alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

Kejari Hentikan Penuntutan Perkara JM

TARAKAN – Usai menyesali perbuatannya dan korban memaafkan tersangka yang berinsial JM, Kejaksaan Negeri Tarakan menghentikan penuntutan terhadap perkara tersebut.

JM pun pada Jumat (8/7) lalu langsung dibebaskan dari balik jeruji besi usai dibebaskan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) melalui restorative justice.

Kepala Kantor Kejaksaan Negeri Tarakan Adam Saimima menjelaskan, JM berperan sebagai penadah dalam perkara curanmor. Saat itu JM bertemu dengan saksi Agus Kurniawan di salah pangkalan ojek di Jalan Simpang Amal, Kelurahan Mamburungan. Saksi saat itu meminta tolong kepada JM untuk menjual sepeda motor.

“Motor itu milik saksi Choiril Anwar yang diambil oleh Agus Kurniawan,” kata Adam.

Saat itu JM tidak mengetahui bahwa motor tersebut hasil curian dari yang dilakukan oleh Agus. JM pun bersama Agus mendatangi salah satu bengkel di Jalan Ladang Dalam, RT 9 Kelurahan Pamusian, Tarakan Tengah. Keduanya menjual motor tersebut.

Baca Juga :  Tambang Emas Ilegal di Sekatak-Kaltara Jalan Terus, Ini Buktinya!

JM menawarkan motor itu kepada Niko. Namun Niko menawarkan lagi kepada temannya bernama Eko Kurniawan yang saat itu berada di bengkel juga. Kemudian Eko membeli motor itu seharga Rp 500 ribu.

“Setelah motor dijual Agus memberikan imbalan kepada JM sebesar Rp 100 ribu. Dengan alasan sudah membantu menjual sepeda motor tersebut. Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh tersangka,” beber Kajari.

Atas perkara ini JM dijerat Pasal 480 ayat 1 atau ayat 2 KUHP tentang penadahan atau membantu menjual hasil curian.

Melihat kejadian itu, pihaknya menunjuk Dewantara Wahyu sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menangani perkara ini. Dikarenakan ada upaya damai, maka JPU menilai perkara ini bisa didamaikan.

Baca Juga :  Istri HSB Ditanyai 55 Pertanyaan oleh Penyidik soal 1.806 Karung Pakaian Bekas

“Korban Choiril dengan hati yang besar menerima permintaan maaf dari tersangka. Mengingat anak-anak tersangka yang masih kecil. Tersangka sudah di tahan sudah hampir tiga bulan akibat terima uang Rp 100 ribu,” imbuhnya.

Alasan penghentian penuntutan karena tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana. Kemudian ancaman hukuman pidana di bawah 5 tahun. Selain itu tersangka sudah meminta maaf kepada korban dan melakukan perdamaian tanpa syarat dengan korban.

“Untuk sepeda motor akan diserahkan kepada korban, tapi karena tersangka Agus masih diproses untuk pembuktian maka sepeda motor itu dilakukan penitipan kepada korban sebagai pemiliknya,” jelasnya. (zar/ash)






Reporter: Eliazar

TARAKAN – Usai menyesali perbuatannya dan korban memaafkan tersangka yang berinsial JM, Kejaksaan Negeri Tarakan menghentikan penuntutan terhadap perkara tersebut.

JM pun pada Jumat (8/7) lalu langsung dibebaskan dari balik jeruji besi usai dibebaskan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) melalui restorative justice.

Kepala Kantor Kejaksaan Negeri Tarakan Adam Saimima menjelaskan, JM berperan sebagai penadah dalam perkara curanmor. Saat itu JM bertemu dengan saksi Agus Kurniawan di salah pangkalan ojek di Jalan Simpang Amal, Kelurahan Mamburungan. Saksi saat itu meminta tolong kepada JM untuk menjual sepeda motor.

“Motor itu milik saksi Choiril Anwar yang diambil oleh Agus Kurniawan,” kata Adam.

Saat itu JM tidak mengetahui bahwa motor tersebut hasil curian dari yang dilakukan oleh Agus. JM pun bersama Agus mendatangi salah satu bengkel di Jalan Ladang Dalam, RT 9 Kelurahan Pamusian, Tarakan Tengah. Keduanya menjual motor tersebut.

Baca Juga :  Putusan Banding, Mantan Wakil Wali Kota Tarakan Divonis Bebas

JM menawarkan motor itu kepada Niko. Namun Niko menawarkan lagi kepada temannya bernama Eko Kurniawan yang saat itu berada di bengkel juga. Kemudian Eko membeli motor itu seharga Rp 500 ribu.

“Setelah motor dijual Agus memberikan imbalan kepada JM sebesar Rp 100 ribu. Dengan alasan sudah membantu menjual sepeda motor tersebut. Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh tersangka,” beber Kajari.

Atas perkara ini JM dijerat Pasal 480 ayat 1 atau ayat 2 KUHP tentang penadahan atau membantu menjual hasil curian.

Melihat kejadian itu, pihaknya menunjuk Dewantara Wahyu sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menangani perkara ini. Dikarenakan ada upaya damai, maka JPU menilai perkara ini bisa didamaikan.

Baca Juga :  Transaksi di Depan Taman Anggrek, Polisi Juga Temukan Sabu-Sabu di Tempat Ini

“Korban Choiril dengan hati yang besar menerima permintaan maaf dari tersangka. Mengingat anak-anak tersangka yang masih kecil. Tersangka sudah di tahan sudah hampir tiga bulan akibat terima uang Rp 100 ribu,” imbuhnya.

Alasan penghentian penuntutan karena tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana. Kemudian ancaman hukuman pidana di bawah 5 tahun. Selain itu tersangka sudah meminta maaf kepada korban dan melakukan perdamaian tanpa syarat dengan korban.

“Untuk sepeda motor akan diserahkan kepada korban, tapi karena tersangka Agus masih diproses untuk pembuktian maka sepeda motor itu dilakukan penitipan kepada korban sebagai pemiliknya,” jelasnya. (zar/ash)






Reporter: Eliazar

Most Read

Artikel Terbaru

/