alexametrics
29.7 C
Tarakan
Wednesday, August 17, 2022

Sambut Tahun Baru, Diimbau Tak Berlebihan

TARAKAN – Menjelang Tahun Baru 2019, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan mengimbau masyarakat agar tidak merayakan pesta huru hara dan berlebihan.  

Ketua MUI Tarakan, Drs. Muhammad Anas L mengatakan, sebenarnya tahun baru itu tidak ada anjuran agama melaksanakan, justru melarang karena hanya dilakukan dengan berfoya-foya. Bahkna biasanya ada yang melakukan secara berlebihan. “Jika memiliki banyak uang, lebih baik digunakan dengan menyumbangkan kepada orang tidak mampu,” ungkapnya.

Bahkan sebaiknya tahun baru digunakan untuk melakukan hal yang lebih positif dan berfaedah. Seperti melakukan zikir atau berdoa bersama. Jangan sampai diisi dengan pesta huru-hara dan membuat kegiatan secara berlebihan dengan pesta pora. “Itu tidak ada manfaatnya, isi dengan kegiatan yang lebih baik,” ujarnya.

Sepakat dengan imbauan MUI, salah satu tokoh agama Ustad Dian Antarja mengatakan, agar di malam tahun baru tidak diisi dengan segala macam kegiatan yang tidak berfaedah. Jika masyarakat ingin melakukan perjalanan atau menikmati malam tahun baru, setidaknya terlebih dahulu berzikir atau beribadah.

“Jadi seimbang antara kehidupan rohani dengan jasmani kita. Jangan hanya pergi jalan saja atau lakukan kegiatan yang tidak berguna,” ujarnya.

Apalagi jika di malam tahun baru melakukan kegiatan maksiat, seperti mabuk-mabukan, pesta pora, pesta narkoba, dan hal-hal lainnya yang tidak penting. Sebaiknya di malam tahun baru melakukan zikir agar terhindar dari segala godaan yang tidak baik. “Saya pribadi itu berzikir, saya dan teman-teman itu sudah ada rencana untuk zikir bersama. Setelah itu baru bisa bakar-bakar,” ungkapnya.

Dengan melakukan hal yang lebih positif dan bermanfaat, maka keuntungan bisa didapatkan. Begitu juga dengan tradisi tiup terompet, diakuinya tidak ada larangan, hanya saja lebih baik jangan berlebihan. Agar tidak mengganggu masyarakat lainnya.

Tidak bisa juga dilarang, karena ada masyarakat lainnya yang mencari nafkah dengan berjualan terompet. Jika dilarang, tentu itu akan menghambat rezeki dari penjual terompet. Masyarakat bisa menggunakan, hanya saja harus pada tempatnya. “Hidup manusia itu diuntungkan dan menguntungkan, meski dalam Islam itu dilarang, tetapi tidak boleh juga mengacaukan pintu rezeki orang lain,” jelasnya.

Baca Juga :  Ini Sebab Speedboat Rejeki Baru Kharisma Tenggalam

Bersamaan dengan imbauan menyambut Tahun Baru 2019 dengan sederhana dan diisi kegiatan positif, Pemerintah Kota Tarakan berencana akan menutup Taman Berlabuh yang merupakan salah satu taman teramai di Kota Tarakan saat jelang Tahun Baru 2019 mendatang.

Kepada Radar Tarakan, Wali Kota Tarakan, Ir. Sofian Raga mengatakan bahwa belajar dari tahun sebelumnya untuk kepentingan keamanan, ketertiban dan keselamatan masyarakat Kota Tarakan, maka pemerintah perlu mengajak masyarakat untuk merayakan pergantian tahun dengan suasana yang menyenangkan.

Untuk itu, Sofian menyatakan khusus Taman Berlabuh akan ditutup pada pelaksanaan Tahun Baru 2019 dikarenakan alasan keamanan. Hal ini juga dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, sebab Pemerintah Kota Tarakan tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat menyambut Tahun Baru 2019.

“Tapi kita masih punya Taman Berkampung, jadi silakanlah. Kalau Taman Berlabuh dekat dengan dermaga minyak, jadi ya mengantisipasi saja,” bebernya.

Penutupan Taman Berlabuh akan ditutup selama satu hari saja, sebab menurut Sofian, Taman Berlabuh merupakan salah satu lokasi rawan di Kota Tarakan. Untuk itu, selanjutnya Taman Berlabuh akan ditutup dan dinonaktifkan fasilitasnya serta memiliki keamanan dari OPD terkait seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Untuk itu, menyambut perayaan Tahun Baru 2019 ini, pihaknya ingin agar masyarakat Kota Tarakan tetap aman. Tak hanya itu, pelaksanaan pesta kembang api dan konvoi pun dilarang karena dapat mengganggu kelancaran lalu lintas serta berhubungan dengan keselamatan diri sendiri dan orang lain. “Pergantian tahun itu diisi dengan hal-hal yang menyenangkan, tapi lebih tepat yakni menjaga keamanan dan ketertiban,” katanya.

Tak hanya di Kota Tarakan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nunukan H. Ibrahim kembali mengingatkan dan mengimbau kepada warga, khususnya bagi umat Islam untuk tak berlebihan dalam merayakan pesta tahun baru.

“Kalau dilakukan dengan sederhana dan hanya berdoa bersama itu tidak masalah. Yang penting jangan sampai berhura-hura. Apalagi sampai melakukan perbuatan dosa dengan mabok dan perbuatan yang dilarang semua agama,” kata H. Ibrahim saat dikonfirmasi kemarin.

Baca Juga :  Terdakwa Mengaku Perusahaan Tidak Fiktif

Ia mengatakan, sikap hura-hura itu merupakan perilaku materialistik, konsumeristik, dan hedonistik. Sehingga tidak baik dan tak memiliki manfaat. Untuk itu, dalam perayaan itu ada baiknya melakukan hal positif di rumah saja. Jika misalnya ada kegiatan ibadah di tempat ibadah lebih baik lagi. “Silakan saja merayakan tapi tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Lakukan dengan hal yang positif. Masing-masing warga berdoa sesuai dengan agamanya agar Nunukan tetap aman dan kondusif dan terhindar dari bencana,” pesannya.

Menurutnya, pesta hura-hura dapat mengundang hal-hal yang tidak baik. Apalagi sampai melakukan hal-hal yang melanggaran peraturan. Seperti berkendaraan di jalan raya. Karena dapat mengakibatkan kecelakaan dan mengganggu pengguna jalan lainnya. “Alangkah baiknya di rumah saja dan melakukan hal-hal yang tidak mengganggu mengganggu warga lainnya. Dan, tidak ikut konvoi kendaraan,” ujarnya.

Terkait imbauan dalam menyambut tahun baru, Gubernur Kaltara Dr. H. Irianto Lambrie mengeluarkan Surat Edaran (SE) nomor 045.4/1626/KESBANGPOL/GUB tentang Pergantian Tahun Baru Masehi di Provinsi Kalimantan Utara. Dalam SE tertanggal 21 Desember 2018 itu, seluruh Bupati, Wali Kota, Kepala OPD/Biro Provinsi Kaltara, Camat, Lurah, Kades, tokoh masyarakat, agama, dan adat untuk mengingatkan anak-anak muda, remaja dan masyarakat umum diimbau untuk tidak merayakan malam tahun baru, dalam bentuk hiburan maupun menyalakan kembang api, petasan dan peniupan terompet.

Kepada seluruh pemilik dan pengelola tempat hiburan untuk tidak membuka kegiatan pada malam pergantian tahun dan diimbau masyarakat mengisi dengan kegiatan ibadah sesuai agama masing-masing. Khusus yang beragama Islam agar diisi dengan kegiatan salat magrib berjamaah, yasinan, zikir, istighosah dan salat isya berjamaah di masjid atau musala, tulis imbauan yang ditandatangani langsung Gubernur Kaltara itu. (*/naa/*/shy/oya/eza)

 

TARAKAN – Menjelang Tahun Baru 2019, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan mengimbau masyarakat agar tidak merayakan pesta huru hara dan berlebihan.  

Ketua MUI Tarakan, Drs. Muhammad Anas L mengatakan, sebenarnya tahun baru itu tidak ada anjuran agama melaksanakan, justru melarang karena hanya dilakukan dengan berfoya-foya. Bahkna biasanya ada yang melakukan secara berlebihan. “Jika memiliki banyak uang, lebih baik digunakan dengan menyumbangkan kepada orang tidak mampu,” ungkapnya.

Bahkan sebaiknya tahun baru digunakan untuk melakukan hal yang lebih positif dan berfaedah. Seperti melakukan zikir atau berdoa bersama. Jangan sampai diisi dengan pesta huru-hara dan membuat kegiatan secara berlebihan dengan pesta pora. “Itu tidak ada manfaatnya, isi dengan kegiatan yang lebih baik,” ujarnya.

Sepakat dengan imbauan MUI, salah satu tokoh agama Ustad Dian Antarja mengatakan, agar di malam tahun baru tidak diisi dengan segala macam kegiatan yang tidak berfaedah. Jika masyarakat ingin melakukan perjalanan atau menikmati malam tahun baru, setidaknya terlebih dahulu berzikir atau beribadah.

“Jadi seimbang antara kehidupan rohani dengan jasmani kita. Jangan hanya pergi jalan saja atau lakukan kegiatan yang tidak berguna,” ujarnya.

Apalagi jika di malam tahun baru melakukan kegiatan maksiat, seperti mabuk-mabukan, pesta pora, pesta narkoba, dan hal-hal lainnya yang tidak penting. Sebaiknya di malam tahun baru melakukan zikir agar terhindar dari segala godaan yang tidak baik. “Saya pribadi itu berzikir, saya dan teman-teman itu sudah ada rencana untuk zikir bersama. Setelah itu baru bisa bakar-bakar,” ungkapnya.

Dengan melakukan hal yang lebih positif dan bermanfaat, maka keuntungan bisa didapatkan. Begitu juga dengan tradisi tiup terompet, diakuinya tidak ada larangan, hanya saja lebih baik jangan berlebihan. Agar tidak mengganggu masyarakat lainnya.

Tidak bisa juga dilarang, karena ada masyarakat lainnya yang mencari nafkah dengan berjualan terompet. Jika dilarang, tentu itu akan menghambat rezeki dari penjual terompet. Masyarakat bisa menggunakan, hanya saja harus pada tempatnya. “Hidup manusia itu diuntungkan dan menguntungkan, meski dalam Islam itu dilarang, tetapi tidak boleh juga mengacaukan pintu rezeki orang lain,” jelasnya.

Baca Juga :  Perbaikan, Siapkan Rp 3 M

Bersamaan dengan imbauan menyambut Tahun Baru 2019 dengan sederhana dan diisi kegiatan positif, Pemerintah Kota Tarakan berencana akan menutup Taman Berlabuh yang merupakan salah satu taman teramai di Kota Tarakan saat jelang Tahun Baru 2019 mendatang.

Kepada Radar Tarakan, Wali Kota Tarakan, Ir. Sofian Raga mengatakan bahwa belajar dari tahun sebelumnya untuk kepentingan keamanan, ketertiban dan keselamatan masyarakat Kota Tarakan, maka pemerintah perlu mengajak masyarakat untuk merayakan pergantian tahun dengan suasana yang menyenangkan.

Untuk itu, Sofian menyatakan khusus Taman Berlabuh akan ditutup pada pelaksanaan Tahun Baru 2019 dikarenakan alasan keamanan. Hal ini juga dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, sebab Pemerintah Kota Tarakan tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat menyambut Tahun Baru 2019.

“Tapi kita masih punya Taman Berkampung, jadi silakanlah. Kalau Taman Berlabuh dekat dengan dermaga minyak, jadi ya mengantisipasi saja,” bebernya.

Penutupan Taman Berlabuh akan ditutup selama satu hari saja, sebab menurut Sofian, Taman Berlabuh merupakan salah satu lokasi rawan di Kota Tarakan. Untuk itu, selanjutnya Taman Berlabuh akan ditutup dan dinonaktifkan fasilitasnya serta memiliki keamanan dari OPD terkait seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Untuk itu, menyambut perayaan Tahun Baru 2019 ini, pihaknya ingin agar masyarakat Kota Tarakan tetap aman. Tak hanya itu, pelaksanaan pesta kembang api dan konvoi pun dilarang karena dapat mengganggu kelancaran lalu lintas serta berhubungan dengan keselamatan diri sendiri dan orang lain. “Pergantian tahun itu diisi dengan hal-hal yang menyenangkan, tapi lebih tepat yakni menjaga keamanan dan ketertiban,” katanya.

Tak hanya di Kota Tarakan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nunukan H. Ibrahim kembali mengingatkan dan mengimbau kepada warga, khususnya bagi umat Islam untuk tak berlebihan dalam merayakan pesta tahun baru.

“Kalau dilakukan dengan sederhana dan hanya berdoa bersama itu tidak masalah. Yang penting jangan sampai berhura-hura. Apalagi sampai melakukan perbuatan dosa dengan mabok dan perbuatan yang dilarang semua agama,” kata H. Ibrahim saat dikonfirmasi kemarin.

Baca Juga :  Pangkas Ranring yang Mengganggu Fasilitas

Ia mengatakan, sikap hura-hura itu merupakan perilaku materialistik, konsumeristik, dan hedonistik. Sehingga tidak baik dan tak memiliki manfaat. Untuk itu, dalam perayaan itu ada baiknya melakukan hal positif di rumah saja. Jika misalnya ada kegiatan ibadah di tempat ibadah lebih baik lagi. “Silakan saja merayakan tapi tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Lakukan dengan hal yang positif. Masing-masing warga berdoa sesuai dengan agamanya agar Nunukan tetap aman dan kondusif dan terhindar dari bencana,” pesannya.

Menurutnya, pesta hura-hura dapat mengundang hal-hal yang tidak baik. Apalagi sampai melakukan hal-hal yang melanggaran peraturan. Seperti berkendaraan di jalan raya. Karena dapat mengakibatkan kecelakaan dan mengganggu pengguna jalan lainnya. “Alangkah baiknya di rumah saja dan melakukan hal-hal yang tidak mengganggu mengganggu warga lainnya. Dan, tidak ikut konvoi kendaraan,” ujarnya.

Terkait imbauan dalam menyambut tahun baru, Gubernur Kaltara Dr. H. Irianto Lambrie mengeluarkan Surat Edaran (SE) nomor 045.4/1626/KESBANGPOL/GUB tentang Pergantian Tahun Baru Masehi di Provinsi Kalimantan Utara. Dalam SE tertanggal 21 Desember 2018 itu, seluruh Bupati, Wali Kota, Kepala OPD/Biro Provinsi Kaltara, Camat, Lurah, Kades, tokoh masyarakat, agama, dan adat untuk mengingatkan anak-anak muda, remaja dan masyarakat umum diimbau untuk tidak merayakan malam tahun baru, dalam bentuk hiburan maupun menyalakan kembang api, petasan dan peniupan terompet.

Kepada seluruh pemilik dan pengelola tempat hiburan untuk tidak membuka kegiatan pada malam pergantian tahun dan diimbau masyarakat mengisi dengan kegiatan ibadah sesuai agama masing-masing. Khusus yang beragama Islam agar diisi dengan kegiatan salat magrib berjamaah, yasinan, zikir, istighosah dan salat isya berjamaah di masjid atau musala, tulis imbauan yang ditandatangani langsung Gubernur Kaltara itu. (*/naa/*/shy/oya/eza)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/