alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

Menyebarluaskan Kasih dan Sukacita Natal

TARAKAN – Ibadah misa Natal atau malam Natal menyambut kelahiran Yesus Kristus berlangsung khidmat di Gereja Katolik Santa Maria Imakulata Kota Tarakan, Senin (24/12).

Pastor Asistensi, RD. Alfons Wungubelen mengatakan, banyaknya umat atau jemaat Katolik yang beribadah, ibadah perayaan ekaristi malam Natal ini pun dilaksanakan dua kali. Agar umat dapat beribadah dengan tenang, damai dan mengikuti perayaan dengan baik.

Ibadah pertama dilaksanakan pada pukul 17.30 WITA hingga pukul 19.30 WITA. Kemudian disusul ibadah kedua yang dimulai pukul 20.00 WITA hingga pukul 22.00 WITA. “Kapasitas gedung gereja bisa menampung seribu lebih orang. Jadi yang hadir pada ibadah misa Natal pertama sekitar seribu orang, dan yang kedua pun sama,” terangnya kepada Radar Tarakan, Senin (24/12).

Alfons menjelaskan, perayaan malam Natal ini memperingati kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Menurut iman Katolik, Yesus lahir di kandang Betlehem dan ditempatkan di dalam palungan. Kelahiran Juru selamat atau Tuhan Yesus ini datang untuk mendamaikan dan menyelamatkan manusia.

“Jadi itu yang kami rayakan pada sore dan malam hari ini. Suasana perayaan pun berbeda, ada aksesori kandang Natal dan patung Tuhan Yesus. Dekorasinya berbeda, yang menggambarkan kelahiran Yesus, sehingga suasana umat beribadah pun berbeda dari hari biasanya,” lanjutnya.

Senada dengan kelahiran Yesus Kristus, tema misa Natal 2018 ini adalah “Dengan Semangat Natal Kita Membangun Kebersamaan, Persaudaraan dan Kasih.”

“Itu merangkum seluruh makna dari kelahiran Yesus Kristus,” katanya.

Pastor asistensi yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mengimbau bagi umat Kristiani di Tarakan dapat membangun kehidupan dan iman yang lebih baik. Semangat beribadah yang lebih sungguh, sehingga dapat menyebarluaskan kasih dan sukacita di lingkungan masyarakat yang beragam.

“Pesan-pesan bagi umat Kristiani di paroki dan seluruh umat Kristiani, mari kita membangun kehidupan iman yang lebih baik. Supaya kita mampu menyebarluaskan semangat kasih dan sukacita di lingkungan sekitar, di lingkungan kerja dan di lingkungan masyarakat yang beragam,” imbaunya. (*/one)

 

BERBURU BAJU NATAL

Merayakan Natal, masyarakat nasrani disibukkan dengan berbagai persiapan. Salah satunya berburu pakaian baru.

Entah itu dikenakan saat pergi ke gereja, maupun bertamu ke rumah kerabat. Serba baru salah satu tradisi masyarakat untuk memeriahkan Natal. Maka tak heran, banyak yang berburu pakaian baru menjelang Natal.

Salah seorang pedagang pakaian di Jalan Yos Sudarso, Komplek THM, Ariani (24) mengaku sejauh ini pembeli lebih banyak berburu baju ukuran orang dewasa. Menjelang Natal, dalam sehari lebih dari 20 orang yang membeli pakaian di tokonya.

Baca Juga :  Kakanwil: Perlu Sinergitas Penanganan Narkoba di Lapas

H-1 Natal ini, sejak pagi pun sudah didatangi pembeli. Maklum ia membuka toko sejak pukul 07.00 WITA, hingga pukul 22.00 WITA. Namun jika ramai pembeli, biasanya ia menutup toko pukul 22.20 WITA. “Alhamdulillah banyak aja pembeli, tadi pagi saja sudah ada pembeli. Kebanyakan yang dicari pakaian dewasa,” katanya.

Menjual berbagai perlengkapan pakaian pria dan wanita dengan harga Rp 100 ribu per lembar. Ia mengaku, sejauh ini pembeli banyak mencari baju batik, khususnya gaun.

Bahkan sejak Minggu (23/12) kemarin, stok gaun bermotif batik ini sudah habis. Gaun yang dipatok harga Rp 120 ribu ini memang banyak dicari, untuk dipakai ke gereja. “Kalau baju anak-anak kosong, karena lebih banyak permintaan pakaian orang dewasa. Apalagi batik paling dicari, yang gaunnya saja sudah habis dari kemarin (Minggu),” bebernya.

Ia mengatakan dibandingkan Natal 2017 lalu, pendapatan atau omzet tak jauh berbeda. Dalam sehari, bisa saja diraupnya Rp 2 juta ke atas.

“Kalau ramainya pembeli Natal tahun lalu, sama aja sih tahun ini. Beda lagi kalau Idulfitri, karena di sini memang mayoritas muslim,” katanya.

Namun berbeda pula dengan Aswandi (19) pedagang di Jalan Gajah Mada, Komplek Gusher. Ia mengatakan, mendekati Hari Raya Natal, lonjakan pembeli seperti hari biasanya, bahkan sepi pembeli. Pembeli hanya hitungan jari, sekitar 10 orang per hari.

“Masih sepi, tapi ada saja yang beli baju. Sehari kami bisa dapat Rp 500 ribu atau bisa lebih,” katanya.

Di tokonya ini, pembeli banyak mencari batik ukuran dewasa dan anak-anak. Apalagi harganya cukup terjangkau. Untuk batik ukuran anak-anak dipatok harga Rp 65 ribu per lembar. Sedangkan batik ukuran dewasa laki-laki dipatok harga Rp 85 ribu per lembar.

Namun berbeda pula dengan baju anak-anak lainnya, seperti gaun. Harganya cukup fantastis. Seperti yang dikatakan Erni (35) yang kebetulan berbelanja di toko tersebut. Gaun yang ia lirik untuk anaknya ini dipatok seharga Rp 165 ribu.

“Mahal sekali, tapi masih bisa kurang. Mau coba lihat-lihat baju yang lain. Ada juga gaun yang harganya Rp 130 ribu, tapi saya tawar jadi Rp 100 ribu,” katanya.

 

Baca Juga :  Komunitas Didaulat Gelar XC Race dan Jambore

REMISI, DUA ORANG BEBAS

Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-A Tarakan kembali memberikan remisi kepada para tahanan nasrani yang berkelakuan baik. Sedikitnya ada dua tahanan yang bebas.

Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan Narapidana dan Anak, Lapas Kelas II-A Tarakan Baliono mengatakan, khusus Lapas Kelas II-A Tarakan, di Natal ada diajukan dua kali usulan. Usulan pertama ada 66 orang, dan kedua ada tambahan menjadi 4 orang.

“Jadi jumlah keseluruhan ada 70 orang, dan surat keputusan (SK) remisi khusus Natal di tahun 2018 sudah keluar semua,” katanya.

Ada 58 orang untuk remisi khusus (RK) 1, dan 2 orang RK 2. Jadi ada 58 orang yang mendapatkan remisi Natal, dan mendapatkan pengurangan masa hukuman atau pidana selama 15 hari, satu bulan, dan paling tinggi dua bulan. Namun yang paling tinggi remisi ini yakni 1 bulan 15 hari.

“Sedangkan untuk RK 2, ada dua yang mendapatkan pengurangan masa hukuman, dan langsung bebas,” ungkapnya.

Yang langsung bebas yakni Hendri Yudhistira bin Maraden Malik dengan kasus penggelapan, dan Herlina alias Lina alias Ladu binti Spiner baru dengan kasus Narkotika. Menjadi pertimbangan sehingga kedua tahanan ini bebas yakni berkelakuan baik serta telah menjalani masa pidana minimal 6 bulan berkelakuan baik. “Itu dibuktikan dengan telah mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, belajar, apel pagi, senam pagi dan diikuti dengan predikat baik,” jelasnya.

Jika sudah menjalani masa pidana 6 bulan berkelakuan baik mendapatkan 15 hari, jika menjalani lebih dari 1 tahun berkelakuan baik mendapatkan sebulan remisi. Sementara untuk yang mendapatkan remisi langsung bebas, berarti sudah dinyatakan bebas dan bisa kembali ke masyarakat.

“Sudah bisa berkumpul dengan keluarga dan sudah tidak ada hak lagi di lapas, karena sudah dikeluarkan dengan mendapatkan remisi bebas,” ujarnya.

Baliono sendiri berharap dengan adanya dua tahanan yang telah bebas dengan remisi, karena remisi merupakan bentuk pengurangan hukuman dan sudah bisa kembali kepada keluarga. Jangan sampai tahanan itu kembali lagi ke dalam penjara. Jika sudah bisa kembali ke masyarakat diharapkan dapat berperan aktif, agar bisa bekerja dengan baik dan menjadi warga negara yang baik.

“Yang pastinya jangan sampai kembali lagi ke sini, cukuplah untuk kali ini saja. Sudah merasakan dan menjalani hukuman dan menjadi contoh kepada masyarakat,” jelasnya.

Untuk diketahui, jumlah tahanan sampai dengan saat ini, 1.231 orang. (*/one/*/naa/lim)

TARAKAN – Ibadah misa Natal atau malam Natal menyambut kelahiran Yesus Kristus berlangsung khidmat di Gereja Katolik Santa Maria Imakulata Kota Tarakan, Senin (24/12).

Pastor Asistensi, RD. Alfons Wungubelen mengatakan, banyaknya umat atau jemaat Katolik yang beribadah, ibadah perayaan ekaristi malam Natal ini pun dilaksanakan dua kali. Agar umat dapat beribadah dengan tenang, damai dan mengikuti perayaan dengan baik.

Ibadah pertama dilaksanakan pada pukul 17.30 WITA hingga pukul 19.30 WITA. Kemudian disusul ibadah kedua yang dimulai pukul 20.00 WITA hingga pukul 22.00 WITA. “Kapasitas gedung gereja bisa menampung seribu lebih orang. Jadi yang hadir pada ibadah misa Natal pertama sekitar seribu orang, dan yang kedua pun sama,” terangnya kepada Radar Tarakan, Senin (24/12).

Alfons menjelaskan, perayaan malam Natal ini memperingati kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Menurut iman Katolik, Yesus lahir di kandang Betlehem dan ditempatkan di dalam palungan. Kelahiran Juru selamat atau Tuhan Yesus ini datang untuk mendamaikan dan menyelamatkan manusia.

“Jadi itu yang kami rayakan pada sore dan malam hari ini. Suasana perayaan pun berbeda, ada aksesori kandang Natal dan patung Tuhan Yesus. Dekorasinya berbeda, yang menggambarkan kelahiran Yesus, sehingga suasana umat beribadah pun berbeda dari hari biasanya,” lanjutnya.

Senada dengan kelahiran Yesus Kristus, tema misa Natal 2018 ini adalah “Dengan Semangat Natal Kita Membangun Kebersamaan, Persaudaraan dan Kasih.”

“Itu merangkum seluruh makna dari kelahiran Yesus Kristus,” katanya.

Pastor asistensi yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mengimbau bagi umat Kristiani di Tarakan dapat membangun kehidupan dan iman yang lebih baik. Semangat beribadah yang lebih sungguh, sehingga dapat menyebarluaskan kasih dan sukacita di lingkungan masyarakat yang beragam.

“Pesan-pesan bagi umat Kristiani di paroki dan seluruh umat Kristiani, mari kita membangun kehidupan iman yang lebih baik. Supaya kita mampu menyebarluaskan semangat kasih dan sukacita di lingkungan sekitar, di lingkungan kerja dan di lingkungan masyarakat yang beragam,” imbaunya. (*/one)

 

BERBURU BAJU NATAL

Merayakan Natal, masyarakat nasrani disibukkan dengan berbagai persiapan. Salah satunya berburu pakaian baru.

Entah itu dikenakan saat pergi ke gereja, maupun bertamu ke rumah kerabat. Serba baru salah satu tradisi masyarakat untuk memeriahkan Natal. Maka tak heran, banyak yang berburu pakaian baru menjelang Natal.

Salah seorang pedagang pakaian di Jalan Yos Sudarso, Komplek THM, Ariani (24) mengaku sejauh ini pembeli lebih banyak berburu baju ukuran orang dewasa. Menjelang Natal, dalam sehari lebih dari 20 orang yang membeli pakaian di tokonya.

Baca Juga :  Soal Tambang Emas Ilegal, Begini Tanggapan DPD RI

H-1 Natal ini, sejak pagi pun sudah didatangi pembeli. Maklum ia membuka toko sejak pukul 07.00 WITA, hingga pukul 22.00 WITA. Namun jika ramai pembeli, biasanya ia menutup toko pukul 22.20 WITA. “Alhamdulillah banyak aja pembeli, tadi pagi saja sudah ada pembeli. Kebanyakan yang dicari pakaian dewasa,” katanya.

Menjual berbagai perlengkapan pakaian pria dan wanita dengan harga Rp 100 ribu per lembar. Ia mengaku, sejauh ini pembeli banyak mencari baju batik, khususnya gaun.

Bahkan sejak Minggu (23/12) kemarin, stok gaun bermotif batik ini sudah habis. Gaun yang dipatok harga Rp 120 ribu ini memang banyak dicari, untuk dipakai ke gereja. “Kalau baju anak-anak kosong, karena lebih banyak permintaan pakaian orang dewasa. Apalagi batik paling dicari, yang gaunnya saja sudah habis dari kemarin (Minggu),” bebernya.

Ia mengatakan dibandingkan Natal 2017 lalu, pendapatan atau omzet tak jauh berbeda. Dalam sehari, bisa saja diraupnya Rp 2 juta ke atas.

“Kalau ramainya pembeli Natal tahun lalu, sama aja sih tahun ini. Beda lagi kalau Idulfitri, karena di sini memang mayoritas muslim,” katanya.

Namun berbeda pula dengan Aswandi (19) pedagang di Jalan Gajah Mada, Komplek Gusher. Ia mengatakan, mendekati Hari Raya Natal, lonjakan pembeli seperti hari biasanya, bahkan sepi pembeli. Pembeli hanya hitungan jari, sekitar 10 orang per hari.

“Masih sepi, tapi ada saja yang beli baju. Sehari kami bisa dapat Rp 500 ribu atau bisa lebih,” katanya.

Di tokonya ini, pembeli banyak mencari batik ukuran dewasa dan anak-anak. Apalagi harganya cukup terjangkau. Untuk batik ukuran anak-anak dipatok harga Rp 65 ribu per lembar. Sedangkan batik ukuran dewasa laki-laki dipatok harga Rp 85 ribu per lembar.

Namun berbeda pula dengan baju anak-anak lainnya, seperti gaun. Harganya cukup fantastis. Seperti yang dikatakan Erni (35) yang kebetulan berbelanja di toko tersebut. Gaun yang ia lirik untuk anaknya ini dipatok seharga Rp 165 ribu.

“Mahal sekali, tapi masih bisa kurang. Mau coba lihat-lihat baju yang lain. Ada juga gaun yang harganya Rp 130 ribu, tapi saya tawar jadi Rp 100 ribu,” katanya.

 

Baca Juga :  1,1 Kg Sabu Ditinggal di Tengah Razia

REMISI, DUA ORANG BEBAS

Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-A Tarakan kembali memberikan remisi kepada para tahanan nasrani yang berkelakuan baik. Sedikitnya ada dua tahanan yang bebas.

Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan Narapidana dan Anak, Lapas Kelas II-A Tarakan Baliono mengatakan, khusus Lapas Kelas II-A Tarakan, di Natal ada diajukan dua kali usulan. Usulan pertama ada 66 orang, dan kedua ada tambahan menjadi 4 orang.

“Jadi jumlah keseluruhan ada 70 orang, dan surat keputusan (SK) remisi khusus Natal di tahun 2018 sudah keluar semua,” katanya.

Ada 58 orang untuk remisi khusus (RK) 1, dan 2 orang RK 2. Jadi ada 58 orang yang mendapatkan remisi Natal, dan mendapatkan pengurangan masa hukuman atau pidana selama 15 hari, satu bulan, dan paling tinggi dua bulan. Namun yang paling tinggi remisi ini yakni 1 bulan 15 hari.

“Sedangkan untuk RK 2, ada dua yang mendapatkan pengurangan masa hukuman, dan langsung bebas,” ungkapnya.

Yang langsung bebas yakni Hendri Yudhistira bin Maraden Malik dengan kasus penggelapan, dan Herlina alias Lina alias Ladu binti Spiner baru dengan kasus Narkotika. Menjadi pertimbangan sehingga kedua tahanan ini bebas yakni berkelakuan baik serta telah menjalani masa pidana minimal 6 bulan berkelakuan baik. “Itu dibuktikan dengan telah mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, belajar, apel pagi, senam pagi dan diikuti dengan predikat baik,” jelasnya.

Jika sudah menjalani masa pidana 6 bulan berkelakuan baik mendapatkan 15 hari, jika menjalani lebih dari 1 tahun berkelakuan baik mendapatkan sebulan remisi. Sementara untuk yang mendapatkan remisi langsung bebas, berarti sudah dinyatakan bebas dan bisa kembali ke masyarakat.

“Sudah bisa berkumpul dengan keluarga dan sudah tidak ada hak lagi di lapas, karena sudah dikeluarkan dengan mendapatkan remisi bebas,” ujarnya.

Baliono sendiri berharap dengan adanya dua tahanan yang telah bebas dengan remisi, karena remisi merupakan bentuk pengurangan hukuman dan sudah bisa kembali kepada keluarga. Jangan sampai tahanan itu kembali lagi ke dalam penjara. Jika sudah bisa kembali ke masyarakat diharapkan dapat berperan aktif, agar bisa bekerja dengan baik dan menjadi warga negara yang baik.

“Yang pastinya jangan sampai kembali lagi ke sini, cukuplah untuk kali ini saja. Sudah merasakan dan menjalani hukuman dan menjadi contoh kepada masyarakat,” jelasnya.

Untuk diketahui, jumlah tahanan sampai dengan saat ini, 1.231 orang. (*/one/*/naa/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/