alexametrics
26.7 C
Tarakan
Thursday, August 11, 2022

Waspada Cuaca Ekstrem Tujuh Hari ke Depan

TARAKAN – Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut memberikan peringatan akan adanya cuaca ekstrem tujuh hari ke depan. Hal itu dituangkan dalam Maklumat Pelayaran (Mapel) No: Tlx.78/XII/ /DN-18 tanggal 23 Desember 2018.

Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli pada KSOP Kelas III Tarakan Syaharuddin mengatakan, Mapel tersebut ditujukan pada seluruh Kantor Kesyahbandaran Utama, KSOP, KSOP Khusus Batam, Kantor Unit Penyelenggaran Pelabuhan (UPP), dan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PPLP) serta Distrik Navigasi di seluruh Indonesia.

“Mapel ini meminta seluruh jajaran yang ada di bawah Ditjen Perhubungan Laut agar mengantisipasi cuaca ekstrem untuk tujuah hari ke depan di beberapa daerah di Indonesia,” tuturnya, Senin (24/12).

Terkait hal ini pihaknya telah mengimbau kepada seluruh nakhoda kapal maupun speedboat yang akan berlayar untuk saling berkoordinasi terkait kondisi cuaca saat akan berlayar.

“Koordinasi melalui radio sangat penting agar nakhoda mengetahui update terbaru terkait kondisi cuaca, bila terjadi sesuatu hal yang dapat mengancam nyawa, segera lakukan koordinasi dengan stasiun radio pantai, kapal dan speedboat terdekat untuk meminta pertolongan,” ujarnya.

Selain itu dirinya meminta kepada nakhoda kapal ataupun speedboat menggunakan pengalamannya menghadapi situasi ketika terjadi cuaca buruk. “Nakhoda harus gunakan pengalamannya menghadapi situasi genting, untuk meminimalisir jatuhnya korban,” ucapnya.

Dirinya menjelaskan sejauh ini kondisi pelayaran masih terpantau aman, belum ada laporan terkait kondisi cuaca buruk yang menimpa kapal dan speedboat. “Meski hingga saat ini belum ada laporan terkait kondisi cuaca buruk, kita tetap mengimbau kepada nakhoda kapal dan speedboat ketika akan berlayar untuk lebih hati-hati,” tuturnya.

Sejauh ini perairan yang yang perlu diwaspadai adalah perairan Nunukan dan Sebatik. Dua wilayah perairannya terbuka ke laut lepas. “Berharap semua pelayaran yang di Kaltara ini semuanya berjalan dengan lancar, tanpa ada sesuatu hal yang membahayakan pelayaran,” ujarnya.

Sebelumnya Ditjen Perhubungan Laut menerbitkan  Mapel No: Tlx.78/XII/ /DN-18 tanggal 23 Desember 2018. Isinya, mengingatkan kepada semua pihak terkait tentang adanya cuaca ekstrem yang akan terjadi dalam tujuh hari ke depan.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Junaidi yang menadatangani Mapel tersebut menyebutkan, berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi Kimatologi, dan Geofisika (BMKG) per tanggal 22 Desember 2018, diperkirakan pada 22-28 Desember 2018, cuaca ekstrem dengan tinggi gelombang 2,5-4 meter dan hujan lebat akan terjadi di perairan Pulau Rote-Sabu. Perairan Selatan Sumbawa, dan Pulau Sumba dan Samudra Pasifik Utara Halmahera.

Disebutkan, tinggi gelombang 1,25 meter hingga 2,5 meter akan terjadi di perairan Selat Malaka bagian tengah, Sabang-Banda Aceh, barat Aceh, barat Pulau Simeuleu, barat Kepulauan Nias, Barau, Kepulauan Mentawai, Bengkulu, Pulau Enggano, Selat Malaka bagian utara, Samudera Hindia barat Sumatera, Kepulauan Natuna, kepulauan Anambas, Laut Natuna Utara, barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, selatan Jawa, selatan Bali dan NTB, Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, dan Selat Sumba.

Selanjutnya, gelombang dengan ketinggian yang sama juga akan terjadi di selat Makassar bagian selatan, utara Sulawesi, Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, Bitung-Manado, Laut Maluku, Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, Laut Banda, Wakatobi, Bau-Bau, Selayar, Laut Flores, selatan Flores, Laut Sawu, Pulau Rote-Sabu, Laut Timor, Kepulauan Sermata-Leti, Kepulauan Babar-Tanimbar, utara Raja Ampat-Sorong, Manokwari, Biak, Sarmi-Jayapura, Samudera Pasifik utara Papua, Kepulauan Kai dan Aru, Laut Aru dan Laut Arafuru bagian timur.

Baca Juga :  Rela Kehilangan Pekerjaan Mengejar Pemusatan Latihan

 

POTENSI HUJAN DI MALAM HARI

Prakirawan Cuaca, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan Wiliam mengatakan, untuk wilayah Kaltara angin umumnya itu berhembus dari barat daya, barat laut. Sementara untuk pola anginnya, terdapat belokan angin di wilayah Kaltara.

Sementara untuk potensi cuaca tiga hari ke depan di wilayah Kaltara ini umumnya berawan, masih berpotensi hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah. Pagi dan siang hari umumnya berawan, sedangkan hujan di malam dan dini hari.

“Di lima wilayah di Kaltara ada potensi hujan di malam hari, hampir di semua kabupaten dan kota,” katanya.

Sementara untuk tinggi gelombang, di perairan Kaltara yakni 0,25 hingga 1 meter dan Sulawesi bagian barat mencapai 0,75 hingga 1,5 meter. Jadi untuk kategori resiko gelombang untuk perahu nelayan itu kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. “Jadi masih aman, hanya saja untuk perahu nelayan itu harus tetap waspada karena tinggi gelombang cukup tinggi,” ujarnya.

Wiliam mengimbau agar masyarakat khususnya nelayan yang menggunakan perahu kecil agar berhati-hati karena angin juga cukup kencang dan berkisar 6 sampai 15 knot untuk perairan Kaltara.

Sementara itu, BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku sejak 23 hingga 26 Desember 2018. Dalam keterangannya terdapat pola tekanan rendah 1.006 hPa di Samudera Pasifik utara Halmahera. Pola angin umumnya bergerak dari barat-barat laut pada wilayah Indonesia bagian utara dengan kecepatan angin berkisar antara 5-20 knot, sementara di bagian selatan Indonesia angin bergerak dari barat daya-barat laut dengan kecepatan angin berkisar antara 5–25 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Jawa bagian barat, Laut Sulawesi, perairan utara Halmahera hingga Papua kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di wilayah-wilayah tersebut.

Sehingga diimbau agar perahu nelayan, kapal tongkang, kapal feri, kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar dan masyarakat yang melakukan aktivitas di pesisir barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, NTB, NTT, serta daerah lainnya khususnya yang tercantum dalam daftar peringatan dini di atas harap mempertimbangkan kondisi tersebut.

“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisisr sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada,” kata Kepala Sub Bidang Analisa dan Prediksi Meteorologi Maritim Zairo Hendrawan, S.T.

Sementara, Kepala Markas PMI Kaltara Amrin, S.E, mengatakan untuk sementara waktu pihaknya masih memonitor perkembangan di lokasi bencana di Banten dan Lampung. Nanti jika sudah mendapatkan perkembangan di sana seperti apa maka akan dibuka dan menerima sumbangan.

“Yah untuk saat ini kami masih koordinasi dan menunggu perkembangan dari sana, karena semuanya perlu prosedur. Begitu juga untuk pengiriman relawan, juga perlu koordinasi terlebih dahulu,” ujarnya.

Baca Juga :  Tak Semua Komorbid Bisa Divaksinasi

 

PENUMPANG PATUHI ASPEK KESELAMATAN

Satu hari menjelang perayaan Natal, lonjakan penumpang terjadi di Pelabuhan Tengkayu I (SDF), Senin (24/12).

Seluruh speedboat reguler tujuan Tanjung Selor, Malinau, Nunukan, Sebatik, Tana Tidung penuh penumpang.

Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli pada KSOP Kelas III Tarakan Syaharuddin mengatakan, lonjakan penumpang yang terjadi di Pelabuhan Tengkayu I mencapai sekitar 2 persen, jumlah ini dirinya nilai lebih tinggi dari lonjakan pada hari sebelumnya.

“Kemarin lonjakannya mencapai 1,9 persen, kami perkirakan hari ini puncaknya, di mana penumpang yang akan berangkat meningkat menjadi 2 persen,” bebernya.

Dirinya menjelaskan tingginya lonjakan penumpang kali ini karena mendekati Natal. Mereka yang akan merayakan Natal dan berkumpul bersama keluarga.

“Karena kami memperkirakan merupakan puncak lonjakan penumpang, seluruh personil KSOP kami turunkan dibantu personil dari pihak kepolisian, Kesehatan Pelabuhan, Dinas Perhubungan dan instansi terkait,” tuturnya.

Belum ada penambahan armada karena mengingat masih cukup mengangkut penumpang yang akan berangkat.

“Saya rasa untuk penambahan armada saat ini tidak dilakukan, karena jumlah armada speedboat yang ada saat ini yakni 52 armada, memang ada 4 armada speedboat cadangan, namun itu digunakan ketika ada armada speedboat yang tidak bisa berangkat karena mengalami kerusakan atau ada kendala yang membuat tidak bisa berangkat,” ujarnya.

Sementara pengecekan alat keselamatan seperti life jacket atau jaket pelampung, masih dilakukan petugas KSOP Kelas III Tarakan. Tujuan pengecekan tidak lain untuk memastikan alat keselamatan yang digunakan oleh penumpang layak untuk digunakan.

“Memang dalam pengecekan yang kami lakukan, masih ditemukan satu hingga dua jaket pelampung yang tidak layak, namun oleh nakhoda kapal sudah menggantinya dengan yang baru, karena kebetulan mereka memiliki stok life jacket yang layak,” ungkapnya.

Dirinya juga mengimbau kepada nakhoda kapal untuk tetap waspada ketika akan berlayar. “Semoga semuanya lancar, kita tidak berharap adanya kejadian kecelakaan,” ujarnya.

Salah seorang penumpang tujuan Tana Tidung, Feni Suryanti mengatakan, dirinya terpaksa pulang Senin usai menyelesaikan tugas kantor.

“Rencananya mau berangkat hari Minggu, namun karena masih ada pekerjaan jadi baru bisa hari ini,” tuturnya.

Dirinya menjelaskan keberangkatan kali ini tidak lain ingin berkumpul dengan keluarganya yang ada di Tana Tidung, sekaligus melepas kangen dengan kedua orang tuanya. “Paling kalau ke sana pada saat Idulfitri saja, kebetulan ada libur panjang jadi saya berangkat ke sana,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Rian, dirinya baru bisa berangkat hari Senin dikarenakan masih ada pertemuan tahunan di kantornya. “Rencananya dari kemarin-kemarin mau berangkatnya, tapi masih ada kegiatan di kantor, jadi baru bisa berangkatnya hari ini,” tuturnya.

Dirinya menjelaskan momen liburan panjang kali ini dirinya manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga besarnya yang ada di Malinau. “Selain berkumpul dengan keluarga, saya juga ingin bertemu dengan teman-teman saya di sana,” ujarnya. (jnr/*/naa/lim)

 

TARAKAN – Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut memberikan peringatan akan adanya cuaca ekstrem tujuh hari ke depan. Hal itu dituangkan dalam Maklumat Pelayaran (Mapel) No: Tlx.78/XII/ /DN-18 tanggal 23 Desember 2018.

Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli pada KSOP Kelas III Tarakan Syaharuddin mengatakan, Mapel tersebut ditujukan pada seluruh Kantor Kesyahbandaran Utama, KSOP, KSOP Khusus Batam, Kantor Unit Penyelenggaran Pelabuhan (UPP), dan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PPLP) serta Distrik Navigasi di seluruh Indonesia.

“Mapel ini meminta seluruh jajaran yang ada di bawah Ditjen Perhubungan Laut agar mengantisipasi cuaca ekstrem untuk tujuah hari ke depan di beberapa daerah di Indonesia,” tuturnya, Senin (24/12).

Terkait hal ini pihaknya telah mengimbau kepada seluruh nakhoda kapal maupun speedboat yang akan berlayar untuk saling berkoordinasi terkait kondisi cuaca saat akan berlayar.

“Koordinasi melalui radio sangat penting agar nakhoda mengetahui update terbaru terkait kondisi cuaca, bila terjadi sesuatu hal yang dapat mengancam nyawa, segera lakukan koordinasi dengan stasiun radio pantai, kapal dan speedboat terdekat untuk meminta pertolongan,” ujarnya.

Selain itu dirinya meminta kepada nakhoda kapal ataupun speedboat menggunakan pengalamannya menghadapi situasi ketika terjadi cuaca buruk. “Nakhoda harus gunakan pengalamannya menghadapi situasi genting, untuk meminimalisir jatuhnya korban,” ucapnya.

Dirinya menjelaskan sejauh ini kondisi pelayaran masih terpantau aman, belum ada laporan terkait kondisi cuaca buruk yang menimpa kapal dan speedboat. “Meski hingga saat ini belum ada laporan terkait kondisi cuaca buruk, kita tetap mengimbau kepada nakhoda kapal dan speedboat ketika akan berlayar untuk lebih hati-hati,” tuturnya.

Sejauh ini perairan yang yang perlu diwaspadai adalah perairan Nunukan dan Sebatik. Dua wilayah perairannya terbuka ke laut lepas. “Berharap semua pelayaran yang di Kaltara ini semuanya berjalan dengan lancar, tanpa ada sesuatu hal yang membahayakan pelayaran,” ujarnya.

Sebelumnya Ditjen Perhubungan Laut menerbitkan  Mapel No: Tlx.78/XII/ /DN-18 tanggal 23 Desember 2018. Isinya, mengingatkan kepada semua pihak terkait tentang adanya cuaca ekstrem yang akan terjadi dalam tujuh hari ke depan.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Junaidi yang menadatangani Mapel tersebut menyebutkan, berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi Kimatologi, dan Geofisika (BMKG) per tanggal 22 Desember 2018, diperkirakan pada 22-28 Desember 2018, cuaca ekstrem dengan tinggi gelombang 2,5-4 meter dan hujan lebat akan terjadi di perairan Pulau Rote-Sabu. Perairan Selatan Sumbawa, dan Pulau Sumba dan Samudra Pasifik Utara Halmahera.

Disebutkan, tinggi gelombang 1,25 meter hingga 2,5 meter akan terjadi di perairan Selat Malaka bagian tengah, Sabang-Banda Aceh, barat Aceh, barat Pulau Simeuleu, barat Kepulauan Nias, Barau, Kepulauan Mentawai, Bengkulu, Pulau Enggano, Selat Malaka bagian utara, Samudera Hindia barat Sumatera, Kepulauan Natuna, kepulauan Anambas, Laut Natuna Utara, barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, selatan Jawa, selatan Bali dan NTB, Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, dan Selat Sumba.

Selanjutnya, gelombang dengan ketinggian yang sama juga akan terjadi di selat Makassar bagian selatan, utara Sulawesi, Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, Bitung-Manado, Laut Maluku, Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, Laut Banda, Wakatobi, Bau-Bau, Selayar, Laut Flores, selatan Flores, Laut Sawu, Pulau Rote-Sabu, Laut Timor, Kepulauan Sermata-Leti, Kepulauan Babar-Tanimbar, utara Raja Ampat-Sorong, Manokwari, Biak, Sarmi-Jayapura, Samudera Pasifik utara Papua, Kepulauan Kai dan Aru, Laut Aru dan Laut Arafuru bagian timur.

Baca Juga :  Pilih Sesuai Hati Nurani

 

POTENSI HUJAN DI MALAM HARI

Prakirawan Cuaca, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan Wiliam mengatakan, untuk wilayah Kaltara angin umumnya itu berhembus dari barat daya, barat laut. Sementara untuk pola anginnya, terdapat belokan angin di wilayah Kaltara.

Sementara untuk potensi cuaca tiga hari ke depan di wilayah Kaltara ini umumnya berawan, masih berpotensi hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah. Pagi dan siang hari umumnya berawan, sedangkan hujan di malam dan dini hari.

“Di lima wilayah di Kaltara ada potensi hujan di malam hari, hampir di semua kabupaten dan kota,” katanya.

Sementara untuk tinggi gelombang, di perairan Kaltara yakni 0,25 hingga 1 meter dan Sulawesi bagian barat mencapai 0,75 hingga 1,5 meter. Jadi untuk kategori resiko gelombang untuk perahu nelayan itu kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. “Jadi masih aman, hanya saja untuk perahu nelayan itu harus tetap waspada karena tinggi gelombang cukup tinggi,” ujarnya.

Wiliam mengimbau agar masyarakat khususnya nelayan yang menggunakan perahu kecil agar berhati-hati karena angin juga cukup kencang dan berkisar 6 sampai 15 knot untuk perairan Kaltara.

Sementara itu, BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku sejak 23 hingga 26 Desember 2018. Dalam keterangannya terdapat pola tekanan rendah 1.006 hPa di Samudera Pasifik utara Halmahera. Pola angin umumnya bergerak dari barat-barat laut pada wilayah Indonesia bagian utara dengan kecepatan angin berkisar antara 5-20 knot, sementara di bagian selatan Indonesia angin bergerak dari barat daya-barat laut dengan kecepatan angin berkisar antara 5–25 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Jawa bagian barat, Laut Sulawesi, perairan utara Halmahera hingga Papua kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di wilayah-wilayah tersebut.

Sehingga diimbau agar perahu nelayan, kapal tongkang, kapal feri, kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar dan masyarakat yang melakukan aktivitas di pesisir barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, NTB, NTT, serta daerah lainnya khususnya yang tercantum dalam daftar peringatan dini di atas harap mempertimbangkan kondisi tersebut.

“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisisr sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada,” kata Kepala Sub Bidang Analisa dan Prediksi Meteorologi Maritim Zairo Hendrawan, S.T.

Sementara, Kepala Markas PMI Kaltara Amrin, S.E, mengatakan untuk sementara waktu pihaknya masih memonitor perkembangan di lokasi bencana di Banten dan Lampung. Nanti jika sudah mendapatkan perkembangan di sana seperti apa maka akan dibuka dan menerima sumbangan.

“Yah untuk saat ini kami masih koordinasi dan menunggu perkembangan dari sana, karena semuanya perlu prosedur. Begitu juga untuk pengiriman relawan, juga perlu koordinasi terlebih dahulu,” ujarnya.

Baca Juga :  Rela Kehilangan Pekerjaan Mengejar Pemusatan Latihan

 

PENUMPANG PATUHI ASPEK KESELAMATAN

Satu hari menjelang perayaan Natal, lonjakan penumpang terjadi di Pelabuhan Tengkayu I (SDF), Senin (24/12).

Seluruh speedboat reguler tujuan Tanjung Selor, Malinau, Nunukan, Sebatik, Tana Tidung penuh penumpang.

Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli pada KSOP Kelas III Tarakan Syaharuddin mengatakan, lonjakan penumpang yang terjadi di Pelabuhan Tengkayu I mencapai sekitar 2 persen, jumlah ini dirinya nilai lebih tinggi dari lonjakan pada hari sebelumnya.

“Kemarin lonjakannya mencapai 1,9 persen, kami perkirakan hari ini puncaknya, di mana penumpang yang akan berangkat meningkat menjadi 2 persen,” bebernya.

Dirinya menjelaskan tingginya lonjakan penumpang kali ini karena mendekati Natal. Mereka yang akan merayakan Natal dan berkumpul bersama keluarga.

“Karena kami memperkirakan merupakan puncak lonjakan penumpang, seluruh personil KSOP kami turunkan dibantu personil dari pihak kepolisian, Kesehatan Pelabuhan, Dinas Perhubungan dan instansi terkait,” tuturnya.

Belum ada penambahan armada karena mengingat masih cukup mengangkut penumpang yang akan berangkat.

“Saya rasa untuk penambahan armada saat ini tidak dilakukan, karena jumlah armada speedboat yang ada saat ini yakni 52 armada, memang ada 4 armada speedboat cadangan, namun itu digunakan ketika ada armada speedboat yang tidak bisa berangkat karena mengalami kerusakan atau ada kendala yang membuat tidak bisa berangkat,” ujarnya.

Sementara pengecekan alat keselamatan seperti life jacket atau jaket pelampung, masih dilakukan petugas KSOP Kelas III Tarakan. Tujuan pengecekan tidak lain untuk memastikan alat keselamatan yang digunakan oleh penumpang layak untuk digunakan.

“Memang dalam pengecekan yang kami lakukan, masih ditemukan satu hingga dua jaket pelampung yang tidak layak, namun oleh nakhoda kapal sudah menggantinya dengan yang baru, karena kebetulan mereka memiliki stok life jacket yang layak,” ungkapnya.

Dirinya juga mengimbau kepada nakhoda kapal untuk tetap waspada ketika akan berlayar. “Semoga semuanya lancar, kita tidak berharap adanya kejadian kecelakaan,” ujarnya.

Salah seorang penumpang tujuan Tana Tidung, Feni Suryanti mengatakan, dirinya terpaksa pulang Senin usai menyelesaikan tugas kantor.

“Rencananya mau berangkat hari Minggu, namun karena masih ada pekerjaan jadi baru bisa hari ini,” tuturnya.

Dirinya menjelaskan keberangkatan kali ini tidak lain ingin berkumpul dengan keluarganya yang ada di Tana Tidung, sekaligus melepas kangen dengan kedua orang tuanya. “Paling kalau ke sana pada saat Idulfitri saja, kebetulan ada libur panjang jadi saya berangkat ke sana,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Rian, dirinya baru bisa berangkat hari Senin dikarenakan masih ada pertemuan tahunan di kantornya. “Rencananya dari kemarin-kemarin mau berangkatnya, tapi masih ada kegiatan di kantor, jadi baru bisa berangkatnya hari ini,” tuturnya.

Dirinya menjelaskan momen liburan panjang kali ini dirinya manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga besarnya yang ada di Malinau. “Selain berkumpul dengan keluarga, saya juga ingin bertemu dengan teman-teman saya di sana,” ujarnya. (jnr/*/naa/lim)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/