alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

Calon Magang ke Jepang Harus Lalui 5 Tahapan Seleksi

TARAKAN- Kegiatan pemagangan ke Jepang memang cukup menggiurkan para pemuda Kalimantan Utara.

Apalagi, program yang dihandel oleh Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia ini baru pertama kali diluncurkan di Kalimantan Utara ditahun 2022.

Namun, program yang telah berjalan sejak tahun 1992 di Indonesia ini memiliki seleksi yang cukup ketat bagi calon pemagang.

Lantas bagaimana tahapan seleksi magang ke Jepang?

Pelaksanaan kegiatan magang ke Jepang oleh pemuda Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1992. Namun, Kalimantan Utara baru merasakan sosialisasi magang ke Jepang pertama kali di tahun ini.

Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes mengatakan rasa terimakasihnya kepada Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia terkhusus Direktur Vokasi yang telah melaksanakan sosialisasi magang ke Jepang.

Program magang ke Jepang telah diselenggarakan selama 30 tahun di Indonesia.

“Tapi ini baru pertama kali kita lakukan sosialisasi di Kaltara ini dan Tarakan jadi tuan rumah,” ungkap Khairul.

Pelaksanaan sosialisasi magang ke Jepang ini diharapkan Khairul dapat menjadi pencerahan bagi anak muda untuk mengikuti program pemerintah ini.

Sebab tak hanya mendapatkan upah atau keuntungan selama bekerja di Jepang, namun pemagang juga dapat mengasah keterampilan bekerja selama 3 tahun di Jepang.

“Tentu kami menyambut sangat baik. Dengan harapan jika banyak peminat, pelaksanaan seleksi magang ke Jepang ini dapat diselenggarakan di Tarakan. Tapi kalau sedikit peminat, terpaksa seleksi dilakukan diluar Tarakan seperti Makassar atau Jakarta,” katanya.

Kedepan Khairul berharap agar pelaksanaan kegiatan magang ke Jepang ini dapat diaktifkan setiap tahun di Kalimantan Utara.

Apalagi saat ini angka penduduk produktif di Tarakan mencapai 70 persen dari total penduduk, dengan jumlah 50 persen milenial sehingga ini menjadi potensi luar biasa.

Sementara itu, Direktur Bina Penyelenggara Pelatihan Vokasi dan Pemagangan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ali Hapsah, Ph.D menjelaskan bahwa program magang ke Jepang bukanlah sebuah program baru, namun sudah berada di Indonesia sejak 30 tahun lalu namun lebih banyak menggarap pulau Jawa dan Sumatera.

Baca Juga :  BPJAMSOSTEK Tarakan dan KSOP Kelas III Tarakan Teken MoU

“Tapi kita kan wilayah Indonesia luas. Jadi sebagai bentuk kepedulian kami terhadap wilayah lain di Indonesia karena kita melihat manfaat yang sangat bagus untuk pengembangan kompetensi diri, itulah sebabnya Kaltara sebagai salah satu wilayah yang berbatasan dengan negara lain menjadi pilihan kami. Tentu saja ini karena respon pemerintah yang cukup baik,” beber Ali.

Setiap tahun dikatakan Ali jumlah kuota pemagang yang dibutuhkan tanpa batas.

Hanya saja, proses yang dilalui peserta magang membutuhkan seleksi yang cukup ketat, sehingga siapapun yang dinyatakan lolos seleksi nanti maka seluruhnya akan diambil.

“Biasanya kami mempersyaratkan paling tidak peserta seleksi yang terkumpul itu minimal 150 orang. Baru kami turun langsung ke daerah itu untuk melaksanakan seleksi. Kalau tidak sampai 150 orang, maka kami sarankan untuk datang ke provinsi tetangga yang akan melaksanakan hal serupa. Jadi tidak ada kuota secara khusus, intinya berapapun yang memenuhi syarat akan kami ambil,” jelasnya.

Namun jika jumlah peserta di Kaltara tidak mencapai angka 150 orang, maka harus melaksanakan tes di luar Kaltara yakni pada 16 September 2022 nanti di Makassar.

Pelaksanaan tes seleksi akan dilakukan selama 5 hari, yang dimulai dengan tes matematika dasar, kemudian tes kesemaptaan tubuh yang mencakup syarat tinggi minimal 160 sentimeter dengan berat minimal 50 kilogram, tidak memiliki tato, tindik dan sebagainya, selanjutnya adalah tes ketahanan fisik dalam hal ini peserta diminta berlari sepanjang 3 kilometer dengan waktu 15 menit, pergerakan sit up dan push up.

Dihari berikutnya ialah tes wawancara, dalam hal ini peserta menjelaskan motivasi magang ke Jepang sekaligus verifikasi dokumen yang telah disampaikan saat menjalani proses pendaftaran serta tes bahasa Jepang.

“Ini berlaku sistem gugur. Jadi kalau tidak lolos, maka tidak dapat lanjut ditahap seleksi berikutnya. Sesudah tes itu akan ada pelatihan tahap pertama selama 2 bulan, kemudian 2 bulan lagi di Jakarta sampai diberangkatkan ke Jepang,” tegasnya.

Baca Juga :  Rusak Estetika Kota, Satpol PP Tertibkan Baliho dan Spanduk

Adapun minimal lulusan magang ini harus berasal dari tingkatan SLTA.

Jika SMK, maka dapat mengikuti program ini, namun jika SMA harus memiliki sertifikat dari lembaga latihan kerja (LLK).

Usia yang dipersyaratkan ialah minimal 18 hingga 26 tahun.

Dalam hal ini pihaknya menawarkan 62 jenis pekerjaan melingkupi bidang konstruksi, mesin dan logam, servis mobil, pengepakan industri, pembuatan roti, pertanin, percetakan, perkayuan dan sebagainya.

Proses pemagangan ini dilakukan selama 3 tahun, namun jika ingin diperpanjang maka dapat ditambah 2 tahun lagi menjadi 5 tahun.

Selama di Jepang, pemerintah Indonesia tidak menanggung makan peserta, namun selama di Jepang peserta dapat menghabiskan 25.000 Yen untuk biaya makan per bulan.

“Kalau pulang sebelum program, maka harus pulang sendiri tanpa dibiayai dan terblack list dari program ini sehingga tidak mendapatkan uang saku dari pemerintah. Jadi akan sayang,” katanya.

Usai menyelesaikan magang, peserta akan diberikan tunjangan usaha mandiri (TUM) senilai 60.000 Yen yang jika dirupiahkan menjadi Rp 70.000.000 diluar gaji yang mencapai Rp 15.000.000 hingga 19.000.000 per bulan.

“Penggunaan uang tunjangan usaha mandiri ini, tergantung peserta. Apakah akan digunakan untuk usaha mandiri atau foya-foya. Tergantung pribadi masing-masing, tapi banyak yang buat usaha sendiri. Kalau tidak boros itu bisa dapat Rp 350.000.000 selama di sana, saya pikir ini cukup untuk memulai usaha kecil-kecilan,” urainya.
Untuk diketahui, proses pemagangan ini sempat vakum selama 2 tahun dikala pandemi Covid-19 masih merajalela, namun di tahun ini kembali dilakukan.

Dalam hal ini Ali menegaskan bahwa jaminan sosial terbaik di dunia salah satunya adalah Negara Jepang, sehingga dalam hal ini masyarakat tak perlu khawatir melakukan magang ke Jepang.

“Jadi kalau Jepang itu tidak diragukan, sepanjang legal. Kalau tidak ilegal, otomatis jaminannya lepas. Nggak ada keragu-raguanlah,” pungkasnya. (*)






Reporter: Yedidah Pakondo

TARAKAN- Kegiatan pemagangan ke Jepang memang cukup menggiurkan para pemuda Kalimantan Utara.

Apalagi, program yang dihandel oleh Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia ini baru pertama kali diluncurkan di Kalimantan Utara ditahun 2022.

Namun, program yang telah berjalan sejak tahun 1992 di Indonesia ini memiliki seleksi yang cukup ketat bagi calon pemagang.

Lantas bagaimana tahapan seleksi magang ke Jepang?

Pelaksanaan kegiatan magang ke Jepang oleh pemuda Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1992. Namun, Kalimantan Utara baru merasakan sosialisasi magang ke Jepang pertama kali di tahun ini.

Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes mengatakan rasa terimakasihnya kepada Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia terkhusus Direktur Vokasi yang telah melaksanakan sosialisasi magang ke Jepang.

Program magang ke Jepang telah diselenggarakan selama 30 tahun di Indonesia.

“Tapi ini baru pertama kali kita lakukan sosialisasi di Kaltara ini dan Tarakan jadi tuan rumah,” ungkap Khairul.

Pelaksanaan sosialisasi magang ke Jepang ini diharapkan Khairul dapat menjadi pencerahan bagi anak muda untuk mengikuti program pemerintah ini.

Sebab tak hanya mendapatkan upah atau keuntungan selama bekerja di Jepang, namun pemagang juga dapat mengasah keterampilan bekerja selama 3 tahun di Jepang.

“Tentu kami menyambut sangat baik. Dengan harapan jika banyak peminat, pelaksanaan seleksi magang ke Jepang ini dapat diselenggarakan di Tarakan. Tapi kalau sedikit peminat, terpaksa seleksi dilakukan diluar Tarakan seperti Makassar atau Jakarta,” katanya.

Kedepan Khairul berharap agar pelaksanaan kegiatan magang ke Jepang ini dapat diaktifkan setiap tahun di Kalimantan Utara.

Apalagi saat ini angka penduduk produktif di Tarakan mencapai 70 persen dari total penduduk, dengan jumlah 50 persen milenial sehingga ini menjadi potensi luar biasa.

Sementara itu, Direktur Bina Penyelenggara Pelatihan Vokasi dan Pemagangan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ali Hapsah, Ph.D menjelaskan bahwa program magang ke Jepang bukanlah sebuah program baru, namun sudah berada di Indonesia sejak 30 tahun lalu namun lebih banyak menggarap pulau Jawa dan Sumatera.

Baca Juga :  Wartawan di Tarakan Diduga Dianiaya Oknum Polisi

“Tapi kita kan wilayah Indonesia luas. Jadi sebagai bentuk kepedulian kami terhadap wilayah lain di Indonesia karena kita melihat manfaat yang sangat bagus untuk pengembangan kompetensi diri, itulah sebabnya Kaltara sebagai salah satu wilayah yang berbatasan dengan negara lain menjadi pilihan kami. Tentu saja ini karena respon pemerintah yang cukup baik,” beber Ali.

Setiap tahun dikatakan Ali jumlah kuota pemagang yang dibutuhkan tanpa batas.

Hanya saja, proses yang dilalui peserta magang membutuhkan seleksi yang cukup ketat, sehingga siapapun yang dinyatakan lolos seleksi nanti maka seluruhnya akan diambil.

“Biasanya kami mempersyaratkan paling tidak peserta seleksi yang terkumpul itu minimal 150 orang. Baru kami turun langsung ke daerah itu untuk melaksanakan seleksi. Kalau tidak sampai 150 orang, maka kami sarankan untuk datang ke provinsi tetangga yang akan melaksanakan hal serupa. Jadi tidak ada kuota secara khusus, intinya berapapun yang memenuhi syarat akan kami ambil,” jelasnya.

Namun jika jumlah peserta di Kaltara tidak mencapai angka 150 orang, maka harus melaksanakan tes di luar Kaltara yakni pada 16 September 2022 nanti di Makassar.

Pelaksanaan tes seleksi akan dilakukan selama 5 hari, yang dimulai dengan tes matematika dasar, kemudian tes kesemaptaan tubuh yang mencakup syarat tinggi minimal 160 sentimeter dengan berat minimal 50 kilogram, tidak memiliki tato, tindik dan sebagainya, selanjutnya adalah tes ketahanan fisik dalam hal ini peserta diminta berlari sepanjang 3 kilometer dengan waktu 15 menit, pergerakan sit up dan push up.

Dihari berikutnya ialah tes wawancara, dalam hal ini peserta menjelaskan motivasi magang ke Jepang sekaligus verifikasi dokumen yang telah disampaikan saat menjalani proses pendaftaran serta tes bahasa Jepang.

“Ini berlaku sistem gugur. Jadi kalau tidak lolos, maka tidak dapat lanjut ditahap seleksi berikutnya. Sesudah tes itu akan ada pelatihan tahap pertama selama 2 bulan, kemudian 2 bulan lagi di Jakarta sampai diberangkatkan ke Jepang,” tegasnya.

Baca Juga :  Bawa Barang, Kapal Ini Karam di Depan Pulau Tibi

Adapun minimal lulusan magang ini harus berasal dari tingkatan SLTA.

Jika SMK, maka dapat mengikuti program ini, namun jika SMA harus memiliki sertifikat dari lembaga latihan kerja (LLK).

Usia yang dipersyaratkan ialah minimal 18 hingga 26 tahun.

Dalam hal ini pihaknya menawarkan 62 jenis pekerjaan melingkupi bidang konstruksi, mesin dan logam, servis mobil, pengepakan industri, pembuatan roti, pertanin, percetakan, perkayuan dan sebagainya.

Proses pemagangan ini dilakukan selama 3 tahun, namun jika ingin diperpanjang maka dapat ditambah 2 tahun lagi menjadi 5 tahun.

Selama di Jepang, pemerintah Indonesia tidak menanggung makan peserta, namun selama di Jepang peserta dapat menghabiskan 25.000 Yen untuk biaya makan per bulan.

“Kalau pulang sebelum program, maka harus pulang sendiri tanpa dibiayai dan terblack list dari program ini sehingga tidak mendapatkan uang saku dari pemerintah. Jadi akan sayang,” katanya.

Usai menyelesaikan magang, peserta akan diberikan tunjangan usaha mandiri (TUM) senilai 60.000 Yen yang jika dirupiahkan menjadi Rp 70.000.000 diluar gaji yang mencapai Rp 15.000.000 hingga 19.000.000 per bulan.

“Penggunaan uang tunjangan usaha mandiri ini, tergantung peserta. Apakah akan digunakan untuk usaha mandiri atau foya-foya. Tergantung pribadi masing-masing, tapi banyak yang buat usaha sendiri. Kalau tidak boros itu bisa dapat Rp 350.000.000 selama di sana, saya pikir ini cukup untuk memulai usaha kecil-kecilan,” urainya.
Untuk diketahui, proses pemagangan ini sempat vakum selama 2 tahun dikala pandemi Covid-19 masih merajalela, namun di tahun ini kembali dilakukan.

Dalam hal ini Ali menegaskan bahwa jaminan sosial terbaik di dunia salah satunya adalah Negara Jepang, sehingga dalam hal ini masyarakat tak perlu khawatir melakukan magang ke Jepang.

“Jadi kalau Jepang itu tidak diragukan, sepanjang legal. Kalau tidak ilegal, otomatis jaminannya lepas. Nggak ada keragu-raguanlah,” pungkasnya. (*)






Reporter: Yedidah Pakondo

Most Read

Artikel Terbaru

/