alexametrics
26.7 C
Tarakan
Friday, August 12, 2022

Harga Telur Sudah Tembus Rp 75 Ribu

TARAKAN – Menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2021, beberapa kebutuhan bahan pokok berpotensi naik. Sebab, permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pangan akan tinggi pada momen tersebut. Namun yang dikhawatirkan, jumlah pasokan tidak sesuai dengan permintaan. Mengingat, harga komoditas pertanian saat ini cenderung turun akibat pandemi.

Kepala BagianEkonomi pada Sekretariat Kota (Setkot) Tarakan, Hariyantomenjelaskan, Satgas Pangan melakukan peninjauan di Pasar Gusher dan Pasar Tenguyun. Di dapati terjadi kenaikan harga pada sejumlah bahan pangan, meski relatif kecil. Kenaikan itu terjadi karena rerata pedagang mendapatkan barang dari tangan kedua.

“Yang jelas yang naik saat ini yaitu telur, bahkan harga telur lokal pun juga mengalami kenaikan yaitu sekitar Rp 75 ribu, sedangkan  untuk telur yang besar yang didatangkan dari Sulawesi sekira Rp 60 ribu per piring,” jelasnya.

Sementara daging ayam potong, ada kenaikan Rp 42 ribu sampai dengan Rp 45 ribu per kilogram. Sayur mayur masih stabil kecuali cabai saat ini harganya sekira Rp 100 ribu per kilogram.

Pihaknya memastikan secara keseluruhan kebutuhan di Tarakan aman. Nantinya Satgas juga akan mendatangi sejumlah distributor. Ikan layang dan daging ayam juga menjadi perhatian khusus, karena diperkirakan akan mengalami kenaikan harga. “Kalau lombok harganya memang disekitaran segitu, langkah kami selanjutnya akan memastikan stok kebutuhan pangan di Tarakan aman menjelang Nataru,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kelas VIP Bertanding hingga Dini Hari

Sementara itu, Yus sebagai salah satu pedagang daging ayam yang berada di Pasar Tenguyun mengatakan bahwa meski menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru penjualan daging ayam tidak terlalu signifikan. “Tidak ada pengaruhnya penjualan meski Natal dan Tahun Baru, karena memang kan masih pandemi Covid-19, penjualan masih sama seperti kemarin,” tutrnya.

Untuk harga daging ayam, pedagang mengaku saat ini harganya Rp 40 sampai dengan Rp 45 ribu per kilogram, “Kalau kemarin kan memang dari intinya (distributor) harga ayam diturunkan sampai Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu per kilo, sekarang dijual kembali Rp 28-30 ribu, jadi kami jual Rp 40 ribu sampai Rp 45 ribu,” tutupnya.

Kasat Reskrim Polres Tarakan, Iptu Muhammad Aldi, melalui Kanit Tipidter Ipda Dien F Romadhoni mengatakan, Senin (21/12) lalu  pihaknya mengikuti rapat koordinasi dengan intansi terkait untuk membahas terkait ketersediaan pangan menjelang Nataru.

“Kita menyamakan persepsi dengan dinas terkait, jangan menjelang nataru terjadi kelangkaan terutama sembako,” katanya.

Untuk itu, pihaknya akan memastikan bahwa stok sembako di pasar akan tercukupi. Harga juga bisa terkendali. Maka pihaknya dalam waktu dekat ini akan turun ke lapangan, untuk melakukan pengecekan terhadap stok sembako di pasar maupun ke gudang langsung. Sembari pihaknya juga akan mengecek harga sembako langsung di pasar. “Untuk saat ini dari laporan kami Satgas Pangan Polres Tarakan, sementara ini untuk ketersedian masih ada dan harganya sembako masih normal,” imbuhnya.

Baca Juga :  Begini Strategi Pemkot Tarakan Realisasikan Ekspor-Impor Langsung

Terhadap beberapa kenaikan harga sembako, ia memastikan kenaikan tersebut belum signifikan dan masih terjangkau. Kenaikan harga pun dipicu lantaran ada kenaikan dari distributor langsung. Pihaknya pun menegaskan bahwa setiap pedagang maupun distributor tidak boleh sewenang-wenang menaikkan harga yang begitu signifikan. Apabila didapati hal seperti itu, maka pihaknya selaku tim Satgas Pangan akan melakukan tindakan tegas. “Kalau kenaikan tidak normal dan ada kelangkaan pasti akan kami tindaklanjuti,” beber Dien.

Pihaknya memastikan bahwa tidak ada oknum yang akan memanfaatkan situasi untuk melakukan penimbunan barang. Sanksi pidana jelas akan dikenakan pada oknum yang melakukan penimbunan barang dan menaikkan harga sembako yang begitu signifikan. Para pelaku akan dikenakan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindugan Konsumen. “Sembako ini tidak boleh dilakukan penimbunan. Untuk gas elpiji 3 kg juga akan kami cek kalau memang terjadi kelangkaan,” tutupnya. (agg/zar/lim)

 

TARAKAN – Menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2021, beberapa kebutuhan bahan pokok berpotensi naik. Sebab, permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pangan akan tinggi pada momen tersebut. Namun yang dikhawatirkan, jumlah pasokan tidak sesuai dengan permintaan. Mengingat, harga komoditas pertanian saat ini cenderung turun akibat pandemi.

Kepala BagianEkonomi pada Sekretariat Kota (Setkot) Tarakan, Hariyantomenjelaskan, Satgas Pangan melakukan peninjauan di Pasar Gusher dan Pasar Tenguyun. Di dapati terjadi kenaikan harga pada sejumlah bahan pangan, meski relatif kecil. Kenaikan itu terjadi karena rerata pedagang mendapatkan barang dari tangan kedua.

“Yang jelas yang naik saat ini yaitu telur, bahkan harga telur lokal pun juga mengalami kenaikan yaitu sekitar Rp 75 ribu, sedangkan  untuk telur yang besar yang didatangkan dari Sulawesi sekira Rp 60 ribu per piring,” jelasnya.

Sementara daging ayam potong, ada kenaikan Rp 42 ribu sampai dengan Rp 45 ribu per kilogram. Sayur mayur masih stabil kecuali cabai saat ini harganya sekira Rp 100 ribu per kilogram.

Pihaknya memastikan secara keseluruhan kebutuhan di Tarakan aman. Nantinya Satgas juga akan mendatangi sejumlah distributor. Ikan layang dan daging ayam juga menjadi perhatian khusus, karena diperkirakan akan mengalami kenaikan harga. “Kalau lombok harganya memang disekitaran segitu, langkah kami selanjutnya akan memastikan stok kebutuhan pangan di Tarakan aman menjelang Nataru,” imbuhnya.

Baca Juga :  Begini Strategi Pemkot Tarakan Realisasikan Ekspor-Impor Langsung

Sementara itu, Yus sebagai salah satu pedagang daging ayam yang berada di Pasar Tenguyun mengatakan bahwa meski menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru penjualan daging ayam tidak terlalu signifikan. “Tidak ada pengaruhnya penjualan meski Natal dan Tahun Baru, karena memang kan masih pandemi Covid-19, penjualan masih sama seperti kemarin,” tutrnya.

Untuk harga daging ayam, pedagang mengaku saat ini harganya Rp 40 sampai dengan Rp 45 ribu per kilogram, “Kalau kemarin kan memang dari intinya (distributor) harga ayam diturunkan sampai Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu per kilo, sekarang dijual kembali Rp 28-30 ribu, jadi kami jual Rp 40 ribu sampai Rp 45 ribu,” tutupnya.

Kasat Reskrim Polres Tarakan, Iptu Muhammad Aldi, melalui Kanit Tipidter Ipda Dien F Romadhoni mengatakan, Senin (21/12) lalu  pihaknya mengikuti rapat koordinasi dengan intansi terkait untuk membahas terkait ketersediaan pangan menjelang Nataru.

“Kita menyamakan persepsi dengan dinas terkait, jangan menjelang nataru terjadi kelangkaan terutama sembako,” katanya.

Untuk itu, pihaknya akan memastikan bahwa stok sembako di pasar akan tercukupi. Harga juga bisa terkendali. Maka pihaknya dalam waktu dekat ini akan turun ke lapangan, untuk melakukan pengecekan terhadap stok sembako di pasar maupun ke gudang langsung. Sembari pihaknya juga akan mengecek harga sembako langsung di pasar. “Untuk saat ini dari laporan kami Satgas Pangan Polres Tarakan, sementara ini untuk ketersedian masih ada dan harganya sembako masih normal,” imbuhnya.

Baca Juga :  BNNP Utus Tim ke Lapas Sungguminasa

Terhadap beberapa kenaikan harga sembako, ia memastikan kenaikan tersebut belum signifikan dan masih terjangkau. Kenaikan harga pun dipicu lantaran ada kenaikan dari distributor langsung. Pihaknya pun menegaskan bahwa setiap pedagang maupun distributor tidak boleh sewenang-wenang menaikkan harga yang begitu signifikan. Apabila didapati hal seperti itu, maka pihaknya selaku tim Satgas Pangan akan melakukan tindakan tegas. “Kalau kenaikan tidak normal dan ada kelangkaan pasti akan kami tindaklanjuti,” beber Dien.

Pihaknya memastikan bahwa tidak ada oknum yang akan memanfaatkan situasi untuk melakukan penimbunan barang. Sanksi pidana jelas akan dikenakan pada oknum yang melakukan penimbunan barang dan menaikkan harga sembako yang begitu signifikan. Para pelaku akan dikenakan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindugan Konsumen. “Sembako ini tidak boleh dilakukan penimbunan. Untuk gas elpiji 3 kg juga akan kami cek kalau memang terjadi kelangkaan,” tutupnya. (agg/zar/lim)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/