Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Beda Serat Dataran Tinggi dan Dataran Rendah

Azwar Halim • Rabu, 11 Juli 2018 | 12:21 WIB
beda-serat-dataran-tinggi-dan-dataran-rendah
beda-serat-dataran-tinggi-dan-dataran-rendah

Setiap suku di Indonesia pasti memiliki pakaian adat, sebagai salah satu warisan budaya leluhur yang harus terus lestari. Pakaian adat juga menunjukkan identitas diri setiap orang yang memakainya, sarat nilai historis yang tak ternilai harganya. Bakat talun, pakaian khas suku Adat Lundayeh, Kalimantan Utara salah satunya. Berbahan dasar kulit kayu, pakaian adat ini sudah cukup familiar di kalangan masyarakat, tidak hanya di Indonesia, tapi juga mancanegara. 



MEGA RETNO WULANDARI



PADA Festival Budaya Aco Lundayeh 2018, masyarakat Lundayeh dengan kompak bersatu mensukseskan gelaran pertama di Desa Wisata Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kaltara. itu Berbagai kesenian adat, dan tradisi budaya, ditampilkan dengan apik. 


Tidak hanya itu, sejumlah masyarakat Lundayeh juga turut mengenakan pakaian adat dengan aksesoris khas rangkaian manik-manik berwarna-warni.


Bakat talun, pakaian khas Lundayeh yang terbuat dari kulit kayu talun. Ketua tim Sekolah Budaya Lapangan, Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Krayan Ellias Yessaya, menyebut bakat talun memang biasa dikenakan saat acara adat sebagai upaya mempertahankan warisan budaya leluhur.
“Pakaian ini biasa dipakai di acara adat, supaya tradisi dan budaya leluhur tidak hilang, kita juga sebagai masyarakat Lundayeh menyambut ini dengan senang karena ini berkaitan dengan alam, sebagai sumber kehidupan kita,” ujarnya. 


Kayu talun merupakan tanaman yang hidup di hutan Borneo, baik di dataran rendah maupun tinggi. Kayu talun tidak sulit ditemukan, meski demikian kualitas setiap pohon talun tidak selalu sama. 


“Kayu talun memang ada di seluruh dataran Borneo, tapi seratnya beda kalau yang tumbuh di dataran rendah, lebih kasar. Saat ini bakat talun yang kita kenakan, berasal dari pohon talun di Krayan,” ungkapnya.


Tidak sulit mengolah kulit kayu talun, hanya perlu ketelitian ekstra. Sebab, jika salah pengolahan, kayu talun tidak akan bisa digunakan.


“Ada beberapa tahap pembuatan, satu depa itu ukurannya lebih dari dua meter, lalu diiris bagian tengahnya, dipanggang, nanti akan terbelah dengan sendirinya, setelah itu dikupas. Pembuatannya 3 sampai 4 hari diangin-anginkan saja,” jelasnya.
Biasanya bakat talun dihiasi dengan beragam aksesoris yang berasal dari alam. Yakni, kerangka hewan hasil buruan, yang dijadikan kalung, dan hiasan kepala. Namun tidak sembarang, hiasan kepala juga turut menunjukkan identitas diri pemakainya. 
“Jadi itu hiasannya itu dari alam, kerangka hewan-hewan buruan, seperti monyet, ular, dan gigi binatang buruan, siput-siput juga.  Tapi perlu diketahui, pakaian adat sehari-sehari, dan berkebun tanpa aksesoris. Kalau pakai aksesoris seperti mahkota burung erang, itu tandanya seorang pemimpin, hanya keturunan pemimpin yang bisa memakainya,” ungkapnya.


Menurutnya, pelestarian budaya merupakan suatu hal yang sangat penting. Oleh karenanya, dirinya bersama Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Krayan, turut membangun sekolah budaya. Mulai mengajarkan seni dan budaya, mengolah produk organik hasil petani lokal, termasuk menanamkan rasa kepedulian kepada lingkungan.


“Jadi tentu ini jadi harapan kami kepada generasi muda untuk lebih cinta budaya dan lingkungannya,” tambahnya.


Tidak jarang Ellias bersama rekan-rekannya, seringkali diundang untuk ikut pameran tradisi dan budaya baik di tingkat nasional dan internasional. “Kami seringkali ikut pameran tradisi dan budaya, bahkan kami perwakilan sudah pernah ke Filipina, India, dan Italia untuk ikut serta mengenalkan kekayaan budaya Indonesia,” tuturnya.


Di era modernisasi saat ini, Ellias mengaku cukup bangga kepada generasi muda atas apresiasi kepada kebudayaan lokal. Hal itu dapat dilihat dari produksi nilai jual aksesoris dan berbagai ornamen kebudayaan meningkat setiap tahunnya. (***/lim)


Beda Serat Dataran Tinggi dan Dataran Rendah

Editor : Azwar Halim