alexametrics
26 C
Tarakan
Monday, August 8, 2022

BAHAYA..!! Di Kaltara Orang Positif Covid-19 Berkeliaran

TAMBAHAN kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kalimantan Utara (Kaltara) kembali ‘meroket’. Rabu (16/12), tercatat adanya tambahan 113 kasus konfirmasi positif baru. Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy mengatakan, sebanyak 113 kasus konfirmasi positif baru itu tersebar di Tarakan sebanyak 94 kasus, di Bulungan 16 kasus, di Nunukan 1 kasus, dan di Malinau sebanyak 2 kasus.

Disebutkannya, untuk yang 94 kasus di Tarakan itu terdiri dari 21 kasus kontak erat, 5 kasus transmisi lokal, 31 kasus transmisi lokal/suspek, dan 37 kasus pelaku perjalanan. “Kalau kita melihat data Tarakan ini banyak sekali pelaku perjalanan. Tapi mereka adalah para pekerja perusahaan yang akan bekerja di kabupaten lain, tetapi mereka wajib karantina dan swab dulu di Tarakan, sehingga menjadi tambahan data untuk Tarakan,” jelasnya.

Sementara untuk yang 16 kasus konfirmasi positif baru di Bulungan itu semuanya dari kasus transmisi lokal dengan rincian 14 laki-laki dan 2 perempuan. Kemudian yang satu kasus di Nunukan itu merupakan kasus transmisi lokal, serta yang 2 kasus di Malinau itu terdiri dari kasus transmisi lokal dan kontak erat. “Dengan bertambahnya 113 kasus konfirmasi positif baru itu, maka total yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kaltara naik menjadi 2.481 kasus,” ujarnya.

Sedangkan yang sembuh dari Covid-19 di provinsi termuda Indonesia ini totalnya sebanyak 1.500 orang, setelah bertambah 65 orang sembuh tambahan baru. Adapun 65 orang yang sembuh itu terdiri dari 30 orang di Tarakan dan 35 orang di Bulungan.

“Lalu untuk yang meninggal dunia, hari ini (kemarin) tidak ada tambahan. Totalnya masih tetap 33 orang. Harapan kita, tidak ada lagi yang meninggal dalam keadaan terpapar Covid-19,” tuturnya.

Selain itu, Agust juga menyebutkan bahwa hingga kemarin jumlah pasien konfirmasi positif yang dirawat di Kaltara sudah 948 orang. Jumlah ini terdiri dari 629 orang di Tarakan, 60 orang di Malinau, 52 orang di Nunukan, 20 orang di Tana Tidung, dan 188 orang di Bulungan.

“Pastinya kita terus melakukan upaya-upaya untuk memutus rantai penularan Covid-19 di Kaltara ini, salah satunya terus menyosialisasikan terkait kewajiban penerapan protokol kesehatan,” pungkasnya.

 

BAGAIMANA OTG BERKELIARAN?

Di Nunukan,hasil pemeriksaan PCR dan TCM yang  dikirimkan ke RSUD Tarakan Kamis pekan lalu kini telah diketahui hasilnya sebagian.Yakni, sebanyak 8 orang dinyatakan positif Covid-19.

Sehingga dengan bertambahnya pasien konfirmasi positif itu maka menambah daftar jumlah kumulatif pasien positif Covid-19 di Nunukan sebanyak 151 kasus. “Rinciannya sebanyak 96 kasus sudah dinyatakan sembuh, 3 kasus meninggal,” sebut  Juru Bicara Satgas Covid Nunukan Aris Suyono dalam rilisnya, kemarin (16/12).

Sampai saat ini, lanjutnya, terdapat 32 kasus dirawat di ruang isolasi RSUD Nunukan, lalu 20 kasus menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing. “ Hari ini Tim TGC masing-masing puskesmas masih terus melaksanakan tracing kontak erat pasien konfirmasi positif,” bebernya.

Untuk itu, Satgas Covid mengharapkan kepada seluruh masyarakat khususnya yang kontak erat dengan pasien melaksanakan karantina secara mandiri selama 14 hari terhitung dari hari terakhir kontak. “Paling penting segera menghubungi puskesmas terdekat apabila muncul salah satu gejala. Seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak dan nyeri badan,” pungkasnya.

Aris turut mengungkap sejumlah temuan Gugus Tugas akan orang positif yang tak bergejala. Diakui, masih banyak orang tanpa gejala (OTG) yang belum teridentifikasi.

“Positif tak bergejala itu kasus konfirmasi yang tak ada gejala sama sekali. Itu positif berdasarkan swab. Penanganan OTG, sesuai buka revisi V pencegahan dan penanganan Covid-19, pasien tanpa gejala atau gejala ringan, kewajibannya isolasi mandiri. Setidaknya 10 hari setelah swab terakhir, dipantau tim puskesmas. Kalau ternyata setelah 10 hari ada gejala, ditambah lagi isolasinya, minimal 3 hari, bisa lebih, sampai dengan tidak ada infeksius. Untuk menjalani isolasi mandiri, ada persyaratannya, misalnya rumah sesuai persyaratan, sanitasi bagus, ada kamar terpisah dengan anggota keluarga yang lain. Di rumah itu, tak ada orang yang berisiko tinggi, lanjut usia, anak bayi, termasuk orang dengan penyakit kronis. Kalaupun ada, dipisahkan dulu, artinya melindungi yang sehat,” urai Aris.

“Dia juga harus bersedia, menjalani isolasi mandiri. Makanya ada pernyataan untuk disiplin isolasi mandiri. OTG lanjut usia, atau ada komorbid, mau tidak mau harus dirawat di RS. Dan ini hanya kewenangan medis, dokter yang menentukan,” jelasnya lebih jauh.

Peningkatan kasus dipengaruhi keberadaan OTG yang belum teridentifikasi. “Dari sekian banyak kasus yang kami temukan, banyak yang tidak kami ketahui sumber penularannya. Tidak kontak erat, tidak pernah ke mana-mana, tapi ternyata positif, kami sebut ini transmisi komunitas. Kalau ada seperti ini, sudah ada penularan di tengah masyarakat. Pencegahannya, harus taat protokol kesehatan. Ini orang yang tak teridentifikasi. OTG itu bisa menularkan ke orang lain, bisa saja seperti itu. Ini OTG yang tak terlacak, nah di Kaltara sudah banyak,” sebutnya.

Baca Juga :  Bhabinkamtibmas dan Babinsa Wajib Ciptakan Keadaan Kondusif

Maka tak ada jaminan bagi orang yang beraktivitas di luar jauh dari orang yang positif Covid-19, kata dia. Peningkatan kasus juga dipengaruhi dari adanya pelonggaran. Namun di isi lain, ekonomi harus berjalan.

“Tantangannya adalah kemungkinan penularan semakin tinggi. Tapi kalau semuanya taat, mekanisme penularan ini kan lewat droplet, jaga jarak, masker, hindari kerumunan, cuci tangan, itu bisa ditekan. Tapi kalau ada tidak taat, maka bisa terjadi penularan yang signifikan.

Di Nunukan bahkan ada yang meninggal setelah transmisi komunitas, dari OTG yang tak teridentifikasi. “Meninggalnya di rumah, setelah pulang dari RS, swab-nya belum keluar. Yang kita khawatirkan orang berisiko itu. Kalau kita taat prokes, orang yang rentan kita lindungi. Kalau kita tak disiplin, kita jadi carrier (pembawa). Katakan kelompok rentan enggak disiplin juga, maka jatuh sakit lebih parah dibanding yang lain,” jelasnya.

Saat ini Gugus Tugas Nunukan memperketat penegakan melalui aparat. “Kami juga mendorong screening aktif, beberapa tempat seperti perkantoran, asrama, lapas. Kemudian sasarannya ke depan tempat usaha. Itu pun akan kita lihat ada enggak risiko menuju ke sana. Misalnya dari tracing. Penilaian risiko. Mengidentifikasi apakah ada paparan di sana,” tambahnya.

Kontak erat juga menjadi masalah. Kontak erat banyak yang taat isolasi mandiri. “Ada yang menunggu hasil swab, bagi yang bergejala. Ada juga kontak erat nakes, wajib swab, walaupun tak bergejala. Adapula kontak erat yang hanya menjalani rapid test, setelah dites nonreaktif. Karena nonreaktif itu, dia sudah yakin aman, padahal tidak seperti itu. Tetap harus isolasi, dia ada potensi menularkan. Ini kan bukan diagnosa.  Pengawasan kontak erat juga melibatkan kecamatan dan kelurahan sampai RT, dibantu babinsa dan bhabinkamtibmas. Yang harus dipahamkan ke masyarakat, kontak erat yah harus isolasi mandiri. Ada yang pendidikannya bagus, adapula ASN, masih enggak memahami itu. Rapid test sebenarnya enggak usah, kontak erat itu memang harus isolasi mandiri,” tukasnya.

 

KERUMUNAN MASSA TAK BERKURANG

Kerumunan massa tetap saja terlihat. Masyarakat terkesan abai dengan kondisi yang ada. Bahkan, seolah-olah pandemi yang terjadi sejak beberapa bulan lalu itu tak berbahaya. Padahal, sudah ada kematian.  “Suasananya berbeda sekarang. Waktu yang belasan orang positif April-Mei lalu, itu salat Jumat saja tidak boleh. Tapi sekarang, ada puluhan orang kena, kafe tetap buka. Bahkan, ada acara tiap malam,” ujar Anwar, warga Nunukan Utara, Rabu (16/12).

Hal senada diungkapkan Rafisah (39), seorang pedagang sembako di Pasar Inhutani. Ia mengaku sejak adanya peningkatan kasus Covid-19, pembeli tetap normal. “Kalau yang saya rasakan, tetap normal saja. Yang berubah itu hanya pakai masker saja. Itu saja,” ungkapnya.

Sebelum jumlah positif Covid-19 ini meningkat, pemerintah melalui Satgas Covid-19 Nunukan memberlakukan new normal atau adaptasi kebiasaan baru. Sebab, jumlah kesembuhan pasien terus mengalami peningkatan. Bahkan, sejumlah kecamatan sempat zona hijau. Lalu, di Nunukan sempat zero kasus.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Setkab Nunukan, Hasan Basri mengatakan, dilema di tengah pandemi Covid-19 setelah dilakukannya pelonggaran. Harapan terbesar para pelaku usaha tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. “Untuk mencabut status new normal ini menunggu arahan pemerintah pusat saja. Sebab, kalau dicabut, dampaknya ke pengusaha,” jelasnya.

Menurutnya, jumlah positif Covid-19 akan terus bertambah. Sebab, kejadian ini merupakan transmisi lokal. “Jadi, sulit terbendung,” ungkapnya.

 

BAWA MOTOR SENDIRI

Rekor terbaru, penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Tarakan tembus di angka 96 orang, Rabu (16/12). Angka tersebut menambah daftar pasien positif yang dirawat dan dipantau mencapai 632 orang.

Lantas seperti apa bentuk pengawasan terhadap pasien positif? Khususnya bagi pasien terkonfirmasi, yang melakukan isolasi mandiri.

Dalam kesempatan ini, Radar Tarakan berhasil mewawancarai salah seorang pasien positif Covid-19, yang disamarkan dengan inisial A. Pria berusia 30 tahun ini dinyatakan positif pada Minggu (13/12), lima hari lalu.

Meski tidak memiliki gejala seperti batuk, pilek dan demam, namun setelah mengikuti pemeriksaan swab yang dilakukan instansi tempat ia bekerja, hasilnya menunjukkan ia terpapar Covid-19. “Hasilnya keluar Sabtu malam, tapi Minggu baru resminya. Saya juga enggak tahu (kontak erat), enggak tahu dapat dari mana. Karena begitu kantor adakan swab, itu hampir separuhnya dari total yang di-swab positif. Ada sekitar 55 orang diperiksa, hasil positif yang keluar ada 25 orang,” terangnya kepada Radar Tarakan, saat dihubungi via telepon, Rabu (16/12).

Baca Juga :  Ada Tambang, Diusulkan Ada BUMD yang Kelola Sumber Daya Alam

Ia mengaku setelah mengetahui dirinya positif, ia berinisiatif langsung melakukan isolasi mandiri di tempat yang dianggapnya aman. AO berdomisili di Jalan Sebengkok Tiram, RT 09, Kelurahan Sebengkok. Namun melakukan isolasi di Kelurahan Pamusian. “Kebetulan ada teman juga positif, dan masih bujang. Jadi kami ada tiga orang yang positif, tinggal satu rumah di tempat teman itu. Karena kalau di rumah saya khawatir menularkan, karena ada orang tua usia 50-an tahun, ada anak, istri,” bebernya.

Namun setelah dinyatakan positif, ia berterus terang merasa belum diawasi petugas. Baik menanyakan keluhan ataupun arahan selama melakukan isolasi mandiri. Tetapi atas inisiatif dan kesadaran diri, ia mematuhi protokol kesehatan dengan berdiam di rumah.

Sedangkan untuk keluarganya sendiri, sudah dilakukan tracing dan penyemprotan disinfektan. “Kalau saya sebagai pasien positif belum ada (pengawasan). Vitamin dan makanan kita usahakan sendiri, biasa dibawakan teman atau istri. Jadi diantarkan dan digantung di depan pagar,” jelasnya.

Secara fisik ia terlihat sehat. Namun selama isolasi mandiri ia melakukan olahraga ringan. Seperti lari-lari kecil di teras atau pekarangan rumah dan push up.

Kemudian Selasa (15/12) malam, barulah ia dihubungi petugas untuk melakukan pemeriksaan awal di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT). Namun ia justru ke RSUKT secara mandiri, atau tanpa dijemput petugas dengan menggunakan ambulans.

Meski begitu, ia tetap mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker dan mengurangi kontak selama perjalanan ke RSUKT. “Saya tidak ditawari dijemput ambulans. Isi pesannya hanya disuruh ke rumah sakit pukul 08.00 WITA. Jadi saya bawa motor sendiri, padahal saya pasien positif Covid-19, masa dibiarkan. Tapi kalau teman-teman yang lain, ada ditawari dijemput ambulans. Jadi kesadaran diri masing-masing saja, tetap patuh protokol kesehatan,” bebernya.

“Kalau untuk pengawasan tidak begitu ketat, seperti biasa saja. Jadi kalau mau keliaran di luar bisa saja, tapi kembali ke diri kita masing-masing,” sambungnya.

Rencananya ia akan melakukan pemeriksaan follow up untuk swab kedua pada 21 Desember mendatang. Dia berharap agar masyarakat Tarakan tidak menyepelekan Covid-19. Minimal tetap mematuhi protokol kesehatan. Seperti memakai masker, rutin mencuci tangan dan menjaga jarak. “Percaya atau tidak, Covid-19 itu ada dan harus kita hadapi. Jadi kita lebih patuhi protokol kesehatan, jangan menyepelekan Covid-19. Semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu, dan kita kembali ke kehidupan seperti dulu,” harapnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, mengatakan dari 96 orang tambahan tersebut, di antaranya 30 orang merupakan pelaku perjalanan, dan 66 orang adalah kontak erat dari hasil tracing kasus pasien positif sebelumnya. “Yang kasus impor (pelaku perjalanan) itu institusi, ada urusan pekerjaan. Jadi tambahan ini dari pelaku perjalanan dan kontak erat,” terangnya.

30 orang pelaku perjalanan tersebut melakukan isolasi mandiri di tempat yang disiapkan oleh instansi tersebut. Rerata pelaku perjalanan yang positif ini tanpa menujukkan gejala.

Sedangkan pasien dari hasil tracing kontak erat, ada yang bergejala ringan seperti demam, batuk, pilek dan gangguan pernapasan. Gejala yang ditunjukkan cukup bervariasi. Ada yang mengalami gangguan penciuman, adapula yang hanya merasa batuk dan pilek. Namun adapula yang sama sekali tidak menunjukkan gejala. “Tapi kita belum bisa rincikan ada berapa yang bergejala dan berapa yang tidak bergejala. Tapi gejala pastinya demam, batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh. Misalnya juga dia sudah lama batuk, tapi sekarang yang ia rasakan itu lebih berat,” katanya.

Dengan jumlah 632 orang positif yang dirawat dan dipantau, lantas bagaimana bentuk pengawasan dari petugas? Dia mengaku dengan jumlah tenaga yang terbatas, pengawasan bagi pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah dibantu ketua RT setempat maupun institusi.

Dalam hal ini, ia juga mengimbau bagi pasien positif yang tidak terpantau ataupun memiliki keluhan, berinisiatif menghubungi petugas ataupun Ketua RT setempat. “Dengan tenaga di puskesmas yang berbeda-beda. Jadi untuk yang isolasi mandiri, kalau tidak terpantau, ada keluhan bisa langsung koordinasikan. Untuk pemberian vitamin enggak ada, dengan jumlah yang sebanyak itu kita tidak sanggup,” jelasnya.

Selain tambahan pasien positif, bertambah juga sebanyak 29 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Sementara kasus suspek yang dipantau sebanyak 148 orang, dan kontak erat sebanyak 1.745 orang. (iwk/oya/*/one/lim)

TAMBAHAN kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kalimantan Utara (Kaltara) kembali ‘meroket’. Rabu (16/12), tercatat adanya tambahan 113 kasus konfirmasi positif baru. Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy mengatakan, sebanyak 113 kasus konfirmasi positif baru itu tersebar di Tarakan sebanyak 94 kasus, di Bulungan 16 kasus, di Nunukan 1 kasus, dan di Malinau sebanyak 2 kasus.

Disebutkannya, untuk yang 94 kasus di Tarakan itu terdiri dari 21 kasus kontak erat, 5 kasus transmisi lokal, 31 kasus transmisi lokal/suspek, dan 37 kasus pelaku perjalanan. “Kalau kita melihat data Tarakan ini banyak sekali pelaku perjalanan. Tapi mereka adalah para pekerja perusahaan yang akan bekerja di kabupaten lain, tetapi mereka wajib karantina dan swab dulu di Tarakan, sehingga menjadi tambahan data untuk Tarakan,” jelasnya.

Sementara untuk yang 16 kasus konfirmasi positif baru di Bulungan itu semuanya dari kasus transmisi lokal dengan rincian 14 laki-laki dan 2 perempuan. Kemudian yang satu kasus di Nunukan itu merupakan kasus transmisi lokal, serta yang 2 kasus di Malinau itu terdiri dari kasus transmisi lokal dan kontak erat. “Dengan bertambahnya 113 kasus konfirmasi positif baru itu, maka total yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kaltara naik menjadi 2.481 kasus,” ujarnya.

Sedangkan yang sembuh dari Covid-19 di provinsi termuda Indonesia ini totalnya sebanyak 1.500 orang, setelah bertambah 65 orang sembuh tambahan baru. Adapun 65 orang yang sembuh itu terdiri dari 30 orang di Tarakan dan 35 orang di Bulungan.

“Lalu untuk yang meninggal dunia, hari ini (kemarin) tidak ada tambahan. Totalnya masih tetap 33 orang. Harapan kita, tidak ada lagi yang meninggal dalam keadaan terpapar Covid-19,” tuturnya.

Selain itu, Agust juga menyebutkan bahwa hingga kemarin jumlah pasien konfirmasi positif yang dirawat di Kaltara sudah 948 orang. Jumlah ini terdiri dari 629 orang di Tarakan, 60 orang di Malinau, 52 orang di Nunukan, 20 orang di Tana Tidung, dan 188 orang di Bulungan.

“Pastinya kita terus melakukan upaya-upaya untuk memutus rantai penularan Covid-19 di Kaltara ini, salah satunya terus menyosialisasikan terkait kewajiban penerapan protokol kesehatan,” pungkasnya.

 

BAGAIMANA OTG BERKELIARAN?

Di Nunukan,hasil pemeriksaan PCR dan TCM yang  dikirimkan ke RSUD Tarakan Kamis pekan lalu kini telah diketahui hasilnya sebagian.Yakni, sebanyak 8 orang dinyatakan positif Covid-19.

Sehingga dengan bertambahnya pasien konfirmasi positif itu maka menambah daftar jumlah kumulatif pasien positif Covid-19 di Nunukan sebanyak 151 kasus. “Rinciannya sebanyak 96 kasus sudah dinyatakan sembuh, 3 kasus meninggal,” sebut  Juru Bicara Satgas Covid Nunukan Aris Suyono dalam rilisnya, kemarin (16/12).

Sampai saat ini, lanjutnya, terdapat 32 kasus dirawat di ruang isolasi RSUD Nunukan, lalu 20 kasus menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing. “ Hari ini Tim TGC masing-masing puskesmas masih terus melaksanakan tracing kontak erat pasien konfirmasi positif,” bebernya.

Untuk itu, Satgas Covid mengharapkan kepada seluruh masyarakat khususnya yang kontak erat dengan pasien melaksanakan karantina secara mandiri selama 14 hari terhitung dari hari terakhir kontak. “Paling penting segera menghubungi puskesmas terdekat apabila muncul salah satu gejala. Seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak dan nyeri badan,” pungkasnya.

Aris turut mengungkap sejumlah temuan Gugus Tugas akan orang positif yang tak bergejala. Diakui, masih banyak orang tanpa gejala (OTG) yang belum teridentifikasi.

“Positif tak bergejala itu kasus konfirmasi yang tak ada gejala sama sekali. Itu positif berdasarkan swab. Penanganan OTG, sesuai buka revisi V pencegahan dan penanganan Covid-19, pasien tanpa gejala atau gejala ringan, kewajibannya isolasi mandiri. Setidaknya 10 hari setelah swab terakhir, dipantau tim puskesmas. Kalau ternyata setelah 10 hari ada gejala, ditambah lagi isolasinya, minimal 3 hari, bisa lebih, sampai dengan tidak ada infeksius. Untuk menjalani isolasi mandiri, ada persyaratannya, misalnya rumah sesuai persyaratan, sanitasi bagus, ada kamar terpisah dengan anggota keluarga yang lain. Di rumah itu, tak ada orang yang berisiko tinggi, lanjut usia, anak bayi, termasuk orang dengan penyakit kronis. Kalaupun ada, dipisahkan dulu, artinya melindungi yang sehat,” urai Aris.

“Dia juga harus bersedia, menjalani isolasi mandiri. Makanya ada pernyataan untuk disiplin isolasi mandiri. OTG lanjut usia, atau ada komorbid, mau tidak mau harus dirawat di RS. Dan ini hanya kewenangan medis, dokter yang menentukan,” jelasnya lebih jauh.

Peningkatan kasus dipengaruhi keberadaan OTG yang belum teridentifikasi. “Dari sekian banyak kasus yang kami temukan, banyak yang tidak kami ketahui sumber penularannya. Tidak kontak erat, tidak pernah ke mana-mana, tapi ternyata positif, kami sebut ini transmisi komunitas. Kalau ada seperti ini, sudah ada penularan di tengah masyarakat. Pencegahannya, harus taat protokol kesehatan. Ini orang yang tak teridentifikasi. OTG itu bisa menularkan ke orang lain, bisa saja seperti itu. Ini OTG yang tak terlacak, nah di Kaltara sudah banyak,” sebutnya.

Baca Juga :  Bhabinkamtibmas dan Babinsa Wajib Ciptakan Keadaan Kondusif

Maka tak ada jaminan bagi orang yang beraktivitas di luar jauh dari orang yang positif Covid-19, kata dia. Peningkatan kasus juga dipengaruhi dari adanya pelonggaran. Namun di isi lain, ekonomi harus berjalan.

“Tantangannya adalah kemungkinan penularan semakin tinggi. Tapi kalau semuanya taat, mekanisme penularan ini kan lewat droplet, jaga jarak, masker, hindari kerumunan, cuci tangan, itu bisa ditekan. Tapi kalau ada tidak taat, maka bisa terjadi penularan yang signifikan.

Di Nunukan bahkan ada yang meninggal setelah transmisi komunitas, dari OTG yang tak teridentifikasi. “Meninggalnya di rumah, setelah pulang dari RS, swab-nya belum keluar. Yang kita khawatirkan orang berisiko itu. Kalau kita taat prokes, orang yang rentan kita lindungi. Kalau kita tak disiplin, kita jadi carrier (pembawa). Katakan kelompok rentan enggak disiplin juga, maka jatuh sakit lebih parah dibanding yang lain,” jelasnya.

Saat ini Gugus Tugas Nunukan memperketat penegakan melalui aparat. “Kami juga mendorong screening aktif, beberapa tempat seperti perkantoran, asrama, lapas. Kemudian sasarannya ke depan tempat usaha. Itu pun akan kita lihat ada enggak risiko menuju ke sana. Misalnya dari tracing. Penilaian risiko. Mengidentifikasi apakah ada paparan di sana,” tambahnya.

Kontak erat juga menjadi masalah. Kontak erat banyak yang taat isolasi mandiri. “Ada yang menunggu hasil swab, bagi yang bergejala. Ada juga kontak erat nakes, wajib swab, walaupun tak bergejala. Adapula kontak erat yang hanya menjalani rapid test, setelah dites nonreaktif. Karena nonreaktif itu, dia sudah yakin aman, padahal tidak seperti itu. Tetap harus isolasi, dia ada potensi menularkan. Ini kan bukan diagnosa.  Pengawasan kontak erat juga melibatkan kecamatan dan kelurahan sampai RT, dibantu babinsa dan bhabinkamtibmas. Yang harus dipahamkan ke masyarakat, kontak erat yah harus isolasi mandiri. Ada yang pendidikannya bagus, adapula ASN, masih enggak memahami itu. Rapid test sebenarnya enggak usah, kontak erat itu memang harus isolasi mandiri,” tukasnya.

 

KERUMUNAN MASSA TAK BERKURANG

Kerumunan massa tetap saja terlihat. Masyarakat terkesan abai dengan kondisi yang ada. Bahkan, seolah-olah pandemi yang terjadi sejak beberapa bulan lalu itu tak berbahaya. Padahal, sudah ada kematian.  “Suasananya berbeda sekarang. Waktu yang belasan orang positif April-Mei lalu, itu salat Jumat saja tidak boleh. Tapi sekarang, ada puluhan orang kena, kafe tetap buka. Bahkan, ada acara tiap malam,” ujar Anwar, warga Nunukan Utara, Rabu (16/12).

Hal senada diungkapkan Rafisah (39), seorang pedagang sembako di Pasar Inhutani. Ia mengaku sejak adanya peningkatan kasus Covid-19, pembeli tetap normal. “Kalau yang saya rasakan, tetap normal saja. Yang berubah itu hanya pakai masker saja. Itu saja,” ungkapnya.

Sebelum jumlah positif Covid-19 ini meningkat, pemerintah melalui Satgas Covid-19 Nunukan memberlakukan new normal atau adaptasi kebiasaan baru. Sebab, jumlah kesembuhan pasien terus mengalami peningkatan. Bahkan, sejumlah kecamatan sempat zona hijau. Lalu, di Nunukan sempat zero kasus.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Setkab Nunukan, Hasan Basri mengatakan, dilema di tengah pandemi Covid-19 setelah dilakukannya pelonggaran. Harapan terbesar para pelaku usaha tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. “Untuk mencabut status new normal ini menunggu arahan pemerintah pusat saja. Sebab, kalau dicabut, dampaknya ke pengusaha,” jelasnya.

Menurutnya, jumlah positif Covid-19 akan terus bertambah. Sebab, kejadian ini merupakan transmisi lokal. “Jadi, sulit terbendung,” ungkapnya.

 

BAWA MOTOR SENDIRI

Rekor terbaru, penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Tarakan tembus di angka 96 orang, Rabu (16/12). Angka tersebut menambah daftar pasien positif yang dirawat dan dipantau mencapai 632 orang.

Lantas seperti apa bentuk pengawasan terhadap pasien positif? Khususnya bagi pasien terkonfirmasi, yang melakukan isolasi mandiri.

Dalam kesempatan ini, Radar Tarakan berhasil mewawancarai salah seorang pasien positif Covid-19, yang disamarkan dengan inisial A. Pria berusia 30 tahun ini dinyatakan positif pada Minggu (13/12), lima hari lalu.

Meski tidak memiliki gejala seperti batuk, pilek dan demam, namun setelah mengikuti pemeriksaan swab yang dilakukan instansi tempat ia bekerja, hasilnya menunjukkan ia terpapar Covid-19. “Hasilnya keluar Sabtu malam, tapi Minggu baru resminya. Saya juga enggak tahu (kontak erat), enggak tahu dapat dari mana. Karena begitu kantor adakan swab, itu hampir separuhnya dari total yang di-swab positif. Ada sekitar 55 orang diperiksa, hasil positif yang keluar ada 25 orang,” terangnya kepada Radar Tarakan, saat dihubungi via telepon, Rabu (16/12).

Baca Juga :  Empat Tahun Menunggu Semenisasi Jalan Baru

Ia mengaku setelah mengetahui dirinya positif, ia berinisiatif langsung melakukan isolasi mandiri di tempat yang dianggapnya aman. AO berdomisili di Jalan Sebengkok Tiram, RT 09, Kelurahan Sebengkok. Namun melakukan isolasi di Kelurahan Pamusian. “Kebetulan ada teman juga positif, dan masih bujang. Jadi kami ada tiga orang yang positif, tinggal satu rumah di tempat teman itu. Karena kalau di rumah saya khawatir menularkan, karena ada orang tua usia 50-an tahun, ada anak, istri,” bebernya.

Namun setelah dinyatakan positif, ia berterus terang merasa belum diawasi petugas. Baik menanyakan keluhan ataupun arahan selama melakukan isolasi mandiri. Tetapi atas inisiatif dan kesadaran diri, ia mematuhi protokol kesehatan dengan berdiam di rumah.

Sedangkan untuk keluarganya sendiri, sudah dilakukan tracing dan penyemprotan disinfektan. “Kalau saya sebagai pasien positif belum ada (pengawasan). Vitamin dan makanan kita usahakan sendiri, biasa dibawakan teman atau istri. Jadi diantarkan dan digantung di depan pagar,” jelasnya.

Secara fisik ia terlihat sehat. Namun selama isolasi mandiri ia melakukan olahraga ringan. Seperti lari-lari kecil di teras atau pekarangan rumah dan push up.

Kemudian Selasa (15/12) malam, barulah ia dihubungi petugas untuk melakukan pemeriksaan awal di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT). Namun ia justru ke RSUKT secara mandiri, atau tanpa dijemput petugas dengan menggunakan ambulans.

Meski begitu, ia tetap mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker dan mengurangi kontak selama perjalanan ke RSUKT. “Saya tidak ditawari dijemput ambulans. Isi pesannya hanya disuruh ke rumah sakit pukul 08.00 WITA. Jadi saya bawa motor sendiri, padahal saya pasien positif Covid-19, masa dibiarkan. Tapi kalau teman-teman yang lain, ada ditawari dijemput ambulans. Jadi kesadaran diri masing-masing saja, tetap patuh protokol kesehatan,” bebernya.

“Kalau untuk pengawasan tidak begitu ketat, seperti biasa saja. Jadi kalau mau keliaran di luar bisa saja, tapi kembali ke diri kita masing-masing,” sambungnya.

Rencananya ia akan melakukan pemeriksaan follow up untuk swab kedua pada 21 Desember mendatang. Dia berharap agar masyarakat Tarakan tidak menyepelekan Covid-19. Minimal tetap mematuhi protokol kesehatan. Seperti memakai masker, rutin mencuci tangan dan menjaga jarak. “Percaya atau tidak, Covid-19 itu ada dan harus kita hadapi. Jadi kita lebih patuhi protokol kesehatan, jangan menyepelekan Covid-19. Semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu, dan kita kembali ke kehidupan seperti dulu,” harapnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, mengatakan dari 96 orang tambahan tersebut, di antaranya 30 orang merupakan pelaku perjalanan, dan 66 orang adalah kontak erat dari hasil tracing kasus pasien positif sebelumnya. “Yang kasus impor (pelaku perjalanan) itu institusi, ada urusan pekerjaan. Jadi tambahan ini dari pelaku perjalanan dan kontak erat,” terangnya.

30 orang pelaku perjalanan tersebut melakukan isolasi mandiri di tempat yang disiapkan oleh instansi tersebut. Rerata pelaku perjalanan yang positif ini tanpa menujukkan gejala.

Sedangkan pasien dari hasil tracing kontak erat, ada yang bergejala ringan seperti demam, batuk, pilek dan gangguan pernapasan. Gejala yang ditunjukkan cukup bervariasi. Ada yang mengalami gangguan penciuman, adapula yang hanya merasa batuk dan pilek. Namun adapula yang sama sekali tidak menunjukkan gejala. “Tapi kita belum bisa rincikan ada berapa yang bergejala dan berapa yang tidak bergejala. Tapi gejala pastinya demam, batuk dan pilek yang tidak sembuh-sembuh. Misalnya juga dia sudah lama batuk, tapi sekarang yang ia rasakan itu lebih berat,” katanya.

Dengan jumlah 632 orang positif yang dirawat dan dipantau, lantas bagaimana bentuk pengawasan dari petugas? Dia mengaku dengan jumlah tenaga yang terbatas, pengawasan bagi pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah dibantu ketua RT setempat maupun institusi.

Dalam hal ini, ia juga mengimbau bagi pasien positif yang tidak terpantau ataupun memiliki keluhan, berinisiatif menghubungi petugas ataupun Ketua RT setempat. “Dengan tenaga di puskesmas yang berbeda-beda. Jadi untuk yang isolasi mandiri, kalau tidak terpantau, ada keluhan bisa langsung koordinasikan. Untuk pemberian vitamin enggak ada, dengan jumlah yang sebanyak itu kita tidak sanggup,” jelasnya.

Selain tambahan pasien positif, bertambah juga sebanyak 29 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Sementara kasus suspek yang dipantau sebanyak 148 orang, dan kontak erat sebanyak 1.745 orang. (iwk/oya/*/one/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/