alexametrics
26.7 C
Tarakan
Thursday, August 11, 2022

Almarhum Zainal Abidin di Mata Sahabat, Dikenal Gigih dan Penuh Tanggung Jawab

BERDEDIKASI TINGGI: Almarhum H. Zainal Abidin bin Abdul Dzat Keke, tokoh pers Kalimantan Utara semasa hidup. FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

KALIMANTAN Utara (Kaltara) kembali berduka. Salah satu tokoh pers senior, H. Zainal Abidin bin Abdul Dzat Keke berpulang di usia 74 tahun, Senin (20/6).

Pria yang lahir 5 Agustus 1948 itu dikenal luas sebagai perintis Koran Manuntung atau Kaltim Post Group di utara Kalimantan pada 1989 hingga 2002.

Di mata sahabat, almarhum merupakan pribadi yang gigih dan penuh tanggung jawab. H. Rahmat Rolau, salah satu kompatriot almarhum selama menekuni dunia kewartawanan. Ia turut merasakan duka yang dalam.

“Beliaulah koresponden (Koran Manuntung) yang terjauh di utara. Saat itu Tarakan masih kota administratif. Koran Manuntung merupakan cikal bakal Kaltim Post Group,” ujar Rahmat usai melayat dan mengantarkan almarhum ke peristirahatan terakhirnya, Senin (20/6).

Rahmat mengisahkan perkenalannya dengan Zainal, sekira tahun 1990. Rahmat yang saat itu bertugas di Balikpapan diberi tugas oleh pemimpin redaksi Koran Manuntung/Kaltim Post, Rizal Effendi yang juga wali kota Balikpapan periode 2011-2021 dan H. Zainal Muttaqien, pendiri Kaltim Post Group.

“Pak Rizal menugasi saya untuk menemui beliau. Posisi saya di Balikpapan, akan mendampingi kunjungan kapolda, sebelum dibentuk polda di Kaltim. Pas briefing kapolda di Tarakan, di situlah saya bertemu untuk pertama kalinya, dia yang pertama kali mengenalkan diri sebagai koresponden Manuntung. Saat itu saya dari Balikpapan, memang belum tahu seperti apa wajah beliau,” kenang Rahmat.

Baca Juga :  Informasi Sabu via Kargo Bocor

Pada 1994, keduanya akhirnya diberi tugas untuk mencari kantor di Tarakan untuk Kaltim Post.

“Saya akhirnya ke Tarakan. Di masa awal itu saya menginap beberapa malam di Hotel Orchid, punyanya Pak Mantri Raga (almarhum), depan Hotel Makmur saat ini (Jalan Jenderal Sudirman). Wartawan saat itu sudah banyak, termasuk almarhum Pak Waldy Mochtar (wartawan RRI),” sambung pria yang diamanahi ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK-PWI) Kaltara ini.

“Beliau itu sangat gigih dalam menekuni profesinya, sangat bertanggung jawab. Penugasan itu tuntas, jadi. Enggak pernah saya mendapati beliau itu menjawab tugas itu dengan gagal. Padahal saat itu masih ‘jalan kaki’ mencari narasumber. Paling mudah dulu itu kalau pakai telepon, telepon (telepon putar dengan sinyal analog) yang diputar itu. Telepon ini, hanya di kantor. Atau di rumah, kalau narasumber sudah di rumah, sementara enggak ada teleponnya di rumah, atau nomor teleponnya di rumah, yah jalan kaki lagi,” ulas Rahmat.

Baca Juga :  30 Menit Razia, 50 Pelanggaran Ditemukan

Almarhum Zainal kemudian berpisah dengan Kaltim Post, sekira 2002, genap setahun lahirnya media Radar Tarakan, anak perusahaan Jawa Pos Group.

“Saya bersama beliau 8 tahun di satu atap, satu kantor, Kaltim Post. Setelah tak lagi di Kaltim Post, saya beberapa kali bertemu dengan beliau,” tutur Rahmat.

Penyesalan terbesar Rahmat, yakni tak mendampingi almarhum di masa-masa sulitnya. “Saat beliau sakit itu, saya tidak bersama beliau. Saya merasa berdosa. Saya sempat melayat. Mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya. Kita doakan yang terbaik buat almarhum,” harap Rahmat.

Sementara itu, Rizal Effendi turut berbelasungkawa atas kepergian sahabatnya itu. Rizal mengungkap, almarhum Zainal merupakan bagian penting perjalanan Harian Manuntung/Kaltim Post sejak didirikan. Rizal mengenal Zainal sebagai wartawan yang ulet dan tak mengenal waktu.

“Kami di sini, mengucapkan duka cita yang mendalam. Kita kehilangan wartawan senior yang menjadi teladan. Dia menjadi orang pertama yang bertugas di Tarakan dan sekitarnya (Harian Manuntung). Dia setia dan mau bekerja tanpa mengenal waktu,” kenal Rizal.

Rizal pun mendoakan, almarhum Zainal mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. “Semoga almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa,” doanya. (lim)

BERDEDIKASI TINGGI: Almarhum H. Zainal Abidin bin Abdul Dzat Keke, tokoh pers Kalimantan Utara semasa hidup. FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

KALIMANTAN Utara (Kaltara) kembali berduka. Salah satu tokoh pers senior, H. Zainal Abidin bin Abdul Dzat Keke berpulang di usia 74 tahun, Senin (20/6).

Pria yang lahir 5 Agustus 1948 itu dikenal luas sebagai perintis Koran Manuntung atau Kaltim Post Group di utara Kalimantan pada 1989 hingga 2002.

Di mata sahabat, almarhum merupakan pribadi yang gigih dan penuh tanggung jawab. H. Rahmat Rolau, salah satu kompatriot almarhum selama menekuni dunia kewartawanan. Ia turut merasakan duka yang dalam.

“Beliaulah koresponden (Koran Manuntung) yang terjauh di utara. Saat itu Tarakan masih kota administratif. Koran Manuntung merupakan cikal bakal Kaltim Post Group,” ujar Rahmat usai melayat dan mengantarkan almarhum ke peristirahatan terakhirnya, Senin (20/6).

Rahmat mengisahkan perkenalannya dengan Zainal, sekira tahun 1990. Rahmat yang saat itu bertugas di Balikpapan diberi tugas oleh pemimpin redaksi Koran Manuntung/Kaltim Post, Rizal Effendi yang juga wali kota Balikpapan periode 2011-2021 dan H. Zainal Muttaqien, pendiri Kaltim Post Group.

“Pak Rizal menugasi saya untuk menemui beliau. Posisi saya di Balikpapan, akan mendampingi kunjungan kapolda, sebelum dibentuk polda di Kaltim. Pas briefing kapolda di Tarakan, di situlah saya bertemu untuk pertama kalinya, dia yang pertama kali mengenalkan diri sebagai koresponden Manuntung. Saat itu saya dari Balikpapan, memang belum tahu seperti apa wajah beliau,” kenang Rahmat.

Baca Juga :  Bebas Masker di Tempat Terbuka Mulai Diterapkan

Pada 1994, keduanya akhirnya diberi tugas untuk mencari kantor di Tarakan untuk Kaltim Post.

“Saya akhirnya ke Tarakan. Di masa awal itu saya menginap beberapa malam di Hotel Orchid, punyanya Pak Mantri Raga (almarhum), depan Hotel Makmur saat ini (Jalan Jenderal Sudirman). Wartawan saat itu sudah banyak, termasuk almarhum Pak Waldy Mochtar (wartawan RRI),” sambung pria yang diamanahi ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK-PWI) Kaltara ini.

“Beliau itu sangat gigih dalam menekuni profesinya, sangat bertanggung jawab. Penugasan itu tuntas, jadi. Enggak pernah saya mendapati beliau itu menjawab tugas itu dengan gagal. Padahal saat itu masih ‘jalan kaki’ mencari narasumber. Paling mudah dulu itu kalau pakai telepon, telepon (telepon putar dengan sinyal analog) yang diputar itu. Telepon ini, hanya di kantor. Atau di rumah, kalau narasumber sudah di rumah, sementara enggak ada teleponnya di rumah, atau nomor teleponnya di rumah, yah jalan kaki lagi,” ulas Rahmat.

Baca Juga :  Pleno Tiga Wilayah, Ziyap Unggul 116.807

Almarhum Zainal kemudian berpisah dengan Kaltim Post, sekira 2002, genap setahun lahirnya media Radar Tarakan, anak perusahaan Jawa Pos Group.

“Saya bersama beliau 8 tahun di satu atap, satu kantor, Kaltim Post. Setelah tak lagi di Kaltim Post, saya beberapa kali bertemu dengan beliau,” tutur Rahmat.

Penyesalan terbesar Rahmat, yakni tak mendampingi almarhum di masa-masa sulitnya. “Saat beliau sakit itu, saya tidak bersama beliau. Saya merasa berdosa. Saya sempat melayat. Mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya. Kita doakan yang terbaik buat almarhum,” harap Rahmat.

Sementara itu, Rizal Effendi turut berbelasungkawa atas kepergian sahabatnya itu. Rizal mengungkap, almarhum Zainal merupakan bagian penting perjalanan Harian Manuntung/Kaltim Post sejak didirikan. Rizal mengenal Zainal sebagai wartawan yang ulet dan tak mengenal waktu.

“Kami di sini, mengucapkan duka cita yang mendalam. Kita kehilangan wartawan senior yang menjadi teladan. Dia menjadi orang pertama yang bertugas di Tarakan dan sekitarnya (Harian Manuntung). Dia setia dan mau bekerja tanpa mengenal waktu,” kenal Rizal.

Rizal pun mendoakan, almarhum Zainal mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. “Semoga almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa,” doanya. (lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/