alexametrics
26.7 C
Tarakan
Thursday, August 11, 2022

15 Tahun, Lebih Banyak Menunda Kebutuhan

Menjalankan tugas setiap abdi negara, di mana pun dan dalam kondisi apa pun harus siap. Selama belasan tahun di desa terisolir bukanlah sebuah tugas mudah bagi seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). Walau begitu kedaulatan dan keamanan negara adalah harga mati.

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

TEPAT tanggal 20 November 2018, genap 15 tahun Pembantu Letnan Satu (Peltu) Sabirin bertugas menjaga dua desa, Long Sule dan Long Pipa. Masih tak menyangka bakal betah menjalani tugas di tempat yang jauh dari kota.

Tahun pertama bertugas, ia merasakan jenuh bahkan sempat kesulitan. Selain karena minim hiburan, rasa jenuh Sabirin tidak terlepas dari tidak adanya rekan yang menemani dalam bertugas.

Berbeda saat menjaga perbatasan di Sebatik, Kabupaten Nunukan sebagai personel satuan tugas pengamanan perbatasan (satgas pamtas). Long Sule dan Long Pipa bak planet lain. “Tidak ada hiburan. Jangankan jaringan telepon, jaringan radio saja sulit. Saya sendiri, seperti terdampar. Mungkin juga karena warga di sini komunikasi dengan bahasa daerah, jadi waktu itu saya sulit akrab dengan warga sini,” terangnya, Rabu (21/11).

Dua tahun pertama hidup dalam kesendirian di pos jaga. Kebutuhan hidupnya tercukupi. Sebagai seorang manusia biasa, ia menginginkan partner. Lagipun ini cobaan berat meninggalkan keluarga.

Dua tahun berdinas, permohonan bantuan personel ke Komando Distrik Militer (Kodim) 0910 Malinau yang baru dibentuk saat itu dikabulkan. Seorang prajurit menemaninya berdinas. Pada 2007 Sabirin mulai betah, kemudian membawa keluarganya untuk tinggal bersama. “Mulai merasa tenang. Kalau saya bolak-balik ke sini biayanya terlalu besar, akhirnya saya membawa istri dan anak saya pindah ke sini dan sekarang saya merasa sudah menjadi warga asli di sini,” tuturnya.

Baca Juga :  Pemeriksaan Tertunda, KSOP: Motoris Masih Syok

Selama bertugas menjaga dua desa tersebut, tercatat sudah 5 kali menerima kenaikan pangkat. Bagi Sabirin, kenaikan pangkat bukanlah tujuan dalam bertugas, tetapi bagaimana memberi rasa aman bagi kedua desa. “Pertama bertugas di sini pangkat saya masih sersan dua dan sekarang saya sudah pembantu letnan satu,” terangnya.

Gaji kecil, baginya sulit. Mengingat biaya hidup di Desa Long Sule dan Long Pipa sangat tinggi, dua kali lipat dibanding di kota. Gaji prajurit yang berdinas di desa terbelakang semestinya berbeda.

Selama 15 tahun itu, belum ada prajurit yang sanggup menggantikan dirinya untuk bertugas di dua desa tersebut. “Kalau dibilang cukup, yah tidak juga, penghasilan kepala tiga kalau di kota mungkin sangat cukup. Tapi di sini lihat sendiri semua kebutuhan harganya dua kali lipat lebih mahal dibanding di kota. Tapi alhamdulillah istri dan anak tidak pernah kelaparan walaupun untuk membeli sesuatu kami lebih banyak menunda dulu. Kadang kalau kami ke kota baru kami beli banyak barang kebutuhan untuk dikonsumsi di sini. Kalau semua beli di sini, mungkin besok kami belum tentu makan,” terangnya.

Usia Sabirin menginjak 53 tahun dan dua tahun lagi ia pensiun. Sebagai seorang prajurit tentu ia sangat senang bila ada prajurit yang dapat melanjutkan perjuangannya. “Kemungkinan saya akan kembali ke kota. Tapi tentu saya bisa pensiun dengan tenang jika ada prajurit yang menggantikan saya. Yang jelas komandan kami menginginkan adanya prajurit yang merasa nyaman saat bertugas, artinya prajurit itu kalau bisa tetap berhubungan dengan keluarga saat menjalankan tugas,” pintanya.

Baca Juga :  Peringati HANI, Ketua RT Ditantang

“Nah karena mungkin belum ada yang berani keluar dari zona nyaman membawa keluarga keluar dari kota ke sini, jadi sampai sekarang komandan kami sulit menemukan prajurit cocok untuk menggantikan saya,” terangnya.

Di akhir masa kedinasannya, Sabirin sesekali menghabiskan harinya menemani warga berburu atau mencari madu di hutan. Berbekal keahliannya waktu muda, tidak jarang ia juga membantu warga memangkas rambut.

Menemani masyarakat dalam aktivitasnya adalah salah satu bagian dari cara seorang prajurit menjaga keamanan. Menjaga keamanan dan ketertiban tidak hanya melalui pengawasan, melainkan juga pendekatan secara persuasif. Dengan begitu, masyarakat tidak mudah melakukan tindakan kriminal karena sudah bersahabat dengan aparat.

Warga kedua desa adalah keluarga. “Semoga prajurit penerus saya menganggap warga desa seperti keluarga sendiri, karena bertugas menjaga desa sangat jauh berbeda dengan menjaga perbatasan atau daerah konflik. Karena di sini harus berbaur dan harus mendekatkan diri kepada warga. Kalau di perbatasan kan kita hanya cukup memantau dan mengawasi saja. Di sini tidak boleh ada gengsi, dan itulah cara petugas agar bisa nyaman menjalankan tugas,” tukasnya. (***/bersambung/lim)

Menjalankan tugas setiap abdi negara, di mana pun dan dalam kondisi apa pun harus siap. Selama belasan tahun di desa terisolir bukanlah sebuah tugas mudah bagi seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). Walau begitu kedaulatan dan keamanan negara adalah harga mati.

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

TEPAT tanggal 20 November 2018, genap 15 tahun Pembantu Letnan Satu (Peltu) Sabirin bertugas menjaga dua desa, Long Sule dan Long Pipa. Masih tak menyangka bakal betah menjalani tugas di tempat yang jauh dari kota.

Tahun pertama bertugas, ia merasakan jenuh bahkan sempat kesulitan. Selain karena minim hiburan, rasa jenuh Sabirin tidak terlepas dari tidak adanya rekan yang menemani dalam bertugas.

Berbeda saat menjaga perbatasan di Sebatik, Kabupaten Nunukan sebagai personel satuan tugas pengamanan perbatasan (satgas pamtas). Long Sule dan Long Pipa bak planet lain. “Tidak ada hiburan. Jangankan jaringan telepon, jaringan radio saja sulit. Saya sendiri, seperti terdampar. Mungkin juga karena warga di sini komunikasi dengan bahasa daerah, jadi waktu itu saya sulit akrab dengan warga sini,” terangnya, Rabu (21/11).

Dua tahun pertama hidup dalam kesendirian di pos jaga. Kebutuhan hidupnya tercukupi. Sebagai seorang manusia biasa, ia menginginkan partner. Lagipun ini cobaan berat meninggalkan keluarga.

Dua tahun berdinas, permohonan bantuan personel ke Komando Distrik Militer (Kodim) 0910 Malinau yang baru dibentuk saat itu dikabulkan. Seorang prajurit menemaninya berdinas. Pada 2007 Sabirin mulai betah, kemudian membawa keluarganya untuk tinggal bersama. “Mulai merasa tenang. Kalau saya bolak-balik ke sini biayanya terlalu besar, akhirnya saya membawa istri dan anak saya pindah ke sini dan sekarang saya merasa sudah menjadi warga asli di sini,” tuturnya.

Baca Juga :  Jadi Khatib Salat Id, Ini Pesan Wali Kota Tarakan

Selama bertugas menjaga dua desa tersebut, tercatat sudah 5 kali menerima kenaikan pangkat. Bagi Sabirin, kenaikan pangkat bukanlah tujuan dalam bertugas, tetapi bagaimana memberi rasa aman bagi kedua desa. “Pertama bertugas di sini pangkat saya masih sersan dua dan sekarang saya sudah pembantu letnan satu,” terangnya.

Gaji kecil, baginya sulit. Mengingat biaya hidup di Desa Long Sule dan Long Pipa sangat tinggi, dua kali lipat dibanding di kota. Gaji prajurit yang berdinas di desa terbelakang semestinya berbeda.

Selama 15 tahun itu, belum ada prajurit yang sanggup menggantikan dirinya untuk bertugas di dua desa tersebut. “Kalau dibilang cukup, yah tidak juga, penghasilan kepala tiga kalau di kota mungkin sangat cukup. Tapi di sini lihat sendiri semua kebutuhan harganya dua kali lipat lebih mahal dibanding di kota. Tapi alhamdulillah istri dan anak tidak pernah kelaparan walaupun untuk membeli sesuatu kami lebih banyak menunda dulu. Kadang kalau kami ke kota baru kami beli banyak barang kebutuhan untuk dikonsumsi di sini. Kalau semua beli di sini, mungkin besok kami belum tentu makan,” terangnya.

Usia Sabirin menginjak 53 tahun dan dua tahun lagi ia pensiun. Sebagai seorang prajurit tentu ia sangat senang bila ada prajurit yang dapat melanjutkan perjuangannya. “Kemungkinan saya akan kembali ke kota. Tapi tentu saya bisa pensiun dengan tenang jika ada prajurit yang menggantikan saya. Yang jelas komandan kami menginginkan adanya prajurit yang merasa nyaman saat bertugas, artinya prajurit itu kalau bisa tetap berhubungan dengan keluarga saat menjalankan tugas,” pintanya.

Baca Juga :  Bantuan untuk Korban Sudah Sekira Rp 800 Jutaan

“Nah karena mungkin belum ada yang berani keluar dari zona nyaman membawa keluarga keluar dari kota ke sini, jadi sampai sekarang komandan kami sulit menemukan prajurit cocok untuk menggantikan saya,” terangnya.

Di akhir masa kedinasannya, Sabirin sesekali menghabiskan harinya menemani warga berburu atau mencari madu di hutan. Berbekal keahliannya waktu muda, tidak jarang ia juga membantu warga memangkas rambut.

Menemani masyarakat dalam aktivitasnya adalah salah satu bagian dari cara seorang prajurit menjaga keamanan. Menjaga keamanan dan ketertiban tidak hanya melalui pengawasan, melainkan juga pendekatan secara persuasif. Dengan begitu, masyarakat tidak mudah melakukan tindakan kriminal karena sudah bersahabat dengan aparat.

Warga kedua desa adalah keluarga. “Semoga prajurit penerus saya menganggap warga desa seperti keluarga sendiri, karena bertugas menjaga desa sangat jauh berbeda dengan menjaga perbatasan atau daerah konflik. Karena di sini harus berbaur dan harus mendekatkan diri kepada warga. Kalau di perbatasan kan kita hanya cukup memantau dan mengawasi saja. Di sini tidak boleh ada gengsi, dan itulah cara petugas agar bisa nyaman menjalankan tugas,” tukasnya. (***/bersambung/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/