alexametrics
29.7 C
Tarakan
Monday, August 8, 2022

Pemkot Jangan Tebang Pilih

TARAKAN – Menjelang beberapa hari ditutupnya, pengelola lokalisasi Sungai Bengawan menegaskan kegiatan karaoke tetap berjalan nantinya. Kendati penutupan berdasarkan instruksi Kementerian Sosial (Kemensos) itu telah berjalan.

Disampaikan Erlan Susanto, koordinator sekaligus penanggung jawab Lokalisasi Sungai Bengawan penutupan hanya berlaku pada kegiatan lokalisasi dan prostitusi saja, namun tidak untuk kegiatan karaoke.

Ia melanjutkan, jika nantinya kegiatan karaoke juga harus ditutup Pemerintah Kota (Pemkot), maka ia meminta keadilan . Dengan menutup seluruh tempat hiburan malam (THM) yang diduga melakukan praktik prostitusi.

“Penutupan prostitusi itu sangat saya dukung. Sungai Bengawan ini bukan hanya ada kegiatan prostitusi saja, tapi ada hiburan karaoke juga di sini. Kalau kegiatan itu juga dilarang, jangan tebang pilih. Bagaimana tempat hiburan yang jelas-jelas ada prostitusi terselubung seperti di pusat kota. Saya pikir itu juga harus ditutup meskipun izinnya karaoke, hotel, salon, atau pijat,” nilai Erlan, kemarin (24/12).

Ia meyakini, sebagian besar THM yang berada di pusat kota menjalankan praktik prostitusi terselubung. Sehingga menurutnya, jika pemerintah benar-benar ingin membersihkan tempat maksiat, maka THM tersebut juga harus ditutup.

“Yang jelas karaokean nanti tetap berjalan, kalau semua mau ditutup dengan alasan mendekati maksiat, coba lihat THM yang di kota itu! Apa kabarnya? Kalau mereka izinnya hotel atau karaoke, coba jalan-jalan ke sana bagaimana pelayanannya. Kalau orang tanya saya tahu dari mana, saya orang lama di sini, saya tahu seluk beluk dunia prostitusi di Tarakan,” bebernya.

Baca Juga :  Sandwich Panggang Tuna

Mengenai wacana Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang akan mendorong penutupan tempat maksiat secara bertahap, ia menjelaskan jika penutupan tidak dilakukan secara serentak, maka hal tersebut tidak akan pernah selesai. Menurutnya, penutupan bertahap akan berpotensi menimbulkan kawasan maksiat baru.

“Kalau penutupan bertahap, itu tidak selesai. Saya berani katakan, contohnya program Pak Wali Kota pertama (Jusuf SK) bertahap, akhirnya tambah berkembang di tengah kota. Coba waktu itu dilanjutkan dengan wali kota selanjutnya, maka tidak akan terjadi begini. Karena cara itulah THM bertambah karena barang ini kebutuhan manusia. Ditutup satu, yang muncul tiga,” tuturnya.

Ia melanjutkan, sebagai orang yang malang melintang di dunia hitam, menurutnya perlu ada sikap ketegasan dari pemerintah jika benar-benar ingin terbebas dari jeratan maksiat.

Baca Juga :  Kata Sekretarisnya, Kecil Peluang Jusuf SK Bersanding dengan Petahana

“Kalau misalnya mau bersihkan tempat maksiat, yah bersihkan semua. Jangan tebang pilih, yang menjadi potensi maksiat ditutup apapun izinnya. Kalau kepenginnya begitu, memang harus,” sarannya.

Meski demikian, ia bersyukur telah mendapat respons positif terkait perizinan karaoke yang tetap diizinkan beroperasi setelah penutupan aktivitas prostitusi. Walau begitu, dikatakannya pihaknya selalu siap mengikuti segala aturan yang ditetapkan pemerintah.

“Untungnya kami masih diberi kesempatan masih bisa buka karaoke. Yang diubah cuma lokalisasi dan prostitusinya. Tapi bagaimana dengan praktiknya. Kami ini selalu menaati peraturan apa yang dianjurkan,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua MUI Tarakan Syamsi Sarman saat dikonfirmasi beberapa hari lalu mengungkapkan, ia tidak keberatan jika akvitas karaoke tetap berjalan. Pihaknya telah mendapat jaminan dari kepolisian dan Satpol PP untuk memantau aktivitas di lokasi tersebut.

“Kalau kekhawatiran nanti masih berjalannya  transaksi prostitusi  terselubung di tempat karaokenya, kan sudah dijamin oleh kepolisian dan Satpol PP untuk mengawasi. Kalau selama ini kami hanya pembinaan dan keputusan pemerintah ini tidak dipatuhi, saya kira nanti ini bisa langsung masuk ke pidana,” ujarnya. (*/zac/lim)

TARAKAN – Menjelang beberapa hari ditutupnya, pengelola lokalisasi Sungai Bengawan menegaskan kegiatan karaoke tetap berjalan nantinya. Kendati penutupan berdasarkan instruksi Kementerian Sosial (Kemensos) itu telah berjalan.

Disampaikan Erlan Susanto, koordinator sekaligus penanggung jawab Lokalisasi Sungai Bengawan penutupan hanya berlaku pada kegiatan lokalisasi dan prostitusi saja, namun tidak untuk kegiatan karaoke.

Ia melanjutkan, jika nantinya kegiatan karaoke juga harus ditutup Pemerintah Kota (Pemkot), maka ia meminta keadilan . Dengan menutup seluruh tempat hiburan malam (THM) yang diduga melakukan praktik prostitusi.

“Penutupan prostitusi itu sangat saya dukung. Sungai Bengawan ini bukan hanya ada kegiatan prostitusi saja, tapi ada hiburan karaoke juga di sini. Kalau kegiatan itu juga dilarang, jangan tebang pilih. Bagaimana tempat hiburan yang jelas-jelas ada prostitusi terselubung seperti di pusat kota. Saya pikir itu juga harus ditutup meskipun izinnya karaoke, hotel, salon, atau pijat,” nilai Erlan, kemarin (24/12).

Ia meyakini, sebagian besar THM yang berada di pusat kota menjalankan praktik prostitusi terselubung. Sehingga menurutnya, jika pemerintah benar-benar ingin membersihkan tempat maksiat, maka THM tersebut juga harus ditutup.

“Yang jelas karaokean nanti tetap berjalan, kalau semua mau ditutup dengan alasan mendekati maksiat, coba lihat THM yang di kota itu! Apa kabarnya? Kalau mereka izinnya hotel atau karaoke, coba jalan-jalan ke sana bagaimana pelayanannya. Kalau orang tanya saya tahu dari mana, saya orang lama di sini, saya tahu seluk beluk dunia prostitusi di Tarakan,” bebernya.

Baca Juga :  BI Siapkan Langkah Dukung PEN, Ini yang Dilakukan...

Mengenai wacana Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang akan mendorong penutupan tempat maksiat secara bertahap, ia menjelaskan jika penutupan tidak dilakukan secara serentak, maka hal tersebut tidak akan pernah selesai. Menurutnya, penutupan bertahap akan berpotensi menimbulkan kawasan maksiat baru.

“Kalau penutupan bertahap, itu tidak selesai. Saya berani katakan, contohnya program Pak Wali Kota pertama (Jusuf SK) bertahap, akhirnya tambah berkembang di tengah kota. Coba waktu itu dilanjutkan dengan wali kota selanjutnya, maka tidak akan terjadi begini. Karena cara itulah THM bertambah karena barang ini kebutuhan manusia. Ditutup satu, yang muncul tiga,” tuturnya.

Ia melanjutkan, sebagai orang yang malang melintang di dunia hitam, menurutnya perlu ada sikap ketegasan dari pemerintah jika benar-benar ingin terbebas dari jeratan maksiat.

Baca Juga :  Kata Sekretarisnya, Kecil Peluang Jusuf SK Bersanding dengan Petahana

“Kalau misalnya mau bersihkan tempat maksiat, yah bersihkan semua. Jangan tebang pilih, yang menjadi potensi maksiat ditutup apapun izinnya. Kalau kepenginnya begitu, memang harus,” sarannya.

Meski demikian, ia bersyukur telah mendapat respons positif terkait perizinan karaoke yang tetap diizinkan beroperasi setelah penutupan aktivitas prostitusi. Walau begitu, dikatakannya pihaknya selalu siap mengikuti segala aturan yang ditetapkan pemerintah.

“Untungnya kami masih diberi kesempatan masih bisa buka karaoke. Yang diubah cuma lokalisasi dan prostitusinya. Tapi bagaimana dengan praktiknya. Kami ini selalu menaati peraturan apa yang dianjurkan,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua MUI Tarakan Syamsi Sarman saat dikonfirmasi beberapa hari lalu mengungkapkan, ia tidak keberatan jika akvitas karaoke tetap berjalan. Pihaknya telah mendapat jaminan dari kepolisian dan Satpol PP untuk memantau aktivitas di lokasi tersebut.

“Kalau kekhawatiran nanti masih berjalannya  transaksi prostitusi  terselubung di tempat karaokenya, kan sudah dijamin oleh kepolisian dan Satpol PP untuk mengawasi. Kalau selama ini kami hanya pembinaan dan keputusan pemerintah ini tidak dipatuhi, saya kira nanti ini bisa langsung masuk ke pidana,” ujarnya. (*/zac/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/