habis. Dalam keterbatasan itu, Ruslam hanya bisa berharap suatu hari cahaya akan benar-benar menjadi miliknya.

“Alhamdulillah, sekarang rumah kami terang tanpa harus mikir beli bensin tiap malam. Anak-anak bisa belajar sampai malam, istri bisa menjahit tanpa terburu-buru, dan saya bisa istirahat dengan tenang,” ucap Ruslam. Matanya berkaca-kaca menahan haru.

Seperti diketahui, pelaksanaan Program Lisdes dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu perluasan jaringan listrik (grid extension), pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal berbasis mini grid, serta PLTS individual dengan baterai untuk permukiman terpencar.

“Kalau listrik masuk, anak bisa belajar, layanan kesehatan berjalan, dan ekonomi rakyat tumbuh. Inilah esensi Asta Cita Presiden dalam pembangunan energi,” pungkas Bahlil.

Sebagai bentuk pengawasan, Kementerian ESDM mengimbau masyarakat melaporkan jika menemukan pungutan liar dalam pelaksanaan BPBL melalui Contact Center 136 atau email infogatrik@esdm.go.id. (RA)

Editor : Azwar Halim
#menteri esdm #keadilan energi #Program Lisdes #indonesia