alexametrics
29.7 C
Tarakan
Wednesday, August 17, 2022

Orang Tua Masih Banyak Menolak

TARAKAN – Target 95 persen cakupan anak usia 9 bulan hingga 15 tahun untuk mendapatkan imunisasi measles dan rubella (MR) di Kota Tarakan, dipastikan tidak tercapai.

Kepastian tidak tercapaianya target cakupan imunisasi MR disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, Witoyo. Dijelaskan hingga saat ini target cakupan imunisasi MR dari data yang ada masih jauh dari capaian targetnya.

“Menurut Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mencapai 48 persen, sementara dari data real berdasarakan laporan dari puskesmas-puskesmas yang ada di Tarakan sudah 58 persen,” ungkapnya, Rabu (26/12).

Berdasarkan data yang dimiliki tersebut, dipastikan capaian target cakupan imunisasi MR di Kota Tarakan tidak tercapai. Keski sudah dua kali dilakukan penambahan waktu hingga akhir Desember tahun ini. “Tidak hanya Tarakan saja, di Kaltara dan beberapa daerah lain juga targetnya tidak tercapai,” bebernya.

Baca Juga :  Kolonel Fauzi Pimpin Lantamal XIII Tarakan

Dirinya menjelaskan tidak tercapainya cakupan imunasi MR, tidak lain dikarenakan masih banyak orang tua yang enggan anaknya diberikan imunisasi MR. “Ini kembali lagi ke orang tua, terutama orang tua laki-laki yang tidak mau anaknya diberikan imunisasi MR, secara otomatis adanya penolakan ini tentunya merugikan untuk anak tersebut ke depannya,” tuturnya.

Kerugian yang dimaksud dirinya adalah, anak nantinya menjadi rentan terkena penyakit measles dan rubella. Bila sudah terjangkiti penyakit tersebut anak bisa menularkan kepada anak-anak lainnya. “Yang paling berbahaya bila terkena, anak dengan penyakit rubella, anak ini dapat menularkan ke ibu hamil yang efeknya akan mempengaruhi ke janin,” ujarnya.

Perlu diketahui ibu hamil terutama di trimester pertama yang terkena rubella dapat menyebabkan 80 hingga 90 persen bayi yang dilahirkan mengalami kecacatan seperti kelainan jantung, buta, katarak hingga tuli. Bila parah, dapat menyebabkan bayi meninggal di dalam kandungan.

Baca Juga :  Atlet Tarakan Siap Berkiprah di O2SN Provinsi

“Terkait melakukan swepping ke rumah-rumah, dirinya anggap tidak bisa dilakukan bila dari orang tua si anak memang sudah dari awal menolak. Hal ini kembali lagi ke masing-masing orang tua, Dinkes Tarakan tida bisa memaksakan, yang jelas imunisasi MR ini sangat penting melindungi anak dari penyakit measles dan rubella,” bebernya.

Dirinya mengimbau untuk masa depan anak agar kebal dari penyakit measles dan rubella untuk dapat membawa anaknya ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi MR. “Meski pelaksanaannya hingga Desember, kita tetap memberikan pelayanan bagi yang mau hingga kapanpun dan tidak dipungut biaya alias gratis,” pungkasnya. (jnr/eza)

 

TARAKAN – Target 95 persen cakupan anak usia 9 bulan hingga 15 tahun untuk mendapatkan imunisasi measles dan rubella (MR) di Kota Tarakan, dipastikan tidak tercapai.

Kepastian tidak tercapaianya target cakupan imunisasi MR disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, Witoyo. Dijelaskan hingga saat ini target cakupan imunisasi MR dari data yang ada masih jauh dari capaian targetnya.

“Menurut Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mencapai 48 persen, sementara dari data real berdasarakan laporan dari puskesmas-puskesmas yang ada di Tarakan sudah 58 persen,” ungkapnya, Rabu (26/12).

Berdasarkan data yang dimiliki tersebut, dipastikan capaian target cakupan imunisasi MR di Kota Tarakan tidak tercapai. Keski sudah dua kali dilakukan penambahan waktu hingga akhir Desember tahun ini. “Tidak hanya Tarakan saja, di Kaltara dan beberapa daerah lain juga targetnya tidak tercapai,” bebernya.

Baca Juga :  Atlet Tarakan Siap Berkiprah di O2SN Provinsi

Dirinya menjelaskan tidak tercapainya cakupan imunasi MR, tidak lain dikarenakan masih banyak orang tua yang enggan anaknya diberikan imunisasi MR. “Ini kembali lagi ke orang tua, terutama orang tua laki-laki yang tidak mau anaknya diberikan imunisasi MR, secara otomatis adanya penolakan ini tentunya merugikan untuk anak tersebut ke depannya,” tuturnya.

Kerugian yang dimaksud dirinya adalah, anak nantinya menjadi rentan terkena penyakit measles dan rubella. Bila sudah terjangkiti penyakit tersebut anak bisa menularkan kepada anak-anak lainnya. “Yang paling berbahaya bila terkena, anak dengan penyakit rubella, anak ini dapat menularkan ke ibu hamil yang efeknya akan mempengaruhi ke janin,” ujarnya.

Perlu diketahui ibu hamil terutama di trimester pertama yang terkena rubella dapat menyebabkan 80 hingga 90 persen bayi yang dilahirkan mengalami kecacatan seperti kelainan jantung, buta, katarak hingga tuli. Bila parah, dapat menyebabkan bayi meninggal di dalam kandungan.

Baca Juga :  Kolonel Fauzi Pimpin Lantamal XIII Tarakan

“Terkait melakukan swepping ke rumah-rumah, dirinya anggap tidak bisa dilakukan bila dari orang tua si anak memang sudah dari awal menolak. Hal ini kembali lagi ke masing-masing orang tua, Dinkes Tarakan tida bisa memaksakan, yang jelas imunisasi MR ini sangat penting melindungi anak dari penyakit measles dan rubella,” bebernya.

Dirinya mengimbau untuk masa depan anak agar kebal dari penyakit measles dan rubella untuk dapat membawa anaknya ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi MR. “Meski pelaksanaannya hingga Desember, kita tetap memberikan pelayanan bagi yang mau hingga kapanpun dan tidak dipungut biaya alias gratis,” pungkasnya. (jnr/eza)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/