alexametrics
29.7 C
Tarakan
Wednesday, August 17, 2022

Desain dari Buah-buahan Hasil Kebun Warga

Jika biasanya setiap pohon Natal yang dipamerkan berhias pernak-pernik khas warna-warni, namun lain di beberapa wilayah di Kaltara. Seperti di Desa Long Peso, Kabupaten Malinau yang didesain dari buah-buahan.

YEDIDAH PAKONDO

SUASANA perayaan Natal memang selalu diidentikkan dengan kehadiran pohon Natal. Rasanya kurang, perayaan Natal tanpa pohon Natal.

Beragam dekorasi pohon Natal memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Kristen. Tak jarang, banyak yang berlomba untuk mendesain pohon Natal seunik mungkin. Ya, salah satu pohon Natal unik terdapat di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Long Peso, Kabupaten Malinau. “Jadi, pohon Natal kami didesain dari buah-buahan. Pokoknya semua buah-buahan yang tumbuh di desa kami,” ungkap Matias Alung, kepala Desa Muara Pangean kepada Radar Tarakan.

Awalnya, Matias menginginkan untuk merancang pohon Natal terunik pada perayaan Natal GKII Long Peso, sehingga munculnya ide pohon Natal dari buah-buahan. Ide tersebut mendapat persetujuan dari jemaat GKII. Sehingga mereka bersepakat untuk mengumpulkan seluruh buah-buahan yang kemudian disusun menjadi sebuah pohon Natal harum khas buah dan sedap dipandang mata.

Baca Juga :  Korban Tagihan ‘Gajah’ Siap Lapor

“Pokoknya segala macam buah, misalnya nanas, mangga, lambai, langsat, duku, jambu, jeruk, kelapa, pisang, pepaya dan kedondong,” katanya.

Proses pengerjaan pohon Natal dari buah-buahan hanya membutuhkan satu hari penuh, karena dikerjakan oleh banyak orang. Sebelum membuat pohon Natal dari buah, ada baiknya jika Anda menyediakan kerangka pohon Natal dari kayu lebih dulu.

“Kerangkanya kami buah dari kayu, tapi enggak kelihatan kerangkanya, karena kami tutup pakai buah-buahan dan yang di bawahnya kami kasihkan kelebu dari kayu, yang diraut supaya terlihat gelombang-gelombangnya,” jelasnya.

Dari proses pembuatan pohon Natal, yang paling banyak menyita waktu adalah kelebu yang ternyata tidak dapat dikerjakan oleh setiap orang. Membutuhkan ahli pembuat kelebu.

Pembuatan pohon Natal dari buah diambil dari tema Natal GKII Long Peso, yakni pemberian yang terbaik kepada Tuhan Yesus. Nah, sesuai tema tersebut. Karena jemaat GKII kebanyakan bekerja sebagai petani, maka jemaat GKII Long Peso memutuskan untuk memilih buah-buahan terbaik untuk dihias menjadi pohon Natal.

Baca Juga :  Nakhoda TB Fortunsius Diduga Lalai

Usai perayaan Natal bersama, jemaat GKII Long Peso dipersilakan untuk mengambil buah-buahan yang terpajang menjadi pohon Natal tersebut untuk kemudian dinikmati bersama. Hal tersebut dilakukan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan antar jemaat GKII Long Peso.

“Namanya buah, tidak bisa bertahan lama. Jadi sesudah didesain, harus dinikmati bersama. Apalagi buahnya itu segar-segar,” bebernya.

Jika dilakukan di pusat kota, kemungkinan pohon Natal dengan buah-buahan ini akan menelan biaya cukup banyak. Namun, karena buah-buahan tersebut diberikan jemaat secara sukarela, maka desain pohon Natal tersebut tidak menelan biaya apapun.

“Kami hanya mengumpulkan buah-buahan secara sukarela, kalau buahnya dibeli, wah mungkin banyak anggaran yang dikeluarkan. Tapi itu tidak mengeluarkan anggaran,” tuturnya.

Selanjutnya, Matias berharap agar di tahun berikutnya pihaknya dapat mendesain pohon Natal yang unik lagi. Sebab suasana Natal lebih terasa apabila seluruh jemaat bersatu memberi dan mendirikan pohon Natal secara bersamaan seperti yang dilakukan di tahun ini. (bersambung/lim)

 

Jika biasanya setiap pohon Natal yang dipamerkan berhias pernak-pernik khas warna-warni, namun lain di beberapa wilayah di Kaltara. Seperti di Desa Long Peso, Kabupaten Malinau yang didesain dari buah-buahan.

YEDIDAH PAKONDO

SUASANA perayaan Natal memang selalu diidentikkan dengan kehadiran pohon Natal. Rasanya kurang, perayaan Natal tanpa pohon Natal.

Beragam dekorasi pohon Natal memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Kristen. Tak jarang, banyak yang berlomba untuk mendesain pohon Natal seunik mungkin. Ya, salah satu pohon Natal unik terdapat di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Long Peso, Kabupaten Malinau. “Jadi, pohon Natal kami didesain dari buah-buahan. Pokoknya semua buah-buahan yang tumbuh di desa kami,” ungkap Matias Alung, kepala Desa Muara Pangean kepada Radar Tarakan.

Awalnya, Matias menginginkan untuk merancang pohon Natal terunik pada perayaan Natal GKII Long Peso, sehingga munculnya ide pohon Natal dari buah-buahan. Ide tersebut mendapat persetujuan dari jemaat GKII. Sehingga mereka bersepakat untuk mengumpulkan seluruh buah-buahan yang kemudian disusun menjadi sebuah pohon Natal harum khas buah dan sedap dipandang mata.

Baca Juga :  IAIN Dialihkan ke Ibu Kota

“Pokoknya segala macam buah, misalnya nanas, mangga, lambai, langsat, duku, jambu, jeruk, kelapa, pisang, pepaya dan kedondong,” katanya.

Proses pengerjaan pohon Natal dari buah-buahan hanya membutuhkan satu hari penuh, karena dikerjakan oleh banyak orang. Sebelum membuat pohon Natal dari buah, ada baiknya jika Anda menyediakan kerangka pohon Natal dari kayu lebih dulu.

“Kerangkanya kami buah dari kayu, tapi enggak kelihatan kerangkanya, karena kami tutup pakai buah-buahan dan yang di bawahnya kami kasihkan kelebu dari kayu, yang diraut supaya terlihat gelombang-gelombangnya,” jelasnya.

Dari proses pembuatan pohon Natal, yang paling banyak menyita waktu adalah kelebu yang ternyata tidak dapat dikerjakan oleh setiap orang. Membutuhkan ahli pembuat kelebu.

Pembuatan pohon Natal dari buah diambil dari tema Natal GKII Long Peso, yakni pemberian yang terbaik kepada Tuhan Yesus. Nah, sesuai tema tersebut. Karena jemaat GKII kebanyakan bekerja sebagai petani, maka jemaat GKII Long Peso memutuskan untuk memilih buah-buahan terbaik untuk dihias menjadi pohon Natal.

Baca Juga :  Layangkan 12 Pelanggaran Konstitusi Organisasi

Usai perayaan Natal bersama, jemaat GKII Long Peso dipersilakan untuk mengambil buah-buahan yang terpajang menjadi pohon Natal tersebut untuk kemudian dinikmati bersama. Hal tersebut dilakukan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan antar jemaat GKII Long Peso.

“Namanya buah, tidak bisa bertahan lama. Jadi sesudah didesain, harus dinikmati bersama. Apalagi buahnya itu segar-segar,” bebernya.

Jika dilakukan di pusat kota, kemungkinan pohon Natal dengan buah-buahan ini akan menelan biaya cukup banyak. Namun, karena buah-buahan tersebut diberikan jemaat secara sukarela, maka desain pohon Natal tersebut tidak menelan biaya apapun.

“Kami hanya mengumpulkan buah-buahan secara sukarela, kalau buahnya dibeli, wah mungkin banyak anggaran yang dikeluarkan. Tapi itu tidak mengeluarkan anggaran,” tuturnya.

Selanjutnya, Matias berharap agar di tahun berikutnya pihaknya dapat mendesain pohon Natal yang unik lagi. Sebab suasana Natal lebih terasa apabila seluruh jemaat bersatu memberi dan mendirikan pohon Natal secara bersamaan seperti yang dilakukan di tahun ini. (bersambung/lim)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/