Keluhan itu disampaikan warga saat sejumlah anggota DPRD Kubar berkunjung. Ketua DPRD Kubar Ridwai berjanji membantu memperjuangkan perbaikan jalan.
“Saya sudah lihat jalur jalan yang sudah dikerjakan pemerintah tapi belum bisa dipakai. Saya perhatikan sendiri masih ada daerah yang tenggelam sampai satu meter. Jadi, saya selaku pimpinan DPRD akan dorong supaya jalan ini segera diperbaiki, agar bisa difungsikan,” kata Ridwai.
Bahkan, sepulang dari kampung tersebut, Ridwai menghampiri manajemen perusahaan tambang dan meminta mereka membuat tempat parkir untuk warga Beloan. Lantaran jalan umum kini ikut dipakai perusahaan untuk angkutan batu bara.
“Dengan jalan ini nanti masyarakat bisa dengan mudah menjual hasil perikanan mereka,” tambahnya.
Ia mengaku prihatin dengan warga yang puluhan tahun terisolasi. Menurut Ridwai, timbunan tanah di atas danau yang sudah dilakukan pemerintah harus ditambah sampai jadi jalan.
Sekretaris Kampung Muara Beloan Heri Sandi dalam pertemuan dengan ketua dewan mengaku, permintaan warga terhadap peran perusahaan dalam membantu memperbaiki jalan belum mendapat respons.
“Jalan kami belum ada. Itu menjadi kesulitan kami. Dari pihak perusahaan kita sering koordinasi tetapi sampai saat ini mohon maaf belum ada respons sama sekali. Makanya kami minta bantu bapak ketua DPRD,” kata Sandi.
Diketahui, akses melintasi anak sungai mengandalkan perahu ces atau ketinting untuk keluar dari kampung maupun ke ibu kota kabupaten. Area rawa-rawa dan banyaknya anak sungai membuat daerah yang terkenal sebagai kampung nelayan ini kian sulit membangun infrastruktur.
Tak ayal kendaraan warga harus ditinggal di pinggir Sungai Mahakam yang jaraknya lebih 10 kilometer dengan kampung. Atas kondisi itu warga menumpahkan keluhan kepada ketua DPRD Kubar saat datang menyerahkan bantuan mesin ces di Kampung Muara Beloan, Jumat (8/12). (*/luk/kri/k8/jnr) Editor : Azwar Halim