alexametrics
26.7 C
Tarakan
Friday, August 12, 2022

Menkes Salurkan Obat Gratis Bagi Penderita HIV AIDS

TARAKAN- Dukungan pemerintah terhadap kesembuhan para penderita HIV AIDS semakin terlihat. Melalui Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah diarahkan untuk menyiapkan obat bagi penderita dan pengecekan HIV AIDS secara gratis.

Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Tarakan, Bahriyahtul Ulum mengatakan bahwa hal ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap penderita HIV AIDS yang cenderung mendapat stigma rendah dimasyarakat.

“Sudah berjalan lama hal ini. Bahkan bukan dukungan dari Dinkes saja, tapi juga dari Puskesmas. Ada penyapa lapangan juga yang bertugas jangkau populasi risiko. Kemudian ada kegiatan rutin diperiksa, kelompok risiko ini dijaring. Kami akan cek smua. Setiap orang berhak tau status HIV atau tidak,” beber wanita yang akrab disapa Uul ini.

Atas hal tersebut, Uul menegaskan agar masyarakat tidak melakukan diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS. Sebab para penderita yang terpapar HIV AIDS, masih dapat beraktivitas normal dan bekerja seperti biasa.

Baca Juga :  Jokowi Bolehkan Lepas Masker,Ini Kata Jubir Satgas Covid-19 Kaltara

“HIV ini gak mudah. Dia menjalani pengobatan komitmen seumur hidup melakukan pengobatan untuk HIV dan pasti mendapatkan dukungan. Dukungannya ini bisa didapatkan dari tenaga kesehatan dan kelompok dukungan sebaya yang fokus menjalankan pengobatan,” jelas Uul.

Kasus HIV dikatakan Uul menjadi tanggung jawab bersama, khususnya dalam hal menangani stigma di masyarakat masih masih selalu mendiskriminasi mereka yang tertular.
Untuk itu dalam hal ini, tegas Uul terhadap siapapun pengidap HIV, pihaknya akan membantu menjalankan pengobatan sehingga dapat hidup layak dan kesehatan terjaga.

“Bicara stigma, jangan didiskriminasi. Siapapun bisa tertular HIV ketika dia melakukan perilaku berisiko berhubungan seksual. Jangan ada diskriminasi, orang HIV sama dengan penanganan penyakit lain, didampingi dan daparkan pengobatan sampai kualitas hidupnya terjaga karena HIV susah sembuh. HIV sama penyakit lain harus diobati agar kualitas hidup terjaga,” tegasnya.

Baca Juga :  Banyak Rokok Ilegal Beredar di Kaltara, Ini Sebabnya

Lebih lanjut dijelaskan Uul, tahapan status HIV menuju AIDS juga membutuhkan waktu. Jika berstatus HIV positif, biasanya belum memiliki gejala. Karena itu, selama itu, penderita harus menjaga kualitas hidupnya jangan sampai sakit.

“Proses penularan HIV sendiri tidak seperti Covid-19 melalui udara. HIV hanya bisa tertular pertama lewat transfuse darah, kedua hubungan seksual, ketiga bergantian jarum suntik dan terakhir dari ibu hamil yang positif HIV menularkan kepada anak,” tuturnya.

Uul juga mengatakan bahwa pihaknya memiliki program bagi ibu hamil di Tarakan, dengan harapan adanya pemeriksaan screening HIV.

“Karena ada risiko dan sudah ditangani. Yang pasti, begitu ada penemuan, dilakukan pemeriksaan. Semakin banyak diperiksa semakin banyak yang mengetahui status dirinya,” pungkasnya. (shy)

TARAKAN- Dukungan pemerintah terhadap kesembuhan para penderita HIV AIDS semakin terlihat. Melalui Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah diarahkan untuk menyiapkan obat bagi penderita dan pengecekan HIV AIDS secara gratis.

Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Tarakan, Bahriyahtul Ulum mengatakan bahwa hal ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap penderita HIV AIDS yang cenderung mendapat stigma rendah dimasyarakat.

“Sudah berjalan lama hal ini. Bahkan bukan dukungan dari Dinkes saja, tapi juga dari Puskesmas. Ada penyapa lapangan juga yang bertugas jangkau populasi risiko. Kemudian ada kegiatan rutin diperiksa, kelompok risiko ini dijaring. Kami akan cek smua. Setiap orang berhak tau status HIV atau tidak,” beber wanita yang akrab disapa Uul ini.

Atas hal tersebut, Uul menegaskan agar masyarakat tidak melakukan diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS. Sebab para penderita yang terpapar HIV AIDS, masih dapat beraktivitas normal dan bekerja seperti biasa.

Baca Juga :  Pabrik Ciu Beroperasi di Dapur

“HIV ini gak mudah. Dia menjalani pengobatan komitmen seumur hidup melakukan pengobatan untuk HIV dan pasti mendapatkan dukungan. Dukungannya ini bisa didapatkan dari tenaga kesehatan dan kelompok dukungan sebaya yang fokus menjalankan pengobatan,” jelas Uul.

Kasus HIV dikatakan Uul menjadi tanggung jawab bersama, khususnya dalam hal menangani stigma di masyarakat masih masih selalu mendiskriminasi mereka yang tertular.
Untuk itu dalam hal ini, tegas Uul terhadap siapapun pengidap HIV, pihaknya akan membantu menjalankan pengobatan sehingga dapat hidup layak dan kesehatan terjaga.

“Bicara stigma, jangan didiskriminasi. Siapapun bisa tertular HIV ketika dia melakukan perilaku berisiko berhubungan seksual. Jangan ada diskriminasi, orang HIV sama dengan penanganan penyakit lain, didampingi dan daparkan pengobatan sampai kualitas hidupnya terjaga karena HIV susah sembuh. HIV sama penyakit lain harus diobati agar kualitas hidup terjaga,” tegasnya.

Baca Juga :  DPMD Harapkan Peran Aktif Kades dan Ketua RT

Lebih lanjut dijelaskan Uul, tahapan status HIV menuju AIDS juga membutuhkan waktu. Jika berstatus HIV positif, biasanya belum memiliki gejala. Karena itu, selama itu, penderita harus menjaga kualitas hidupnya jangan sampai sakit.

“Proses penularan HIV sendiri tidak seperti Covid-19 melalui udara. HIV hanya bisa tertular pertama lewat transfuse darah, kedua hubungan seksual, ketiga bergantian jarum suntik dan terakhir dari ibu hamil yang positif HIV menularkan kepada anak,” tuturnya.

Uul juga mengatakan bahwa pihaknya memiliki program bagi ibu hamil di Tarakan, dengan harapan adanya pemeriksaan screening HIV.

“Karena ada risiko dan sudah ditangani. Yang pasti, begitu ada penemuan, dilakukan pemeriksaan. Semakin banyak diperiksa semakin banyak yang mengetahui status dirinya,” pungkasnya. (shy)

Most Read

Artikel Terbaru

/