alexametrics
28.7 C
Tarakan
Friday, August 19, 2022

Taman Nasional Kayan Mentarang, Potensi Kepariwisataan yang Tak Merusak Ekosistem

KEANEKARAGAMAN hayati yang terdapat pada Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) menjadi nilai lebih objek wisata perbatasan. Namun pengelolaan wisata tetap memerlukan konsep yang matang agar tidak merusak ekosistem di dalam TNKM.
Johnny Lagawurin menuturkan jika TNKM menyimpan berbagai satwa langka yang mungkin tidak ada di belahan bumi lainnya. Sehingga TNKM merupakan aset negara yang harus terus dijaga.

“Kalau kita bicara satwa ini kan ada yang nanya banteng kalimantan, burung enggang, primata sejenis kera, macan dahan, beruang madu, dan lain-lain. Ada ratusan satwa di dalam TNKM yang hidup liar,” ujarnya ketika masih menjabat kepala Balai TNKM, Selasa 28 Agustus 2020 lalu.

Selain menyimpan kekayaan alam melimpah, TNKM juga memiliki banyak destinasi dan sumber udara yang sehat bagi kehidupan di sekitarnya. Sehingga menurutnya, selama TNKM tetap terjaga, maka sumber udara sehat masih dapat dirasakan sampai kapan pun.

“Selain itu, ekosistemnya juga dilindungi seperti sungai atau pun goa-goa yang ada di dalam TNKM. Karena di alam ini secara alami proses fotosintensis tumbuhan itu adalah ketika manusia mengeluarkan CO2 (karbondioksida) ke udara maka tumbuhan akan menyerapnya dan ia melepaskan oksigen untuk dihirup manusia. Jadi kita bisa bayangkan begitu luasnya hutan itu begitu besarnya penyerapan karbon. Kalau hutannya gundul maka dampaknya akan kembali ke manusia,” tukasnya.

“Bagi kami sejauh ini hutan ini bukan hanya paru-paru dunia, namun nyawa kehidupan manusia. Kalau nyawanya tidak ada, maka manusia akan mati. Kalau bicara berapa persen sumbangsih TNKM bagi oksigen Indonesia tentu harus ada penelitian,” sambungnya.
Lanjutnya, menurutnya sejauh ini masyarakat dan pemerintah cukup solid dalam bersinergi menjaga kelestarian TNKM. Hal itu dibuktikan dengan komitmen masyarakat yang tetap memanfaatkan hasil alam seperlunya.

“Selain itu, masyarakat tidak memanfaatkan kayu dari TNKM ini, karena hutan di sekitar TNKM cukup banyak. Saya pernah bertanya kepada masyarakat sekitar TNKM, kalau renovasi rumah ambil kayunya di mana, mereka bilang mereka punya lahan khusus untuk mengambil kayu. Karena kalau dari TNKM cukup jauh dan sulit membawanya ke rumah membutuhkan biaya besar. Jadi sebagian masyarakat hanya memanfaatkan TNKM untuk berladang, mencari rotan dan berburu saja. Tapi tidak memanfaatkannya untuk mengambil kayu,” tuturnya. Meski demikian, keasrian TNKM sebagai tempat berjuta flora dan fauna, memberikan potensi destinasi wisata untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Meski demikian, pengelolaan tetap harus menjaga keasrian TNKM.

Baca Juga :  Dorong Pemulihan Ekonomi Nasional, Sri Mulyani Dukung Penguatan Ekspor

“Makanya saya katakan, kita jangan merasa terancam dengan instansi pusat yang ada di sini. Karena fungsi kami di sini menjaga, melestarikan, dan memberikan manfaat secara terbatas bagi masyarakat. Tapi komitmen kami dalam pengembangan destinasi ke depan, tetap memprioritaskan masyarakat adat sebagai pengelola di TNKM,” tukasnya.

Meski memerlukan konsep yang matang, namun ia menegaskan visi tersebut tetap harus berjalan untuk mengangkat identitas bangsa di mata dunia. Sehingga menurutnya, masyarakat tidak perlu takut atas visi tersebut mengingat manfaatnya akan kembali ke masyarakat.

“Jadi konsepnya, ke depan pengembangan wisata harus berbasis masyarakat adat. Jangan kita masukan korporasi, nanti masyarakat jadi penonton. Karena yang harus kita lindungi identitasnya. Wisata ke sana kan bisa diciptakan bermacam-macam. Wisata petualangan, wisata budaya atau wisata flora dan fauna melihat hewan dan tumbuhan langka di sana. Itu konsepnya. Jadi jangan berpikir pemerintah sudah menyiapkan investor besar untuk mengelola TNKM sebagai objek wisata, tidak begitu. Malah masyarakat yang akan dijadikan pelaku utama dalam mengelolanya,” pungkasnya.

Wakil Direktur WWF Indonesia Bidang Pemerintahan dan Sosial, Cristina Eghenter mengatakan, FoMMA bersama pemda dan Balai TNKM sudah bekerja sama dalam mengembangkan potensi wisata. Di sekitar th 2005-2010 WWF membantu dengan peningkatan kapasitas masyarakat untuk homestay, pemandu wisata, kurus bahasa Inggris dan lain-lain. Kemudian beberapa kegiatan terutama terkait pemandu wisata dilanjutkan oleh TNKM.

“Yang sangat menarik untuk TNKM adalah bahwa masyarakat adat terutama di beberapa daerah yang paling potensial untuk ekowisata (misalnya dataran tinggi Krayan, Pujungan dan Bahau Hulu) sudah lama menginisiasi kegiatan ekowisata berbasikan masyarakat, ada panitia ekowisata, sistim homestay, jalur wisata (day trek, overnight dalam hutan, dll) dan harganya sudah juga diatur sehingga lebih nyaman untuk turis. Kesulitan adalah di akses yang masih sulit dari Indonesia namun kondisi itu yang juga membuat TNKM kawasan yang masih asli, alami dan tujuan yang sangat cocok untuk ekowisata petualangan alam dan budaya,” ulasnya.

Baca Juga :  HUT ke-18, Pelayanan Harus Terus Ditingkatkan

Bupati Malinau, Dr. Yansen TP, M.Si, mengatakan, telah menetapkan 6 desa menjadi desa wisata. Desa Wisata Setulang, Desa Wisata Apau Ping, Desa Wisata Long Alango, Desa Wisata Pulau Sapi, Desa Wisata Budaya Serindit Malinau Seberang dan Desa Wisata Long Loreh. “Ini mari kita manfaatkan secara bijak. Dia punya ekosistem, hutan, air, sawah, yang tak terpisahkan. Marilah sekarang kita bijak dan kreatif megembangkan potensi lokal menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Bagaimana kita berfikir, bagaimana di sekitar kita.
Masyarakat dalam Taman Nasional,” ujarnya.

“Kita berharap dia mengelola itu, dan dia hidup dari situ, memelihara hutan itu. Harus ada kearifan budaya. Mereka tidak mendapatkan yang lebih besar, seperti yang kita harapkan keseluruhan fungsi hutan itu. Harusnya mereka juga mendapatkan sumbangan dari itu. Secara berdaya guna. Dengan menjaga itu dunia mendapatkan manafaat hutan. Berapa pun miliar kita keluarkan, karena mereka menjaga. Kalau rusak, malah lebih banyak,” tambahnya.

Jubir Pemkab Nunukan, Hasan Basri Mursali, juga mengungkap jika bukti dari kepedulian pemerintah baik di level pusat hingga ke daerah bersama dengan masyarakat adat, pemerintah telah menyusun masterplan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) TNKM. Mengingat kawasan TNKM ini menjadi bagian kekayaan dunia yang memiliki biodiversity yang sangat lengkap dan luas. Dan kekayaan tersebut juga telah menjadi bagian di dalam pengembangan pariwisata HoB (Heart of Borneo) 3 negara, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. “Salah satu agenda yang penting adalah pariwisata yang merupakan bagian di dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan pariwisata secara nasional bahkan global,” terangnya. (*/lim)

KEANEKARAGAMAN hayati yang terdapat pada Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) menjadi nilai lebih objek wisata perbatasan. Namun pengelolaan wisata tetap memerlukan konsep yang matang agar tidak merusak ekosistem di dalam TNKM.
Johnny Lagawurin menuturkan jika TNKM menyimpan berbagai satwa langka yang mungkin tidak ada di belahan bumi lainnya. Sehingga TNKM merupakan aset negara yang harus terus dijaga.

“Kalau kita bicara satwa ini kan ada yang nanya banteng kalimantan, burung enggang, primata sejenis kera, macan dahan, beruang madu, dan lain-lain. Ada ratusan satwa di dalam TNKM yang hidup liar,” ujarnya ketika masih menjabat kepala Balai TNKM, Selasa 28 Agustus 2020 lalu.

Selain menyimpan kekayaan alam melimpah, TNKM juga memiliki banyak destinasi dan sumber udara yang sehat bagi kehidupan di sekitarnya. Sehingga menurutnya, selama TNKM tetap terjaga, maka sumber udara sehat masih dapat dirasakan sampai kapan pun.

“Selain itu, ekosistemnya juga dilindungi seperti sungai atau pun goa-goa yang ada di dalam TNKM. Karena di alam ini secara alami proses fotosintensis tumbuhan itu adalah ketika manusia mengeluarkan CO2 (karbondioksida) ke udara maka tumbuhan akan menyerapnya dan ia melepaskan oksigen untuk dihirup manusia. Jadi kita bisa bayangkan begitu luasnya hutan itu begitu besarnya penyerapan karbon. Kalau hutannya gundul maka dampaknya akan kembali ke manusia,” tukasnya.

“Bagi kami sejauh ini hutan ini bukan hanya paru-paru dunia, namun nyawa kehidupan manusia. Kalau nyawanya tidak ada, maka manusia akan mati. Kalau bicara berapa persen sumbangsih TNKM bagi oksigen Indonesia tentu harus ada penelitian,” sambungnya.
Lanjutnya, menurutnya sejauh ini masyarakat dan pemerintah cukup solid dalam bersinergi menjaga kelestarian TNKM. Hal itu dibuktikan dengan komitmen masyarakat yang tetap memanfaatkan hasil alam seperlunya.

“Selain itu, masyarakat tidak memanfaatkan kayu dari TNKM ini, karena hutan di sekitar TNKM cukup banyak. Saya pernah bertanya kepada masyarakat sekitar TNKM, kalau renovasi rumah ambil kayunya di mana, mereka bilang mereka punya lahan khusus untuk mengambil kayu. Karena kalau dari TNKM cukup jauh dan sulit membawanya ke rumah membutuhkan biaya besar. Jadi sebagian masyarakat hanya memanfaatkan TNKM untuk berladang, mencari rotan dan berburu saja. Tapi tidak memanfaatkannya untuk mengambil kayu,” tuturnya. Meski demikian, keasrian TNKM sebagai tempat berjuta flora dan fauna, memberikan potensi destinasi wisata untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Meski demikian, pengelolaan tetap harus menjaga keasrian TNKM.

Baca Juga :  Metode Shypon

“Makanya saya katakan, kita jangan merasa terancam dengan instansi pusat yang ada di sini. Karena fungsi kami di sini menjaga, melestarikan, dan memberikan manfaat secara terbatas bagi masyarakat. Tapi komitmen kami dalam pengembangan destinasi ke depan, tetap memprioritaskan masyarakat adat sebagai pengelola di TNKM,” tukasnya.

Meski memerlukan konsep yang matang, namun ia menegaskan visi tersebut tetap harus berjalan untuk mengangkat identitas bangsa di mata dunia. Sehingga menurutnya, masyarakat tidak perlu takut atas visi tersebut mengingat manfaatnya akan kembali ke masyarakat.

“Jadi konsepnya, ke depan pengembangan wisata harus berbasis masyarakat adat. Jangan kita masukan korporasi, nanti masyarakat jadi penonton. Karena yang harus kita lindungi identitasnya. Wisata ke sana kan bisa diciptakan bermacam-macam. Wisata petualangan, wisata budaya atau wisata flora dan fauna melihat hewan dan tumbuhan langka di sana. Itu konsepnya. Jadi jangan berpikir pemerintah sudah menyiapkan investor besar untuk mengelola TNKM sebagai objek wisata, tidak begitu. Malah masyarakat yang akan dijadikan pelaku utama dalam mengelolanya,” pungkasnya.

Wakil Direktur WWF Indonesia Bidang Pemerintahan dan Sosial, Cristina Eghenter mengatakan, FoMMA bersama pemda dan Balai TNKM sudah bekerja sama dalam mengembangkan potensi wisata. Di sekitar th 2005-2010 WWF membantu dengan peningkatan kapasitas masyarakat untuk homestay, pemandu wisata, kurus bahasa Inggris dan lain-lain. Kemudian beberapa kegiatan terutama terkait pemandu wisata dilanjutkan oleh TNKM.

“Yang sangat menarik untuk TNKM adalah bahwa masyarakat adat terutama di beberapa daerah yang paling potensial untuk ekowisata (misalnya dataran tinggi Krayan, Pujungan dan Bahau Hulu) sudah lama menginisiasi kegiatan ekowisata berbasikan masyarakat, ada panitia ekowisata, sistim homestay, jalur wisata (day trek, overnight dalam hutan, dll) dan harganya sudah juga diatur sehingga lebih nyaman untuk turis. Kesulitan adalah di akses yang masih sulit dari Indonesia namun kondisi itu yang juga membuat TNKM kawasan yang masih asli, alami dan tujuan yang sangat cocok untuk ekowisata petualangan alam dan budaya,” ulasnya.

Baca Juga :  Lomba Burung Berkicau akan Dibuat Lebih Meriah

Bupati Malinau, Dr. Yansen TP, M.Si, mengatakan, telah menetapkan 6 desa menjadi desa wisata. Desa Wisata Setulang, Desa Wisata Apau Ping, Desa Wisata Long Alango, Desa Wisata Pulau Sapi, Desa Wisata Budaya Serindit Malinau Seberang dan Desa Wisata Long Loreh. “Ini mari kita manfaatkan secara bijak. Dia punya ekosistem, hutan, air, sawah, yang tak terpisahkan. Marilah sekarang kita bijak dan kreatif megembangkan potensi lokal menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Bagaimana kita berfikir, bagaimana di sekitar kita.
Masyarakat dalam Taman Nasional,” ujarnya.

“Kita berharap dia mengelola itu, dan dia hidup dari situ, memelihara hutan itu. Harus ada kearifan budaya. Mereka tidak mendapatkan yang lebih besar, seperti yang kita harapkan keseluruhan fungsi hutan itu. Harusnya mereka juga mendapatkan sumbangan dari itu. Secara berdaya guna. Dengan menjaga itu dunia mendapatkan manafaat hutan. Berapa pun miliar kita keluarkan, karena mereka menjaga. Kalau rusak, malah lebih banyak,” tambahnya.

Jubir Pemkab Nunukan, Hasan Basri Mursali, juga mengungkap jika bukti dari kepedulian pemerintah baik di level pusat hingga ke daerah bersama dengan masyarakat adat, pemerintah telah menyusun masterplan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) TNKM. Mengingat kawasan TNKM ini menjadi bagian kekayaan dunia yang memiliki biodiversity yang sangat lengkap dan luas. Dan kekayaan tersebut juga telah menjadi bagian di dalam pengembangan pariwisata HoB (Heart of Borneo) 3 negara, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. “Salah satu agenda yang penting adalah pariwisata yang merupakan bagian di dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan pariwisata secara nasional bahkan global,” terangnya. (*/lim)

Most Read

Tahapan Pembangunan Harus Terus Meningkat

Sepekan Kabur, Belum jadi DPO

Artikel Terbaru

/