alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

Warga Tak Terima Jika Parkir di Luar

TARAKAN – Jembatan yang tengah dibangun di RT 21, Selumit Pantai, Tarakan Tengah roboh, Senin (14/12). Usai kejadian itu, warga diminta menambatkan atau memarkir perahu di luar area jembatan yang tengah dibangun. Namun, sejumlah warga menolak.

Ketua RT 22 Kelurahan Selumit Pantai, Eka Mardiana menuturkan saat ini dirinya bersama ketua RT lainnya masih melakukan sosialisasi kepada para nelayan yang biasanya menambatkan perahu melewati jembatan ini, diminta untuk menambatkan perahu di luar untuk sementara waktu.

Rata-rata perahu yang dimiliki nelayan ini berukuran kecil, untuk tempat tambat sulit ditemukan di kawasan sebelum memasuki area jembatan, sehingga beberapa nelayan pun menolak larangan menambatkan kapal di dalam daerah permukiman, melewati jembatan yang menghubungkan dua kelurahan.

“Tapi, masih kami sosialisasikan terus ini, perbaikan jembatan ini untuk kita semua juga, nelayan saya harapkan bersabar dulu sebulan untuk perahunya ditambat diluar, karena kalau ditambat di dalam, bagaimana orang kerja, karena jembatan tidak ditutup. Kan harus ditutup sementara waktu dulu, nanti ada yang nabrak lagi, roboh lagi,” ujarnya, kemarin (16/12).

Sementara itu, Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kaltara di lapangan, robohnya jembatan di RT 21 saat proses pengecoran disebabkan adanya perancah atau scaffolding yang berfungsi menahan konstruksi jembatan yang roboh akibat tersenggol perahu warga saat melintas.

Plt Kepala BPPW Kaltara, J Wahyu Kusumosusanto dimana tersenggolnya perancah oleh perahu warga dirinya ketahui setelah melakukan pengecekan di lapangan, peristiwa tersebut terjadi pada dini hari menjelang subuh. “Jadi ada perahu warga yang menyenggol perancah, sehingga perancah yang menjadi penopang kontruksi tersebut roboh, hal tersebut tidak kita ketahui karena tidak ada warga yang melaporkannya, baru kejadian robohnya jembatan itu dan kita melakukan penggalian informasi di lapangan kita dapatkan informasi adanya peristiwa perancah yang tersenggol oleh perahu warga,” tuturnya, Rabu (16/12).

Baca Juga :  PJU Tidak Berfungsi, Aktifkan Poskamling 24 Jam

Sebagai upaya mengantisipasi hal serupa tidak terjadi, pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan warga yang mana diperoleh kesepakatan agar untuk sementara perahu-perahu warga ditambatkan di luar, hal tersebut bertujuan agar tidak ada lagi perahu warga yang keluar masuk yang dapat menyenggol perancah jembatan tersebut. “Jadi kita sepakat satu bulan saja perahu warga ditambatkan di luar, hari ini merupakan hari terakhir perahunya ditambatkan di luar, baru kita lakukan  pengerjaan lagi,” ungkapnya.

Adapun dalam proses pengerjaan jembatan tersebut yang memasuki proses perbaikan kontruksi yang sempat rusak hingga pengecoran hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu. “Kalau dampak dari peristiwa robohnya jembatan kemarin tidak terlalu signifikan, jadi sekitar semingguan saja bisa selesai, memang ini proyek ditargetkan Desember ini sudah selesai,” ujarnya.

Terkait mengapa pihaknya meminta warga menambatkan perahunya di luar hingga satu bulan, hal ini dikarenakan jembatan memerlukan waktu untuk pengerasan beton yang membuatnya kokoh ketika akan dilewati. Nantinya bila sudah dianggap kuat sejumlah perancah dan penahan kontruksi tersebut akan dilepas dan bisa dilewati warga sekitar. “Takutnya nanti kalau ada perahu keluar masuk dan menyenggol perancah jembatan ini lagi membuat kontruksinya tidak kuat, jadi kita minta waktu untuk satu bulan saja menambatkan perahunya di luar, jembatan ini juga diperuntukkan untuk masyarakat sekitar,” ucapnya.

Adapun pembangunan jembatan di RT 21 Kelurahan Selumit Pantai tersebut merupakan program yang sudah dianggarkan tahun 2020 yang mana ditargetkan selesai pada Desember tahun ini. “Jadi sumber anggaran pembangunan jembatan ini berdasarkan APBN, kita harapkan jembatan ini nantinya bisa memudahkan masyarakat untuk beraktifitas,” ucapnya.

Baca Juga :  Berharap Pos Kamling Aktif lagi

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Tarakan, Pandariansyah mengatakan bahwa jembatan tersebut memang masih belum dilakukan pengecoran dan masih pemasangan bekisting. “Bekisting itu cetakan belum sempurna karena belum selesai dirakit sehingga belum dilakukan pengecoran. Nah, mungkin bekistingnya itu lepas di satu sisi. Itu bukan roboh, tapi bekistingnya belum tuntas,” beber Pandariansyah.

Pandariansyah menjelaskan bahwa proses bekisting dilakukan dengan saling mengikat. Namun bekisting yang belum kuat membuat jembatan menjadi turun. Sebenarnya, jembatan sudah dapat dinyatakan selesai jika telah melalui proses pengecoran, namun proses pengecoran belum dilakukan karena bekisting yang belum sempurna.

Pandariansyah mengatakan proses bekisting wajib dilakukan sampai bagian bawah jembatan. Sebab adanya standar menahan beban beton. Pandariansyah menjelaskan, bekisting berfungsi untuk menahan beton, setelah kering baru dapat dilepas. Sehingga pihaknya menginginkan agar para nelayan dapat menyimpan kapal berada di luar jembatan sampai proses perbaikan jembatan selesai. Pengecoran beton dibutuhkan waktu 21 hari minimal agar keras.

Kerusakan jembatan ini menjadi tanggung jawab kontraktor. Sehingga dalam hal ini para kontraktor wajib memperbaiki jembatan tersebut secara penuh. Menurut Pandariansyah, ini bukanlah sebuah kelalaian karena proses pengerjaan belum selesai. Sehingga dalam hal ini masyarakat dan pekerja dapat bekerjasama.

“Kami sudah komunikasi dengan teman-teman kotaku agar diingatkan ke masyarakat. Tapi ini sudah dirakit ulang kok,” katanya. (jnr/shy/lim)

TARAKAN – Jembatan yang tengah dibangun di RT 21, Selumit Pantai, Tarakan Tengah roboh, Senin (14/12). Usai kejadian itu, warga diminta menambatkan atau memarkir perahu di luar area jembatan yang tengah dibangun. Namun, sejumlah warga menolak.

Ketua RT 22 Kelurahan Selumit Pantai, Eka Mardiana menuturkan saat ini dirinya bersama ketua RT lainnya masih melakukan sosialisasi kepada para nelayan yang biasanya menambatkan perahu melewati jembatan ini, diminta untuk menambatkan perahu di luar untuk sementara waktu.

Rata-rata perahu yang dimiliki nelayan ini berukuran kecil, untuk tempat tambat sulit ditemukan di kawasan sebelum memasuki area jembatan, sehingga beberapa nelayan pun menolak larangan menambatkan kapal di dalam daerah permukiman, melewati jembatan yang menghubungkan dua kelurahan.

“Tapi, masih kami sosialisasikan terus ini, perbaikan jembatan ini untuk kita semua juga, nelayan saya harapkan bersabar dulu sebulan untuk perahunya ditambat diluar, karena kalau ditambat di dalam, bagaimana orang kerja, karena jembatan tidak ditutup. Kan harus ditutup sementara waktu dulu, nanti ada yang nabrak lagi, roboh lagi,” ujarnya, kemarin (16/12).

Sementara itu, Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kaltara di lapangan, robohnya jembatan di RT 21 saat proses pengecoran disebabkan adanya perancah atau scaffolding yang berfungsi menahan konstruksi jembatan yang roboh akibat tersenggol perahu warga saat melintas.

Plt Kepala BPPW Kaltara, J Wahyu Kusumosusanto dimana tersenggolnya perancah oleh perahu warga dirinya ketahui setelah melakukan pengecekan di lapangan, peristiwa tersebut terjadi pada dini hari menjelang subuh. “Jadi ada perahu warga yang menyenggol perancah, sehingga perancah yang menjadi penopang kontruksi tersebut roboh, hal tersebut tidak kita ketahui karena tidak ada warga yang melaporkannya, baru kejadian robohnya jembatan itu dan kita melakukan penggalian informasi di lapangan kita dapatkan informasi adanya peristiwa perancah yang tersenggol oleh perahu warga,” tuturnya, Rabu (16/12).

Baca Juga :  Fatwa MUI Pengaruhi Animo Masyarakat

Sebagai upaya mengantisipasi hal serupa tidak terjadi, pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan warga yang mana diperoleh kesepakatan agar untuk sementara perahu-perahu warga ditambatkan di luar, hal tersebut bertujuan agar tidak ada lagi perahu warga yang keluar masuk yang dapat menyenggol perancah jembatan tersebut. “Jadi kita sepakat satu bulan saja perahu warga ditambatkan di luar, hari ini merupakan hari terakhir perahunya ditambatkan di luar, baru kita lakukan  pengerjaan lagi,” ungkapnya.

Adapun dalam proses pengerjaan jembatan tersebut yang memasuki proses perbaikan kontruksi yang sempat rusak hingga pengecoran hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu. “Kalau dampak dari peristiwa robohnya jembatan kemarin tidak terlalu signifikan, jadi sekitar semingguan saja bisa selesai, memang ini proyek ditargetkan Desember ini sudah selesai,” ujarnya.

Terkait mengapa pihaknya meminta warga menambatkan perahunya di luar hingga satu bulan, hal ini dikarenakan jembatan memerlukan waktu untuk pengerasan beton yang membuatnya kokoh ketika akan dilewati. Nantinya bila sudah dianggap kuat sejumlah perancah dan penahan kontruksi tersebut akan dilepas dan bisa dilewati warga sekitar. “Takutnya nanti kalau ada perahu keluar masuk dan menyenggol perancah jembatan ini lagi membuat kontruksinya tidak kuat, jadi kita minta waktu untuk satu bulan saja menambatkan perahunya di luar, jembatan ini juga diperuntukkan untuk masyarakat sekitar,” ucapnya.

Adapun pembangunan jembatan di RT 21 Kelurahan Selumit Pantai tersebut merupakan program yang sudah dianggarkan tahun 2020 yang mana ditargetkan selesai pada Desember tahun ini. “Jadi sumber anggaran pembangunan jembatan ini berdasarkan APBN, kita harapkan jembatan ini nantinya bisa memudahkan masyarakat untuk beraktifitas,” ucapnya.

Baca Juga :  Kesederhanaan Tingkatkan Ketangguhan Keluarga

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Tarakan, Pandariansyah mengatakan bahwa jembatan tersebut memang masih belum dilakukan pengecoran dan masih pemasangan bekisting. “Bekisting itu cetakan belum sempurna karena belum selesai dirakit sehingga belum dilakukan pengecoran. Nah, mungkin bekistingnya itu lepas di satu sisi. Itu bukan roboh, tapi bekistingnya belum tuntas,” beber Pandariansyah.

Pandariansyah menjelaskan bahwa proses bekisting dilakukan dengan saling mengikat. Namun bekisting yang belum kuat membuat jembatan menjadi turun. Sebenarnya, jembatan sudah dapat dinyatakan selesai jika telah melalui proses pengecoran, namun proses pengecoran belum dilakukan karena bekisting yang belum sempurna.

Pandariansyah mengatakan proses bekisting wajib dilakukan sampai bagian bawah jembatan. Sebab adanya standar menahan beban beton. Pandariansyah menjelaskan, bekisting berfungsi untuk menahan beton, setelah kering baru dapat dilepas. Sehingga pihaknya menginginkan agar para nelayan dapat menyimpan kapal berada di luar jembatan sampai proses perbaikan jembatan selesai. Pengecoran beton dibutuhkan waktu 21 hari minimal agar keras.

Kerusakan jembatan ini menjadi tanggung jawab kontraktor. Sehingga dalam hal ini para kontraktor wajib memperbaiki jembatan tersebut secara penuh. Menurut Pandariansyah, ini bukanlah sebuah kelalaian karena proses pengerjaan belum selesai. Sehingga dalam hal ini masyarakat dan pekerja dapat bekerjasama.

“Kami sudah komunikasi dengan teman-teman kotaku agar diingatkan ke masyarakat. Tapi ini sudah dirakit ulang kok,” katanya. (jnr/shy/lim)

Most Read

Jalan Berlumpur Tak Kunjung Dilirik

DPRD Minta Ketegasan Pemkab

Oknum Polisi Terancam Hukuman Mati

Sinovac Hanya untuk Anak 6-11 Tahun

Artikel Terbaru

/