
TANJUNG SELOR - Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) belakangan, ini telah memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara, Usman mengatakan, berdasarkan data pengawasan epidemiologi, total akumulasi kasus ISPA periode Agustus-Oktober 2026 mencapai 5.541 kasus. "Beban kasus terbesar terkonsentrasi di Kota Tarakan dengsn jumlah 3.078 kasus atau sekitar 55,55 persen dari total kasus di Kaltara," ujar Usman saat dikonfirmasi, Jumat (30/10).
Kemudian disusul Kabupaten Bulungan dengan jumlah 1.680 kasus, kemudian Kabupaten Tana Tidung 415 kasus, Kabupaten Malinau 219 kasus dan Kabupaten Nunukan 149 kasus.
"Puncak lonjakan kasus terjadi pada awal September atau minggu ke-35 dengan total 1.361 kasus dalam sepekan," sebutnya.
Kurva sempat melandai hingga menyentuh titik terendah pasca-puncak di minggu ke-39 dengan jumlah 409 kasus. Namun, kasus ISPA kembali menunjukkan tren kenaikan pada minggu ke-40 sebanyak 450 kasus dan minggu ke-41 sebanyak 596 kasus.
Dari aspek demografi, kelompok usia di atas 5 tahun mendominasi kasus. Sementara untuk distribusi berdasarkan jenis kelamin mencatat proporsi perempuan sedikit lebih tinggi dibanding laki-laki.
Secara umum, penderita perempuan berjumlah 2.941 orang atau 53,08 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding penderita laki-laki yang berjumlah 2.600 orang atau 46,92 persen.
"Kabupaten Bulungan menjadi satu-satunya wilayah (di Kaltara) dengan proporsi penderita laki-laki sedikit lebih banyak daripada perempuan," sebutnya.
Usman mengaku bahwa pihaknya masih terus melakukan pemantauan serta penanganan terhadap kasus ISPA yang terjadi di provinsi ke-34 Indonesia ini.
"Kita akan lakukan edukasi kepada masyarakat mengenai perlindungan dari asap. Termasuk memastikan ketersediaan obat dan sarana pelayanan kesehatan, serta meningkatkan koordinasi pertukaran data kualitas udara dan kesehatan," pungkasnya. (iwk)



