alexametrics
26.7 C
Tarakan
Friday, August 12, 2022

Sempat Mati Suri, Batik Tarakan Perlahan Bangkit

Masa pandemi Covid-19 cukup mematikan hampir seluruh sektor usaha tak terkecuali sektor usaha pengrajin batik asal Tarakan. Pasca masa adaptasi kebiasaan baru dan PSBB berakhir, perlahan-lahan pengrajin batik mulai bangkit terlebih sejak ada kebijakan pemerintah mengangkat batik tarakan sebagai seragam ASN dan even pagelaran budaya Tarakan yang mengenalkan keberadaan batik khas Kota Tarakan.

 

Andi Pausiah, Tarakan

Adalah Soni Lolong, salah seorang pengrajin batik Tarakan yang sudah berkecimpung selama bertahun-tahun membuat batik. Ia menyebutkan, di Kota Tarakan selain dirinya, masih ada tiga orang lagi pembatik yang nasibnya hamper sama sempat mati suri di awal-awal pandemic Covid-19 merebak. Hingga memasuki masa adaptasi kebiasaan baru, barulah usahanya pun kembali bangkit. Terlebih saat Pemkot Tarakan lewat Wali Kota Tarakan Dokter Khairul mengeluarkan kebijakan penyeragaman batik ASN bagi Pemkot Tarakan yang rencananya akan digunakan setiap hari Kamis. Dikatakan Soni Lolong, untuk motif batik yang menjadi seragam ASN yakni motif padau tujuh dulung. Target sekitar 3 ribu lembar batik sedang diusahakan dan dikebut pengerjaannya. Dengan memanfaatkan jasa pengrajin batik, ia menilai ini salah satu keseriusan dan perhatian pemerintah terlebih di masa pandemic Covid-19 yang tak jelas kapan berakhir. Ditetapkannya batik Tarakan sebagai seragam ASN Kota Tarakan imbasnya kepada pembatik dari sisi perekonomian meningkat. “Selama pandemi Covid-19, pendapatan atau omzet pengrajin batik sempat drop atau mengalami penurunan. Selain dari sisi perekonomian meningkat, dari sisi keaktifan pengrajin batik juga akhirnya kembali lagi, bergairah lagi untuk membatik,” beber Soni Lolong.

Ia mengulas lebih jauh mengapa batik Tarakan diharapakan bisa dikenal hingga mancanegara. Salah satunya, batik Tarakan yang diproduksi saat ini masih menggunakan teknik manual. Ada empat teknik membatik. Pertama, batik cap,  kedua batik lukis dengan kuas, ketiga batik

Ia juga mengulas untuk penggunaan warna batik. Batik pewarnaan alam itu menggunakan bahan dedaunan seperti daun ketapang, daun rambutan, daun manga. Begitu juga kulit kayu manga, kulit kayu rambutan kulit kayu bakau. Begitu juga kulit buah rambutan dan jenis buah lainnya semua bisa diolah dalam pewarnaan alam. “Dari sisi kekontrasan atau kecerahan, batik pewarnaan alam kalah dengan batik yang menggunakan pewarnaan sintentis. Namun  dari sisi kesehatan tubuh, lebih terjamin dan lebih aman serta lebih ramah lingkungan,” tegasnya. Kelebihan batik warna alam lebih aman digunakan meski tidak semua pasar menyukai batik yang menggunakan pewarnaan alam. Untuk pengelolaan lebih sulit dan harus melalui proses ekstraksi. Mencari dan menemukan 1 warna cukup sulit. “Warna biru masih mudah. Tapi untuk menentukan wwarna kuning, merah, hijau, itu tidak bisa ditentukan dari awal. Harus melalui proses. Itulah batik pewarnaan alam lebih mahal dari batik sintetis. Karena satu warna kulit buah rambutan misalnya bisa menghasilkan banyak warna,” bebernya.

Baca Juga :  Jalan Depan Markas 613/RJA Mulai Dikerjakan

Yang terpenting teknik dan prosesnya. Pria ini mengaku cenderung menggunakan kulit kayu merah karena kepekatan warnanya lebih baik. Ia melanjutkan, seperti kegiatan pagelaran busana yang dilakukan Ikatan Hotel General Manager Assosiation (IHGMA) Kota Tarakan bekerja sama Dinas Pariwisata Kota Tarakan dan Provinsi Kaltara pada Jumat lalu, rerata peserta model menggunakan batik dengan pewarnaan kulit kayu merah. Menyoal pagelaran Pesona Batik Tarakan, dimana ia juga bagian dari panitian kegiatan mengatakan, dengan pagelaran fashion show bertema batik ini, diharapkan berdampak pada perekonomian.

“ Ada peningkatan omzet  dengan adanya perhatian pemerintah,” jelasnya.

Ia melanjutkan, dalam kegiatan itu yang ditonjolkan yakni motif dan desain. Dari sisi motif ada banyak jenis. Di antaranya motif tanduk galung, padau tujuh dulung, motif pakis, tabur bintang, dan motif bekantan, kapah yang menggunakan endemic Kalimantan. Untuk bisa eksis sampai ke luar negeri,Tarakan juga setiap tahun mengikuti kegiatan Wonderful Indonesia baik di Kinabalu maupun di Tawau. “Selalu ada perwakilan Tarakan yang dikirim ke sana,” jelasnya.

Baca Juga :  Diduga Bawa Lari Uang Member Rp 700 Juta

Sementara itu, Akhmad Hairani, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltara mengatakan, even pariwisata seperti Pesona Batik Tarakan bisa menjadi even atau agenda tahunan. Jika even ini digagas masyarakat, sehingga bisa memajukan wilayah Kaltara, dari sisi budaya, inovasi karya dan bisa mengenalkan tentunya batik khas Tarakan. “Meski pandemi, kegiatan tetap denga protokol kesehatan. Kepada peserta menjadi motivasi,” jelasnya.Ia menyinggung untuk kunjungan wisata ke Kaltara cukup mengalami penurunan. Khususnya penurunan hunian hotel dan saat ini sudah kembali bangkit. “Kalau dulu mungkin hanya 20 persen tingkat kunjungan orang sekarang sudah mulai normal sejak September 2020,” jelasnya.

Penurunan tingkat kunjungan itu lanjutnya, sudah terjadi sejak masa pembatasan sosial bersakala besar (PSBB). Untuk data masih dihimpun saat ini. Jika pandemi berakhir, pergerakan orang bisa meningkat sehingga berimbas kepada perekonomian.

Sementara itu, Elkani Ketua IHGMA Kota Tarakan mengatakan, pagelaran fashion show bekerja sama dengan dinas pariwisata. Lewat peragaan busana tersebut, lanjutnya, bisa menjadi momen berkolaborasi mengangkat kearifan lokal dan budaya Tarakan lewat batik. “Ini bisa dijual keluar daerah hingga mancanegara sehingga mengefek kepada seluruh sektor. Fashion show kita sebetulnya tidak kalah dengan daerah lainnya. Dan kita ditunjang dengan budaya dan kearifan lokal seperti batik khasnya Tarakan yang beragam motif,” jelas Elkani.

Lebih jauh ia menambahkan, saat ini promosi yang harus terus digencarkan. Ini menjadi pekerjaan bersama seluruh pihak. Dari sisi penerapan protokol kesehatan, ia menjamin bahwa meski saat ini masih pandemi, tak menjadi halangan untuk menggelar kegiatan yang nantinya berpotensi mengenalkan budaya Tarakan kepada dunia luar. “Kami mengimplementasikan Perwali Nomor 42 tahun 2020, dalam kegiatan sudah dikelola sesuai prokes. Kegiatan ini memang orientasinya mendatangkan banyak orang tapi kami bisa kelola sesuai prokes. Salah satunya peserta menggunakan face shield,” pungkasnya. (***) 

Masa pandemi Covid-19 cukup mematikan hampir seluruh sektor usaha tak terkecuali sektor usaha pengrajin batik asal Tarakan. Pasca masa adaptasi kebiasaan baru dan PSBB berakhir, perlahan-lahan pengrajin batik mulai bangkit terlebih sejak ada kebijakan pemerintah mengangkat batik tarakan sebagai seragam ASN dan even pagelaran budaya Tarakan yang mengenalkan keberadaan batik khas Kota Tarakan.

 

Andi Pausiah, Tarakan

Adalah Soni Lolong, salah seorang pengrajin batik Tarakan yang sudah berkecimpung selama bertahun-tahun membuat batik. Ia menyebutkan, di Kota Tarakan selain dirinya, masih ada tiga orang lagi pembatik yang nasibnya hamper sama sempat mati suri di awal-awal pandemic Covid-19 merebak. Hingga memasuki masa adaptasi kebiasaan baru, barulah usahanya pun kembali bangkit. Terlebih saat Pemkot Tarakan lewat Wali Kota Tarakan Dokter Khairul mengeluarkan kebijakan penyeragaman batik ASN bagi Pemkot Tarakan yang rencananya akan digunakan setiap hari Kamis. Dikatakan Soni Lolong, untuk motif batik yang menjadi seragam ASN yakni motif padau tujuh dulung. Target sekitar 3 ribu lembar batik sedang diusahakan dan dikebut pengerjaannya. Dengan memanfaatkan jasa pengrajin batik, ia menilai ini salah satu keseriusan dan perhatian pemerintah terlebih di masa pandemic Covid-19 yang tak jelas kapan berakhir. Ditetapkannya batik Tarakan sebagai seragam ASN Kota Tarakan imbasnya kepada pembatik dari sisi perekonomian meningkat. “Selama pandemi Covid-19, pendapatan atau omzet pengrajin batik sempat drop atau mengalami penurunan. Selain dari sisi perekonomian meningkat, dari sisi keaktifan pengrajin batik juga akhirnya kembali lagi, bergairah lagi untuk membatik,” beber Soni Lolong.

Ia mengulas lebih jauh mengapa batik Tarakan diharapakan bisa dikenal hingga mancanegara. Salah satunya, batik Tarakan yang diproduksi saat ini masih menggunakan teknik manual. Ada empat teknik membatik. Pertama, batik cap,  kedua batik lukis dengan kuas, ketiga batik

Ia juga mengulas untuk penggunaan warna batik. Batik pewarnaan alam itu menggunakan bahan dedaunan seperti daun ketapang, daun rambutan, daun manga. Begitu juga kulit kayu manga, kulit kayu rambutan kulit kayu bakau. Begitu juga kulit buah rambutan dan jenis buah lainnya semua bisa diolah dalam pewarnaan alam. “Dari sisi kekontrasan atau kecerahan, batik pewarnaan alam kalah dengan batik yang menggunakan pewarnaan sintentis. Namun  dari sisi kesehatan tubuh, lebih terjamin dan lebih aman serta lebih ramah lingkungan,” tegasnya. Kelebihan batik warna alam lebih aman digunakan meski tidak semua pasar menyukai batik yang menggunakan pewarnaan alam. Untuk pengelolaan lebih sulit dan harus melalui proses ekstraksi. Mencari dan menemukan 1 warna cukup sulit. “Warna biru masih mudah. Tapi untuk menentukan wwarna kuning, merah, hijau, itu tidak bisa ditentukan dari awal. Harus melalui proses. Itulah batik pewarnaan alam lebih mahal dari batik sintetis. Karena satu warna kulit buah rambutan misalnya bisa menghasilkan banyak warna,” bebernya.

Baca Juga :  Tumis Sawi Pahit

Yang terpenting teknik dan prosesnya. Pria ini mengaku cenderung menggunakan kulit kayu merah karena kepekatan warnanya lebih baik. Ia melanjutkan, seperti kegiatan pagelaran busana yang dilakukan Ikatan Hotel General Manager Assosiation (IHGMA) Kota Tarakan bekerja sama Dinas Pariwisata Kota Tarakan dan Provinsi Kaltara pada Jumat lalu, rerata peserta model menggunakan batik dengan pewarnaan kulit kayu merah. Menyoal pagelaran Pesona Batik Tarakan, dimana ia juga bagian dari panitian kegiatan mengatakan, dengan pagelaran fashion show bertema batik ini, diharapkan berdampak pada perekonomian.

“ Ada peningkatan omzet  dengan adanya perhatian pemerintah,” jelasnya.

Ia melanjutkan, dalam kegiatan itu yang ditonjolkan yakni motif dan desain. Dari sisi motif ada banyak jenis. Di antaranya motif tanduk galung, padau tujuh dulung, motif pakis, tabur bintang, dan motif bekantan, kapah yang menggunakan endemic Kalimantan. Untuk bisa eksis sampai ke luar negeri,Tarakan juga setiap tahun mengikuti kegiatan Wonderful Indonesia baik di Kinabalu maupun di Tawau. “Selalu ada perwakilan Tarakan yang dikirim ke sana,” jelasnya.

Baca Juga :  Api Diduga dari Sisa Sampah, Gudang Ludes

Sementara itu, Akhmad Hairani, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltara mengatakan, even pariwisata seperti Pesona Batik Tarakan bisa menjadi even atau agenda tahunan. Jika even ini digagas masyarakat, sehingga bisa memajukan wilayah Kaltara, dari sisi budaya, inovasi karya dan bisa mengenalkan tentunya batik khas Tarakan. “Meski pandemi, kegiatan tetap denga protokol kesehatan. Kepada peserta menjadi motivasi,” jelasnya.Ia menyinggung untuk kunjungan wisata ke Kaltara cukup mengalami penurunan. Khususnya penurunan hunian hotel dan saat ini sudah kembali bangkit. “Kalau dulu mungkin hanya 20 persen tingkat kunjungan orang sekarang sudah mulai normal sejak September 2020,” jelasnya.

Penurunan tingkat kunjungan itu lanjutnya, sudah terjadi sejak masa pembatasan sosial bersakala besar (PSBB). Untuk data masih dihimpun saat ini. Jika pandemi berakhir, pergerakan orang bisa meningkat sehingga berimbas kepada perekonomian.

Sementara itu, Elkani Ketua IHGMA Kota Tarakan mengatakan, pagelaran fashion show bekerja sama dengan dinas pariwisata. Lewat peragaan busana tersebut, lanjutnya, bisa menjadi momen berkolaborasi mengangkat kearifan lokal dan budaya Tarakan lewat batik. “Ini bisa dijual keluar daerah hingga mancanegara sehingga mengefek kepada seluruh sektor. Fashion show kita sebetulnya tidak kalah dengan daerah lainnya. Dan kita ditunjang dengan budaya dan kearifan lokal seperti batik khasnya Tarakan yang beragam motif,” jelas Elkani.

Lebih jauh ia menambahkan, saat ini promosi yang harus terus digencarkan. Ini menjadi pekerjaan bersama seluruh pihak. Dari sisi penerapan protokol kesehatan, ia menjamin bahwa meski saat ini masih pandemi, tak menjadi halangan untuk menggelar kegiatan yang nantinya berpotensi mengenalkan budaya Tarakan kepada dunia luar. “Kami mengimplementasikan Perwali Nomor 42 tahun 2020, dalam kegiatan sudah dikelola sesuai prokes. Kegiatan ini memang orientasinya mendatangkan banyak orang tapi kami bisa kelola sesuai prokes. Salah satunya peserta menggunakan face shield,” pungkasnya. (***) 

Most Read

Artikel Terbaru

/