DI daerah Pulau Jawa cukup terkenal dengan keragaman kulinernya. Kuliner dengan rasa yang manis-manis pun mudah ditemukan di dalam luasan Pulau Jawa. Salah satunya aneka bubur yang cukup sederhana namun sayang dilewatkan.
Umumnya aneka bubur termasuk cocok untuk segala kondisi dan suasana. Rasanya yang gurih dengan komposisi yang terbilang ringan dan mudah dicerna, bubur ini pun cocok untuk segala usia.
Nah, sebagian bubur dapat dinikmati sekaligus. Seperti bubur sumsum dapat disandingkan dengan mutiara dan candil, menciptakan cita rasa gurih dan sensasi segar.
Tergolong sederhana, bubur ini pun mudah dibuat, sekalipun di rumah. Seperti dikatakan seorang delivery order (DO), Eka Pratiwi membeberkan, bahan-bahan yang digunakan cukup sederhana dan mudah ditemukan di pasaran.
Namun di antara bubur sumsum, candil dan mutiara, wanita berusia 28 tahun ini mengaku, bubur candil cukup ribet. Di mana adonan harus dibentuk bulat-bulat kecil. Nah, untuk campuran air yang digunakan pun harus diperhatikan. Untuk mendapatkan tekstur yang kenyal sempurna, ia memilih air hangat.
“Candil itu agak ribet, karena harus dibentuk bulat-bulat. Pakai air hangat jauh lebih kenyal dibandingkan pakai air dingin,” tutur wanita asal Purworejo, Jawa Tengah.
Tanpa bahan pengawet, aneka bubur khas dari Jawa ini pun cocok untuk semua lapisan konsumen. Untuk mendapatkan warna merah pada bubur mutiara, ia memilih tidak menggunakan bahan perwarna. Sehingga warna merah muda ini asli dari mutiara itu sendiri.
Dipadukan dengan kuah yang terbuat dari santan berpadu gula merah, aneka bubur ini pun tidak dapat bertahan lama. Diletakkan di dalam lemari pendingin dapat bertahan selama satu hari. Sementara di luar lemari pendingin hanya dapat bertahan selama 12 jam.
“Kalau merahnya terang berarti ditambahkan pewarna. Nggak pakai bahan pengawet, tapi pakai santan jadi tidak bertahan lama,” tukas pemilik akun Facebook Eka Pratiwi.(*/one/fly)
Editor : Azwar Halim