alexametrics
26.7 C
Tarakan
Friday, August 12, 2022

Tak Semua Komorbid Bisa Divaksinasi

PEMERINTAH pusat berencana melaksanakan program vaksinasi Covid-19 dimulai 2021 mendatang. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan rekomendasi untuk pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Utara (Kaltara), dr. Franky Sientoro, Sp.A, mengatakan, tidak semua orang atau pasien dengan penyakit penyerta bisa diberi vaksin Covid-19.

Rekomendasi ini juga berdasarkan data publikasi fase I/II vaksin Sinovac, data uji fase III di Bandung, berupa proposal dan catatan pelaku lapangan yang terlibat dalam uji klinis. Juga data uji vaksin inactivacted lainnya yang sudah lengkap. Seperti vaksin influenza dan sebagainya. Sementara data vaksin inactivacted Covid-19 masih belum lengkap.

“Masih menunggu hasil BPOM lagi, apa saja kontraindikasinya, pendistribusiannya, dan lainnya,” terangnya kepada Radar Tarakan, Senin (28/12).

Lantas siapa saja yang bisa menerima vaksinasi ini? Rekomendasi PAPDI tentang Pemberian Vaksinasi Covid-19 pada Pasien dengan Komorbid atau Penyakit Penyerta ini spesifik untuk vaksin Covid-19, sehingga dapat berubah sesuai dengan perkembangan laporan data uji klinis vaksin tersebut.

Berdasarkan rekomendasi tersebut pasien dengan komorbid yang bisa menerima vaksin dibagi dengan kategori layak, belum layak dan tidak layak menerima vaksin Covid-19.

Dijelaskannya, adapun komorbid yang layak adalah reaksi anafilaksis, bukan akibat vaksinasi. Dengan catatan, jika tidak terdapat bukti reaksi anafilaksis terhadap vaksin ataupun komponen yang ada dalam vaksin sebelumnya, maka individu tersebut dapat divaksinasi Covid-19.

Namun vaksinasi ini dilakukan dengan pengmatan ketat dan persiapan penanggulangan reaksi alergi berat. Sebaiknya dilakukan di layanan kesehatan yang mempunyai fasilitas lengkap.

Komorbid lainnya yang layak adalah alergi obat, alergi makanan, asma bronkial dengan catatan asma yang terkontril dapat diberikan vaksin Covid. Jika pasien dalam keadaan asma akut, disarankan untuk menunda vaksinasi sampai asma terkontrol dengan baik.

“Kalau alerginya tidak spesifik. Vaksin tidak mengandung komponen yang dialergikan. Kalau untuk ibu hamil juga belum bisa, karena belum ada penelitian yang menemukan bisa atau tidak. Hampir semua vaksin tidak dianjurkan untuk ibu hamil, termasuk vaksin Covid-19 ini,” bebernya.

Kemudian rhinitis alergi, urtikaria, dermatitis atopi, HIV dengan catatan vaksinasi yang mengandung kuman mati/komponen tertentu dari kuman dapat diberikan walaupun CD-4 atau bagian sel darah putih di bawah 200. Perlu dijelaskan kepada pasien bahwa kekebalan yang timbul dapat tidak maksimal, sehingga dianjurkan untuk diulang saat CD-4 lebih 200.

Komorbid lainnya yang layak menerima vaksinasi tersebut adalah paru obstruktif kronik, tuberkulosis, kanker paru, interstitial lung disease, penyakit hati, diabetes melitus, obesitas, nodul tiroid, pendonor darah dan penyakit gangguan psikosomatis.

Kemudian komorbid yang belum layak menerima vaksin tersebut adalah penyakit autoimun sistemik, sindroma hiper ige, PGK non-dialisis, PGK dialisis atau hemodialisis dan dialysis peritoneal, transplantasi ginjal, sindroma nefrotik dengan imunosupresan atau kortikosteroid.

Kemudian hipertensi karena belum adanya rekomendasi dari tim uji klinis vaksin yang dilakukan di Indonesia dan masih menunggu hasil uji klinis di Bandung. Gagal jantung, penyakit jantung koroner, reumatik autoimun, penyakit-penyakit gastrointestinal, hipertiroid atau hipotiroid karena autoimun.

Baca Juga :  Gaji Honorer Terancam Tak Dibayar

Kemudian penyakit dengan kanker, kelainan hematologi seperti gangguan koagulasi, pasien imunokompromais, pasien dalam terapi aktif kanker, pemakai obat imunosupresan, dan penerima produk darah, Pasien hematologionkologi yang mendapatkan terapi aktif jangka panjang, seperti leukemia granulositik kronis, leukemia limfositik kronis, myeloma multipel, anemia hemolitik autoimun, ITP.

“Tapi untuk secara umum vaksin ini aman. Itu diberikan untuk usia 18 tahun sampai 59 tahun,” katanya.

Sedangkan komorbid yang disarankan tidak menerima vaksin atau tidak layak adalah pasien dengan infeksi akut, dengan catatan kondisi penyakit infeksi akut yang ditandai dengan demam menjadi kontraindikasi vaksinasi.

Kendati demikian, sembari menunggu pendistribusian vaksinasi masyarakat diminta tetap menjalankan protokol kesehatan dengan baik.

“Kapan pendistribusiannya kita masih menunggu juga, itu melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltara. Jadi masyarakat tetap menjalankan prokes dengan baik,” imbaunya.

KEAMANAN VAKSIN

Mulai didistribusikannya vaksin ke seluruh Tanah Air, membawa harapan besar masyarakat Indonesia untuk dapat menjalani rutinitas hidup seperti sedia kala. Tak terkecuali masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara). Meski demikian, hingga saat ini masih muncul pro dan kontra di masyarakat. Mereka yang kontra meragukan keamanan vaksin tersebut.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara, dr. Franky Sientoro, Sp.A, menegaskan jika vaksin tersebut aman bagi masyarakat. Vaksin telah melalui berbagai tahap dan uji secara klinis yang melibatkan berbagai ahli.

“Perihal keamanan vaksin tentunya dijamin, karena semua melalui tahap penelitian, tahap uji coba, tahap halal, dan itu sudah semua dilakukan oleh pemerintah, terutama lewat penelitian di Bandung kemudian oleh Balai POM. Jadi masyarakat tidak perlu takut ataupun khawatir masalah ini,” ujarnya, kemarin (28/12).

Ia mengakui jika terdapat sebagian kecil kelompok masyarakat yang menolak vaksin. Kelompok anti vaksin sudah ada sejak lama. “Memang ada beberapa persen dari masyarakat kita yang sangat gencar memprovokasi masyarakat supaya tidak vaksin. Dan itu bukan hanya vaksin Covid-19, tapi juga vaksin-vaksin yang sudah sejak dulu sampai sekarang dilakukan, dan itu sangat gencar sekali memprovokasi soal itu. Meski begitu, kelompok medis berjalan terus. Karena sejauh ini vaksin terbukti dan berhasil menekan kasus,” sambungnya.

Diduga sikap anti yang dilakukan kelompok anti vaksin, bukan hanya terfokus pada kesehatan saja, namun juga terdapat kepentingan lainnya di luar kesehatan. “Kalau mereka berpandangan tahap penelitian vaksin tersebut belum selesai, dari mana mereka mendapat bukti bahwa penelitian tersebut belum selesai, apakah mereka punya kemampuan ilmunya ataukah kemampuan yang bisa membuktikan bahwa proses  ilmiahnya itu belum selesai,” terangnya.

“Sejauh ini belum ada yang membuktikan bahwa vaksin ini belum melewati tahap-tahap penelitian. Yang namanya produk, apalagi produk ilmiah, itu pasti ada tahapannya. Soal anti vaksin bukan hanya di Indonesia saja, kelompok anti vaksin seperti itu juga ada di luar negeri,” lanjutnya.

Baca Juga :  Cegah Penularan COVID-19, Korban Kebakaran Sebengkok Jalani Swab Antigen

Vaksin Covid-19 bekerja memperkuat antibodi. Meski virus Covid-19 telah mengalami mutasi, namun pihaknya meyakini jika vaksin tersebut dapat menangkal berbagai jenis mutasi virus. “Jadi vaksin ini memberikan antibodi, jadi kekebalannya spesifik. Antibodi yang terbentuk itu jenisnya antibodi yang humoral jadi antibodi yang spesifik terhadap Covid.

“Vaksin itu disuntik minimal 2 kali. Kalau saya memprediksi mungkin 3 kali, tapi minimal 2 kali suntik. Disuntik hari ini, 4 minggu kemudian disuntik lagi,” pungkasnya.

 

SIAPKAN DATA SASARAN

Kepada Radar Tarakan, salah satu masyarakat Tarakan, Risma (32) mengatakan bahwa dirinya memang sedang menunggu vaksin Covid-19 mengingat Tarakan kini masuk zona oranye. Menurutnya, dengan adanya vaksin Covid-19 akan membuat masyarakat menjadi lebih tenang. “Masih menunggu vaksinnya, karena cuma dengar dari berita nasional aja selama ini,” ujar Risma.

Vaksin sangat ia nantikan lantaran dirinya memiliki seorang anak usia 3 tahun dan orang tua di rumah. Keinginan untuk divaksin, semata-mata menghindari hal yang tak diinginkan. “Di rumah sama anak dan mertua. Makanya harus tetap sehat, karena Covid-19 ini kan bahaya bagi anak dan orang tua,” tutur Risma.

Untuk itu, Risma berharap agar vaksin Covid-19 dapat segera disalurkan pemerintah.

Sementara itu, Nur Aini (28) mengatakan bahwa dirinya juga sedang menantikan adanya vaksin Covid-19. Namun ia masih khawatir jika vaksin tersebut tidak aman untuk digunakan masyarakat. “Ya nunggu sih, tapi khawatir vaksinnya kalau bahaya buat tubuh kan ada efek sampingnya itu,” beber Nur.

Kendati demikian, Nur meyakini jika keliru dalam pendistribusian vaksin, maka akan menjadi dosa bagi pemerintah. “Serahkan sama Allah, kalau memang berbahaya ya itu urusan pemerintah dengan Allah. Sebagai masyarakat biasa, kami hanya taat pada aturan pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih menunggu distribusi vaksin dari pemerintah pusat, sebab berdasarkan informasi yang ia peroleh, vaksin tersebut akan tiba pada Januari 2021 mendatang. “Tapi saya tidak berani menjamin, karena sampai sekarang belum ada kejelasan dari Kementerian Kesehatan karena mereka yang distribusi,” tuturnya.

Kekhawatiran masyarakat akan vaksin Covid-19, dikatakan Usman tidaklah berdasar. Bahkan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pun menyampaikan agar mendapatkan vaksin lebih dulu agar bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Tak hanya itu tenaga kesehatan juga menjadi prioritas dalam pemberian vaksin agar mampu melayani masyarakat dalam pemberian vaksin.

Menyoal hal tersebut, Usman mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan data-data sasaran vaksin Covid-19 di masyarakat umum. “Nanti saya sampaikan, karena saya masih sedikit ada urusan,” singkatnya. (*/one/*/zac/shy/lim)

 

PEMERINTAH pusat berencana melaksanakan program vaksinasi Covid-19 dimulai 2021 mendatang. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan rekomendasi untuk pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Utara (Kaltara), dr. Franky Sientoro, Sp.A, mengatakan, tidak semua orang atau pasien dengan penyakit penyerta bisa diberi vaksin Covid-19.

Rekomendasi ini juga berdasarkan data publikasi fase I/II vaksin Sinovac, data uji fase III di Bandung, berupa proposal dan catatan pelaku lapangan yang terlibat dalam uji klinis. Juga data uji vaksin inactivacted lainnya yang sudah lengkap. Seperti vaksin influenza dan sebagainya. Sementara data vaksin inactivacted Covid-19 masih belum lengkap.

“Masih menunggu hasil BPOM lagi, apa saja kontraindikasinya, pendistribusiannya, dan lainnya,” terangnya kepada Radar Tarakan, Senin (28/12).

Lantas siapa saja yang bisa menerima vaksinasi ini? Rekomendasi PAPDI tentang Pemberian Vaksinasi Covid-19 pada Pasien dengan Komorbid atau Penyakit Penyerta ini spesifik untuk vaksin Covid-19, sehingga dapat berubah sesuai dengan perkembangan laporan data uji klinis vaksin tersebut.

Berdasarkan rekomendasi tersebut pasien dengan komorbid yang bisa menerima vaksin dibagi dengan kategori layak, belum layak dan tidak layak menerima vaksin Covid-19.

Dijelaskannya, adapun komorbid yang layak adalah reaksi anafilaksis, bukan akibat vaksinasi. Dengan catatan, jika tidak terdapat bukti reaksi anafilaksis terhadap vaksin ataupun komponen yang ada dalam vaksin sebelumnya, maka individu tersebut dapat divaksinasi Covid-19.

Namun vaksinasi ini dilakukan dengan pengmatan ketat dan persiapan penanggulangan reaksi alergi berat. Sebaiknya dilakukan di layanan kesehatan yang mempunyai fasilitas lengkap.

Komorbid lainnya yang layak adalah alergi obat, alergi makanan, asma bronkial dengan catatan asma yang terkontril dapat diberikan vaksin Covid. Jika pasien dalam keadaan asma akut, disarankan untuk menunda vaksinasi sampai asma terkontrol dengan baik.

“Kalau alerginya tidak spesifik. Vaksin tidak mengandung komponen yang dialergikan. Kalau untuk ibu hamil juga belum bisa, karena belum ada penelitian yang menemukan bisa atau tidak. Hampir semua vaksin tidak dianjurkan untuk ibu hamil, termasuk vaksin Covid-19 ini,” bebernya.

Kemudian rhinitis alergi, urtikaria, dermatitis atopi, HIV dengan catatan vaksinasi yang mengandung kuman mati/komponen tertentu dari kuman dapat diberikan walaupun CD-4 atau bagian sel darah putih di bawah 200. Perlu dijelaskan kepada pasien bahwa kekebalan yang timbul dapat tidak maksimal, sehingga dianjurkan untuk diulang saat CD-4 lebih 200.

Komorbid lainnya yang layak menerima vaksinasi tersebut adalah paru obstruktif kronik, tuberkulosis, kanker paru, interstitial lung disease, penyakit hati, diabetes melitus, obesitas, nodul tiroid, pendonor darah dan penyakit gangguan psikosomatis.

Kemudian komorbid yang belum layak menerima vaksin tersebut adalah penyakit autoimun sistemik, sindroma hiper ige, PGK non-dialisis, PGK dialisis atau hemodialisis dan dialysis peritoneal, transplantasi ginjal, sindroma nefrotik dengan imunosupresan atau kortikosteroid.

Kemudian hipertensi karena belum adanya rekomendasi dari tim uji klinis vaksin yang dilakukan di Indonesia dan masih menunggu hasil uji klinis di Bandung. Gagal jantung, penyakit jantung koroner, reumatik autoimun, penyakit-penyakit gastrointestinal, hipertiroid atau hipotiroid karena autoimun.

Baca Juga :  Tarakan Krisis Vaksin

Kemudian penyakit dengan kanker, kelainan hematologi seperti gangguan koagulasi, pasien imunokompromais, pasien dalam terapi aktif kanker, pemakai obat imunosupresan, dan penerima produk darah, Pasien hematologionkologi yang mendapatkan terapi aktif jangka panjang, seperti leukemia granulositik kronis, leukemia limfositik kronis, myeloma multipel, anemia hemolitik autoimun, ITP.

“Tapi untuk secara umum vaksin ini aman. Itu diberikan untuk usia 18 tahun sampai 59 tahun,” katanya.

Sedangkan komorbid yang disarankan tidak menerima vaksin atau tidak layak adalah pasien dengan infeksi akut, dengan catatan kondisi penyakit infeksi akut yang ditandai dengan demam menjadi kontraindikasi vaksinasi.

Kendati demikian, sembari menunggu pendistribusian vaksinasi masyarakat diminta tetap menjalankan protokol kesehatan dengan baik.

“Kapan pendistribusiannya kita masih menunggu juga, itu melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltara. Jadi masyarakat tetap menjalankan prokes dengan baik,” imbaunya.

KEAMANAN VAKSIN

Mulai didistribusikannya vaksin ke seluruh Tanah Air, membawa harapan besar masyarakat Indonesia untuk dapat menjalani rutinitas hidup seperti sedia kala. Tak terkecuali masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara). Meski demikian, hingga saat ini masih muncul pro dan kontra di masyarakat. Mereka yang kontra meragukan keamanan vaksin tersebut.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara, dr. Franky Sientoro, Sp.A, menegaskan jika vaksin tersebut aman bagi masyarakat. Vaksin telah melalui berbagai tahap dan uji secara klinis yang melibatkan berbagai ahli.

“Perihal keamanan vaksin tentunya dijamin, karena semua melalui tahap penelitian, tahap uji coba, tahap halal, dan itu sudah semua dilakukan oleh pemerintah, terutama lewat penelitian di Bandung kemudian oleh Balai POM. Jadi masyarakat tidak perlu takut ataupun khawatir masalah ini,” ujarnya, kemarin (28/12).

Ia mengakui jika terdapat sebagian kecil kelompok masyarakat yang menolak vaksin. Kelompok anti vaksin sudah ada sejak lama. “Memang ada beberapa persen dari masyarakat kita yang sangat gencar memprovokasi masyarakat supaya tidak vaksin. Dan itu bukan hanya vaksin Covid-19, tapi juga vaksin-vaksin yang sudah sejak dulu sampai sekarang dilakukan, dan itu sangat gencar sekali memprovokasi soal itu. Meski begitu, kelompok medis berjalan terus. Karena sejauh ini vaksin terbukti dan berhasil menekan kasus,” sambungnya.

Diduga sikap anti yang dilakukan kelompok anti vaksin, bukan hanya terfokus pada kesehatan saja, namun juga terdapat kepentingan lainnya di luar kesehatan. “Kalau mereka berpandangan tahap penelitian vaksin tersebut belum selesai, dari mana mereka mendapat bukti bahwa penelitian tersebut belum selesai, apakah mereka punya kemampuan ilmunya ataukah kemampuan yang bisa membuktikan bahwa proses  ilmiahnya itu belum selesai,” terangnya.

“Sejauh ini belum ada yang membuktikan bahwa vaksin ini belum melewati tahap-tahap penelitian. Yang namanya produk, apalagi produk ilmiah, itu pasti ada tahapannya. Soal anti vaksin bukan hanya di Indonesia saja, kelompok anti vaksin seperti itu juga ada di luar negeri,” lanjutnya.

Baca Juga :  Pengusaha Speedboat Akui Sulit Jalankan SE Dishub, Dua Poin Jadi Sandungan

Vaksin Covid-19 bekerja memperkuat antibodi. Meski virus Covid-19 telah mengalami mutasi, namun pihaknya meyakini jika vaksin tersebut dapat menangkal berbagai jenis mutasi virus. “Jadi vaksin ini memberikan antibodi, jadi kekebalannya spesifik. Antibodi yang terbentuk itu jenisnya antibodi yang humoral jadi antibodi yang spesifik terhadap Covid.

“Vaksin itu disuntik minimal 2 kali. Kalau saya memprediksi mungkin 3 kali, tapi minimal 2 kali suntik. Disuntik hari ini, 4 minggu kemudian disuntik lagi,” pungkasnya.

 

SIAPKAN DATA SASARAN

Kepada Radar Tarakan, salah satu masyarakat Tarakan, Risma (32) mengatakan bahwa dirinya memang sedang menunggu vaksin Covid-19 mengingat Tarakan kini masuk zona oranye. Menurutnya, dengan adanya vaksin Covid-19 akan membuat masyarakat menjadi lebih tenang. “Masih menunggu vaksinnya, karena cuma dengar dari berita nasional aja selama ini,” ujar Risma.

Vaksin sangat ia nantikan lantaran dirinya memiliki seorang anak usia 3 tahun dan orang tua di rumah. Keinginan untuk divaksin, semata-mata menghindari hal yang tak diinginkan. “Di rumah sama anak dan mertua. Makanya harus tetap sehat, karena Covid-19 ini kan bahaya bagi anak dan orang tua,” tutur Risma.

Untuk itu, Risma berharap agar vaksin Covid-19 dapat segera disalurkan pemerintah.

Sementara itu, Nur Aini (28) mengatakan bahwa dirinya juga sedang menantikan adanya vaksin Covid-19. Namun ia masih khawatir jika vaksin tersebut tidak aman untuk digunakan masyarakat. “Ya nunggu sih, tapi khawatir vaksinnya kalau bahaya buat tubuh kan ada efek sampingnya itu,” beber Nur.

Kendati demikian, Nur meyakini jika keliru dalam pendistribusian vaksin, maka akan menjadi dosa bagi pemerintah. “Serahkan sama Allah, kalau memang berbahaya ya itu urusan pemerintah dengan Allah. Sebagai masyarakat biasa, kami hanya taat pada aturan pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih menunggu distribusi vaksin dari pemerintah pusat, sebab berdasarkan informasi yang ia peroleh, vaksin tersebut akan tiba pada Januari 2021 mendatang. “Tapi saya tidak berani menjamin, karena sampai sekarang belum ada kejelasan dari Kementerian Kesehatan karena mereka yang distribusi,” tuturnya.

Kekhawatiran masyarakat akan vaksin Covid-19, dikatakan Usman tidaklah berdasar. Bahkan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pun menyampaikan agar mendapatkan vaksin lebih dulu agar bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Tak hanya itu tenaga kesehatan juga menjadi prioritas dalam pemberian vaksin agar mampu melayani masyarakat dalam pemberian vaksin.

Menyoal hal tersebut, Usman mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan data-data sasaran vaksin Covid-19 di masyarakat umum. “Nanti saya sampaikan, karena saya masih sedikit ada urusan,” singkatnya. (*/one/*/zac/shy/lim)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/