Wilayah pedalaman seperi Long Pujungan umumnya memiliki keterbatasan akses infrastruktur, layanan dasar, serta konektivitas ekonomi. Kondisi geografis yang sulit dijangkau membuat pembangunan di kawasan seperti ini kerap berjalan lebih lambat dibanding daerah yang memiliki akses darat memadai.
Menurut Wiratama, hingga kini akses utama menuju Pujungan masih mengandalkan jalur sungai menggunakan longboat. Situasi itu berdampak langsung pada distribusi barang dan tingginya biaya angkut. “Karena akses kami hanya lewat sungai, semua kebutuhan jadi mahal. BBM saja di Pujungan bisa sampai Rp 20.000 per liter. Bisa dibayangkan selisihnya dengan harga di kota,” ujarnya, Sabtu (14/2).
Ia menjelaskan, mahalnya ongkos transportasi membuat harga sembako dan kebutuhan sehari-hari ikut melonjak signifikan. Hal ini menjadi salah satu kesulitan utama yang dihadapi warga, baik dari sisi ekonomi maupun pemenuhan kebutuhan dasar.
Karena itu, ia mendorong pembangunan jalan darat sebagai solusi jangka panjang. Jika akses darat bisa dibuka dan diperbaiki, distribusi barang dinilai akan lebih lancar dan biaya logistik dapat ditekan, sehingga harga kebutuhan masyarakat menjadi lebih terjangkau.
“Kami sangat berharap ada perhatian serius, baik dari pemerintah daerah maupun pusat, untuk membangun badan jalan ke wilayah kami. Kalau akses darat terbuka, ekonomi masyarakat pasti ikut berkembang,” katanya.
Sebagai kepala desa PAW, ia menegaskan tetap berkomitmen memperjuangkan kebutuhan dasar masyarakat, terutama terkait akses infrastruktur yang dinilai menjadi kunci untuk mengatasi mahalnya harga kebutuhan pokok di wilayah pedalaman dan perbatasan Kabupaten Malinau. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim