alexametrics
26.7 C
Tarakan
Friday, August 12, 2022

PDAM Akui Persoalan Air Sangat Rumit

TARAKAN – Rumitnya permasalahan air di Kota Tarakan membuat Perusahaan Daerah  Air Minum (PDAM) Tirta Alam harus memutar otak agar persediaan air di Bumi Paguntaka bisa terpenuhi.

Direktur PDAM Usman Said Assegaf mengungkapkan, dengan kondisi minimnya sumber air, mau tidak mau PDAM harus mencari alternatif seperti tangkapan air yang berada di Juata Kerikil.

“Saya pikir PDAM Tarakan ini aneh karena memang rumit. Saya pernah diskusi dengan profesornya Universitas Sebelas Maret, mereka mengakui persoalan air di sini sangat rumit. Secara spesifik tidak ada samanya dengan daerah lain dari bentuk datarannya, tanahnya, mata airnya, sampai sungainya,” ujarnya, Senin (24/12).

Ia menerangkan, rumitnya permasalahan air di Kota Tarakan, sehingga beberapa daerah mengapresiasi upaya PDAM Tarakan karena tetap bisa menjalankan operasional dalam mencari alternatif sendiri. Bahkan beberapa daerah meminta bimbingan kepada PDAM Tarakan untuk menyelesaikan permasalahan krisis air yang melanda daerahnya. “DPRD Bontang pernah belajar ke sini. Karena masalahnya mereka itu hampir mirip dengan di sini, cuma bedanya sumbernya di Bontang dari sumur bor, sedangkan di Tarakan tadah hujan. Sekarang sungai bor mereka mulai mengering makanya mereka panik. Makanya beberapa hari lalu ke sini belajar bagaimana cara membuat embung dan tangkapan air,” tuturnya.

Baca Juga :  Giliran Motor Terbakar di SPBU

Ia melanjutkan, karena sulitnya kondisi air, secara terang-terangan pihaknya sudah tidak lagi mengikuti standar prosedur operasional yang ada. Hal tersebut dikarenakan kondisi Tarakan yang berbeda sehingga prosedur operasional yang ada tidak dapat diterapkan untuk kondisi alam di Kota Tarakan akibat beberapa faktor. “Kami harus lihat jalur, kalau misalnya di sana tidak ada perpipaan kami harus pasang pipa lagi. Terkadang tidak standar karena keadaan keadaan darurat. Kalau betul-betul mau dibuat standar kisaran Rp 25 miliar. Belum lagi sistem penyaluran air. Tiap 6 bulan sesuai standar pipa harus dicuci, namun karena persediaan air kita kurang kami tidak lakukan itu. Karena mencuci pipa ini butuh persediaan air besar yang dibuang. Jangankan mau pakai cuci pipa, buat didistribusikan saja masih kurang,” bebernya.

Baca Juga :  Butuh Bantuan Material Bangunan

Selain faktor alam, mahalnya budget yang diperlukan dalam mengikuti standar dinilai cukup berat. Karena menurutnya dana yang dibutuhkan dalam setiap standar memerlukan biaya yang cukup besar. Sehingga mau tidak mau pihaknya harus mencari cara alternatif agar persediaan air tetap terjaga.

“Itu hanya konstruksinya belum termasuk pompanya. Jadi sama kita membuat embung bengawan 3 hektare makan biaya Rp 150 miliar misalnya. Bayangkan dengan tambak udang sampai 6 hektare pasti tidak sampai segitu. Begitula kira-kira perbandingannya,” jelasnya.

Menurutnya, jika PDAM berlarut-larut menunggu bantuan APBN dan APBD setiap tahun maka untuk menciptakan tambahan produksi kemungkinannya sangatlah kecil. Oleh karena itu, pihaknya menciptakan wadah sederhana. “Jadi kami pakai pintu papan, kalau itu pakai konstruksi sesuai standar dibutuhkan RP 25 miliar, karena harus membebaskan lahan, kemudian mengeruk lagi, belum lagi pompa, listriknya, dan pengamanan. Kalau PAD Tarakan dipakai buat infrastruktur PDAM anggaran PAD bisa habis di PDAM semua,” ungkapnya. (*/zac/ash)

TARAKAN – Rumitnya permasalahan air di Kota Tarakan membuat Perusahaan Daerah  Air Minum (PDAM) Tirta Alam harus memutar otak agar persediaan air di Bumi Paguntaka bisa terpenuhi.

Direktur PDAM Usman Said Assegaf mengungkapkan, dengan kondisi minimnya sumber air, mau tidak mau PDAM harus mencari alternatif seperti tangkapan air yang berada di Juata Kerikil.

“Saya pikir PDAM Tarakan ini aneh karena memang rumit. Saya pernah diskusi dengan profesornya Universitas Sebelas Maret, mereka mengakui persoalan air di sini sangat rumit. Secara spesifik tidak ada samanya dengan daerah lain dari bentuk datarannya, tanahnya, mata airnya, sampai sungainya,” ujarnya, Senin (24/12).

Ia menerangkan, rumitnya permasalahan air di Kota Tarakan, sehingga beberapa daerah mengapresiasi upaya PDAM Tarakan karena tetap bisa menjalankan operasional dalam mencari alternatif sendiri. Bahkan beberapa daerah meminta bimbingan kepada PDAM Tarakan untuk menyelesaikan permasalahan krisis air yang melanda daerahnya. “DPRD Bontang pernah belajar ke sini. Karena masalahnya mereka itu hampir mirip dengan di sini, cuma bedanya sumbernya di Bontang dari sumur bor, sedangkan di Tarakan tadah hujan. Sekarang sungai bor mereka mulai mengering makanya mereka panik. Makanya beberapa hari lalu ke sini belajar bagaimana cara membuat embung dan tangkapan air,” tuturnya.

Baca Juga :  Empat Hari Tak Bisa Menutup Mata

Ia melanjutkan, karena sulitnya kondisi air, secara terang-terangan pihaknya sudah tidak lagi mengikuti standar prosedur operasional yang ada. Hal tersebut dikarenakan kondisi Tarakan yang berbeda sehingga prosedur operasional yang ada tidak dapat diterapkan untuk kondisi alam di Kota Tarakan akibat beberapa faktor. “Kami harus lihat jalur, kalau misalnya di sana tidak ada perpipaan kami harus pasang pipa lagi. Terkadang tidak standar karena keadaan keadaan darurat. Kalau betul-betul mau dibuat standar kisaran Rp 25 miliar. Belum lagi sistem penyaluran air. Tiap 6 bulan sesuai standar pipa harus dicuci, namun karena persediaan air kita kurang kami tidak lakukan itu. Karena mencuci pipa ini butuh persediaan air besar yang dibuang. Jangankan mau pakai cuci pipa, buat didistribusikan saja masih kurang,” bebernya.

Baca Juga :  Dipaksa Zonasi, tapi Pembangunan Tak Merata

Selain faktor alam, mahalnya budget yang diperlukan dalam mengikuti standar dinilai cukup berat. Karena menurutnya dana yang dibutuhkan dalam setiap standar memerlukan biaya yang cukup besar. Sehingga mau tidak mau pihaknya harus mencari cara alternatif agar persediaan air tetap terjaga.

“Itu hanya konstruksinya belum termasuk pompanya. Jadi sama kita membuat embung bengawan 3 hektare makan biaya Rp 150 miliar misalnya. Bayangkan dengan tambak udang sampai 6 hektare pasti tidak sampai segitu. Begitula kira-kira perbandingannya,” jelasnya.

Menurutnya, jika PDAM berlarut-larut menunggu bantuan APBN dan APBD setiap tahun maka untuk menciptakan tambahan produksi kemungkinannya sangatlah kecil. Oleh karena itu, pihaknya menciptakan wadah sederhana. “Jadi kami pakai pintu papan, kalau itu pakai konstruksi sesuai standar dibutuhkan RP 25 miliar, karena harus membebaskan lahan, kemudian mengeruk lagi, belum lagi pompa, listriknya, dan pengamanan. Kalau PAD Tarakan dipakai buat infrastruktur PDAM anggaran PAD bisa habis di PDAM semua,” ungkapnya. (*/zac/ash)

Most Read

Artikel Terbaru

/