alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

Warga Malaysia dan WNA Lainnya Sementara Dilarang Masuk Kaltara

PEMERINTAH memutuskan menutup sementara akses masuk bagi seluruh warga negara asing (WNA) ke Indonesia. Tak terkecuali pintu masuk dari Malaysia ke Kalimantan Utara (Kaltara).

Konsul Pelaksana Fungsi Konsuler II pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, M. Muhsinin Dolisada saat dikonfirmasi membenarkan perihal penutupan akses masuk bagi WNA ke Indonesia tersebut. “Iya, benar. Tetapi, surat secara resmi kami belum terima,” kata Muhsinin kepada Radar Tarakan melalui sambungan telepon, Selasa (29/12).

Sesuai informasi dari Menteri Luar Negeri (Menlu) penutupan akses ini mulai berlaku pada 1-14 Januari 2021. “Semua WNA dilarang masuk ke Indonesia. Tidak terkecuali WNA Malaysia yang masuk ke Kaltara,” ujarnya.

Namun, kata Muhsinin, penutupan akses ini tidak berlaku bagi tamu kenegaraan setingkat menteri ke atas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. “Jadi, untuk tamu kenegaraan masih diperbolehkan masuk ke Indonesia. Tetapi harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” tegasnya.

Bagi pengawasan WNA pihaknya berpedoman pada Surat Edaran (SE) Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 4 Tahun 2020 tentang Prokes Perjalanan Orang dalam Masa Pandemi Covid-19.

Pejabat Bidang Penerangan, Sosial dan Budaya Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau, Emir Faisal memastikan, lockdown (karantina wilayah) akan terus berlangsung hingga 31 Desember mendatang. Bahkan, perpanjangan lockdown akan terus dilakukan di Malaysia akibat kembali adanya varian baru virus Covid-19.

“Masih terus lockdown hingga 31 Desember, bahkan ada potensi diperpanjang lagi,” ungkap Emir saat diwawancarai, Senin (29/12). Emir mengaku, sejumlah pelabuhan-pelabuhan di Sabah termasuk Tawau, seluruhnya masih tutup, hanya sektor ekonomi sudah mulai dibuka sejak akhir November hingga sekarang. Di Sabah, angka positif covid-19 sudah mengalami penurunan. Bahkan atas perkembangan itu, Emir juga mengaku sejumlah restoran sudah kembali dibuka di Sabah, namun tetap dengan SOP protokol kesehatan.

Imigrasi Kelas II Nunukan juga menegaskan komitmennya terhadap pengawasan masuknya WNA di Nunukan. Di sisi lain, pemerintah Malaysia memperpanjang lockdown atau karantina wilayah hingga akhir 2020. Penyeberangan internasional Nunukan-Tawau, Malaysia pun, masih terdampak tidak adanya aktivitas sejak awal Maret lalu.

Kepala Seksi Lalu Lintas dan Izin Tinggal Keimigrasian Imigrasi Kelas II Nunukan, Nugraha Agustian Syahputra mengatakan, sejatinya penutupan perlintasan tersebut, agar pencegahan masuknya varian baru dari Covid-19 sebagaimana SE Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 4.  “Ya, sebagaimana arahan dari pusat. Tentunya di perbatasan akan lebih ekstra pengawasannya,” ujar Putra sapaan akrabnya saat dikonfirmasi, Selasa (29/12).

Baca Juga :  Terbawa Gelombang dari Tengah Laut

Menurutnya, sejauh ini sudah tidak ada lagi perlintasan dari Malaysia ke Indonesia, termasuk yang di pos lintas tradisional. Ditambah lagi sebagaimana pihak negara Malaysia juga masih menutup pintu masuk keluar, Putra optimistis tidak akan ada aktivitas keluar masuknya orang khususnya lagi WNA. “Kalau soal komitmen, tentu sangat pasti. Kita pastikan tidak akan ada aktivitas masuknya WNA,” tegas Putra.

Di tempat terpisah, Kepala Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Karel mengatakan, dampak lockdown memang membuat tidak adanya aktivitas penyebrangan internasional di pintu masuk pelabuhan. Setidaknya sudah hampir 8 bulan, aktivitas penyebrangan luar negeri vakum.

“Ya, belum ada aktivitas kapal ke Tawau, aktivitas di penyebrangan internasional itu, kalau ada PMI saja dipulangkan, tapi sekarang pintu semua negara ditutup, kami yakin pasti kedepannya tidak akan ada aktivitas untuk sementara,” ujar Karel.
Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Bulungan, Ingkong Ala memastikan akan memperketat pengawasan bagi WNA yang masuk. Hal itu sebagai tindak lanjut dari SE Nomor 4 Tahun 2020. “Akan lebih diperketat. Khususnya jalur laut dan udara,” tegasnya.

Selain mengantisipasi lonjakan kasus selama cuti bersama. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi masuknya varian baru virus Covid-19 di Bulungan. “Virus jenis baru ini harus diantisipasi, apalagi tingkat penyebarannya lebih cepat,” sebutnya.
Dalam siaran pers yang diterima Radar Tarakan, Menlu, Retno Marsudi menjelaskan, adanya informasi strain atau varian baru virus Covid-19 yang menurut berbagai data ilmiah memiliki tingkat penyebaran lebih cepat, pemerintah memutuskan untuk menutup sementara masuknya WNA ke Indonesia sebagai upaya pencegahan.

“Rapat kabinet terbatas tanggal 28 Desember 2020 memutuskan untuk menutup sementara dari tanggal 1 sampai 14 Januari 2021 masuknya warga negara asing atau WNA dari semua negara ke Indonesia,” ujar Retno.

Bagi WNA yang tiba di Indonesia terhitung per tanggal 28 Desember hingga 31 Desember 2020 mendatang, diberlakukan aturan sesuai ketentuan dalam adendum SE Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 3 Tahun 2020. Melalui ketentuan tersebut, WNA yang akan memasuki Indonesia diwajibkan untuk menunjukkan hasil tes RT-PCR dari negara asal dan melakukan pemeriksaan ulang setibanya di Indonesia.

Baca Juga :  TNI-Polri Gencarkan Taat Protokol Kesehatan

“Menunjukkan hasil negatif melalui tes RT-PCR di negara asal yang berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan pada saat pemeriksaan kesehatan atau electronic health alert card (e-HAC) internasional Indonesia. Pada saat kedatangan di Indonesia, melakukan pemeriksaan ulang RT-PCR dan apabila menunjukkan hasil negatif, maka WNA melakukan karantina wajib selama lima hari terhitung sejak tanggal kedatangan,” ucapnya.

Setelah melalui karantina selama lima hari tersebut, WNA akan melakukan pemeriksaan ulang dengan metode RT-PCR. Apabila memperoleh hasil negatif, maka pengunjung diperkenankan untuk meneruskan perjalanan.

Sementara itu, sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2011 pasal 14, warga negara Indonesia (WNI) tetap diizinkan untuk kembali ke Indonesia dengan ketentuan adendum dari SE yang sama dengan ketentuan yang berlaku untuk WNA. Para WNI yang akan kembali ke Indonesia juga diminta untuk menunjukkan hasil negatif melalui tes RT-PCR dari negara asal yang berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan saat pemeriksaan kesehatan atau e-HAC. Setibanya di Indonesia, Menlu menjelaskan, WNI juga harus melakukan pemeriksaan ulang dan karantina wajib selama lima hari sebelum kembali dilakukan pemeriksaan ulang dengan hasil negatif sehingga dapat meneruskan perjalanan.

“Pada saat kedatangan di Indonesia, melakukan pemeriksaan ulang RT-PCR dan apabila menunjukkan hasil negatif, maka melakukan karantina wajib selama lima hari terhitung sejak tanggal kedatangan di tempat akomodasi karantina yang telah disediakan oleh pemerintah. Setelah karantina lima hari, WNI melakukan pemeriksaan ulang RT-PCR dan apabila hasil negatif, maka diperkenankan meneruskan perjalanan,” tuturnya.

Untuk diketahui, kebijakan penutupan sementara perjalanan WNA ke Indonesia ini dikecualikan bagi kunjungan resmi pejabat setingkat menteri dan tingkat di atasnya. Kunjungan tersebut pun juga dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. (*/jai/raw/lim)

PEMERINTAH memutuskan menutup sementara akses masuk bagi seluruh warga negara asing (WNA) ke Indonesia. Tak terkecuali pintu masuk dari Malaysia ke Kalimantan Utara (Kaltara).

Konsul Pelaksana Fungsi Konsuler II pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, M. Muhsinin Dolisada saat dikonfirmasi membenarkan perihal penutupan akses masuk bagi WNA ke Indonesia tersebut. “Iya, benar. Tetapi, surat secara resmi kami belum terima,” kata Muhsinin kepada Radar Tarakan melalui sambungan telepon, Selasa (29/12).

Sesuai informasi dari Menteri Luar Negeri (Menlu) penutupan akses ini mulai berlaku pada 1-14 Januari 2021. “Semua WNA dilarang masuk ke Indonesia. Tidak terkecuali WNA Malaysia yang masuk ke Kaltara,” ujarnya.

Namun, kata Muhsinin, penutupan akses ini tidak berlaku bagi tamu kenegaraan setingkat menteri ke atas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. “Jadi, untuk tamu kenegaraan masih diperbolehkan masuk ke Indonesia. Tetapi harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” tegasnya.

Bagi pengawasan WNA pihaknya berpedoman pada Surat Edaran (SE) Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 4 Tahun 2020 tentang Prokes Perjalanan Orang dalam Masa Pandemi Covid-19.

Pejabat Bidang Penerangan, Sosial dan Budaya Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau, Emir Faisal memastikan, lockdown (karantina wilayah) akan terus berlangsung hingga 31 Desember mendatang. Bahkan, perpanjangan lockdown akan terus dilakukan di Malaysia akibat kembali adanya varian baru virus Covid-19.

“Masih terus lockdown hingga 31 Desember, bahkan ada potensi diperpanjang lagi,” ungkap Emir saat diwawancarai, Senin (29/12). Emir mengaku, sejumlah pelabuhan-pelabuhan di Sabah termasuk Tawau, seluruhnya masih tutup, hanya sektor ekonomi sudah mulai dibuka sejak akhir November hingga sekarang. Di Sabah, angka positif covid-19 sudah mengalami penurunan. Bahkan atas perkembangan itu, Emir juga mengaku sejumlah restoran sudah kembali dibuka di Sabah, namun tetap dengan SOP protokol kesehatan.

Imigrasi Kelas II Nunukan juga menegaskan komitmennya terhadap pengawasan masuknya WNA di Nunukan. Di sisi lain, pemerintah Malaysia memperpanjang lockdown atau karantina wilayah hingga akhir 2020. Penyeberangan internasional Nunukan-Tawau, Malaysia pun, masih terdampak tidak adanya aktivitas sejak awal Maret lalu.

Kepala Seksi Lalu Lintas dan Izin Tinggal Keimigrasian Imigrasi Kelas II Nunukan, Nugraha Agustian Syahputra mengatakan, sejatinya penutupan perlintasan tersebut, agar pencegahan masuknya varian baru dari Covid-19 sebagaimana SE Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 4.  “Ya, sebagaimana arahan dari pusat. Tentunya di perbatasan akan lebih ekstra pengawasannya,” ujar Putra sapaan akrabnya saat dikonfirmasi, Selasa (29/12).

Baca Juga :  Terbawa Gelombang dari Tengah Laut

Menurutnya, sejauh ini sudah tidak ada lagi perlintasan dari Malaysia ke Indonesia, termasuk yang di pos lintas tradisional. Ditambah lagi sebagaimana pihak negara Malaysia juga masih menutup pintu masuk keluar, Putra optimistis tidak akan ada aktivitas keluar masuknya orang khususnya lagi WNA. “Kalau soal komitmen, tentu sangat pasti. Kita pastikan tidak akan ada aktivitas masuknya WNA,” tegas Putra.

Di tempat terpisah, Kepala Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Karel mengatakan, dampak lockdown memang membuat tidak adanya aktivitas penyebrangan internasional di pintu masuk pelabuhan. Setidaknya sudah hampir 8 bulan, aktivitas penyebrangan luar negeri vakum.

“Ya, belum ada aktivitas kapal ke Tawau, aktivitas di penyebrangan internasional itu, kalau ada PMI saja dipulangkan, tapi sekarang pintu semua negara ditutup, kami yakin pasti kedepannya tidak akan ada aktivitas untuk sementara,” ujar Karel.
Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Bulungan, Ingkong Ala memastikan akan memperketat pengawasan bagi WNA yang masuk. Hal itu sebagai tindak lanjut dari SE Nomor 4 Tahun 2020. “Akan lebih diperketat. Khususnya jalur laut dan udara,” tegasnya.

Selain mengantisipasi lonjakan kasus selama cuti bersama. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi masuknya varian baru virus Covid-19 di Bulungan. “Virus jenis baru ini harus diantisipasi, apalagi tingkat penyebarannya lebih cepat,” sebutnya.
Dalam siaran pers yang diterima Radar Tarakan, Menlu, Retno Marsudi menjelaskan, adanya informasi strain atau varian baru virus Covid-19 yang menurut berbagai data ilmiah memiliki tingkat penyebaran lebih cepat, pemerintah memutuskan untuk menutup sementara masuknya WNA ke Indonesia sebagai upaya pencegahan.

“Rapat kabinet terbatas tanggal 28 Desember 2020 memutuskan untuk menutup sementara dari tanggal 1 sampai 14 Januari 2021 masuknya warga negara asing atau WNA dari semua negara ke Indonesia,” ujar Retno.

Bagi WNA yang tiba di Indonesia terhitung per tanggal 28 Desember hingga 31 Desember 2020 mendatang, diberlakukan aturan sesuai ketentuan dalam adendum SE Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 3 Tahun 2020. Melalui ketentuan tersebut, WNA yang akan memasuki Indonesia diwajibkan untuk menunjukkan hasil tes RT-PCR dari negara asal dan melakukan pemeriksaan ulang setibanya di Indonesia.

Baca Juga :  Besi Muncul di Permukaan Jalan

“Menunjukkan hasil negatif melalui tes RT-PCR di negara asal yang berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan pada saat pemeriksaan kesehatan atau electronic health alert card (e-HAC) internasional Indonesia. Pada saat kedatangan di Indonesia, melakukan pemeriksaan ulang RT-PCR dan apabila menunjukkan hasil negatif, maka WNA melakukan karantina wajib selama lima hari terhitung sejak tanggal kedatangan,” ucapnya.

Setelah melalui karantina selama lima hari tersebut, WNA akan melakukan pemeriksaan ulang dengan metode RT-PCR. Apabila memperoleh hasil negatif, maka pengunjung diperkenankan untuk meneruskan perjalanan.

Sementara itu, sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2011 pasal 14, warga negara Indonesia (WNI) tetap diizinkan untuk kembali ke Indonesia dengan ketentuan adendum dari SE yang sama dengan ketentuan yang berlaku untuk WNA. Para WNI yang akan kembali ke Indonesia juga diminta untuk menunjukkan hasil negatif melalui tes RT-PCR dari negara asal yang berlaku maksimal 2×24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan saat pemeriksaan kesehatan atau e-HAC. Setibanya di Indonesia, Menlu menjelaskan, WNI juga harus melakukan pemeriksaan ulang dan karantina wajib selama lima hari sebelum kembali dilakukan pemeriksaan ulang dengan hasil negatif sehingga dapat meneruskan perjalanan.

“Pada saat kedatangan di Indonesia, melakukan pemeriksaan ulang RT-PCR dan apabila menunjukkan hasil negatif, maka melakukan karantina wajib selama lima hari terhitung sejak tanggal kedatangan di tempat akomodasi karantina yang telah disediakan oleh pemerintah. Setelah karantina lima hari, WNI melakukan pemeriksaan ulang RT-PCR dan apabila hasil negatif, maka diperkenankan meneruskan perjalanan,” tuturnya.

Untuk diketahui, kebijakan penutupan sementara perjalanan WNA ke Indonesia ini dikecualikan bagi kunjungan resmi pejabat setingkat menteri dan tingkat di atasnya. Kunjungan tersebut pun juga dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. (*/jai/raw/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/