alexametrics
26.7 C
Tarakan
Thursday, August 11, 2022

Diperkirakan Harganya Rp 250 Ribu, Tarakan Belum Terima Jatah Vaksin

TARAKAN – Penyesuaian tarif vaksin Covid-19 telah diluncurkan pemerintah pusat. Namun, harga tersebut merupakan harga yang disesuaikan dengan pabrik penghasil vaksin Covid-19, sehingga Kalimantan Utara (Kaltara) diprediksi akan memberlakukan harga vaksin di atas harga pabrik, mengingat akses pengiriman yang terbilang jauh.

“Enggak mungkin segitu, itu harga belinya. Karena harga distribusi dari pabrik ke distributor ke user dan ke rumah sakit, belum lagi lewat pajak. Pasti lebih mahal dari itu,” ungkap dr. Franky Sientoro, Sp.A, ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara, (14/12).

Ketersediaan vaksin Covid-19 ini dijelaskan Franky dihasilkan oleh beberapa pabrik, seperti Sinovac, Bio Farma, AstraZeneca, Pfizer dan Moderna. Jenis-jenis vaksin ini telah melalui hasil penelitian dan telah diedarkan sehingga dinyatakan telah selesai melalui tahap uji dan dapat digunakan masyarakat.

Franky menjelaskan, pihaknya akan menggunakan hasil uji klinis dari pabrik penghasil vaksin. Para medis juga akan mempelajari uji klinis dengan menentukan usia berapa yang dianggap pas untuk menggunakan vaksin tersebut. “Tapi di Indonesia umur 18 sampai 59 tahun. Tapi di luar negeri ada yang usia 4 hingga 90 tahun, jadi inilah yang akan disesuaikan. Prediksi saya harga vaksin Rp 250 ribu,” jelas dokter spesialis anak ini.

Harga sebesar Rp 250 ribu dinilai Franky telah terjangkau bagi masyarakat, sebab di beberapa tempat tercatat vaksin mencapai Rp 1-2 juta. Penentuan harga vaksin ini dikatakan Franky bergantung dari hasil pabrik, kualitas dan prosedurnya. “Tapi yang dilihat inti vaksinnya. Ada vaksin yang menggunakan all body, ada juga yang RMA virus saja. Nah, yang RMA virus ini teknologinya lebih bagus ini pasti lebih mahal dari yang all body,” ujar Franky.

Baca Juga :  Perbaikan Jalan menuju Pasar Masih Sebatas Pengerasan

Jika ingin mendapatkan vaksin Covid-19, masyarakat harus dinyatakan sehat secara umum seperti tidak dalam keadaan batuk maupun demam. Sehingga masyarakat yang menerima vaksin diwajibkan untuk sehat dengan usia 18-59 tahun. “Tapi d iluar usia itu bisa, mungkin dari 4 tahun sampai 60 hingga 70 tahun. Standarnya berdasarkan hasil uji dari tempat lain,” ujarnya.

Khusus pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh, akan dilihat lagi perkembangan antibodinya yang terbentuk. Jika terbentuk banyak, maka dapat melakukan vaksin, namun jika belum terbentuk banyak wajib ditunda untuk melakukan pemberian vaksin.

Franky memprediksi Kaltara kemungkinan belum menerima vaksin tahap pertama. Vaksin tahap pertama lebih dulu akan menyentuh Jakarta dan wilayah Jawa lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman mengatakan pihaknya masih menunggu arahan pemerintah pusat terkait distribusi vaksin Covid-19. Pihaknya juga telah berkomunikasi bersama pemerintah pusat dan mendapatkan alokasi sebesar 430 ribu vaksin. “Yang jelas untuk sasaran Kaltara itu segitu. Tahap pertama yang 1,2 juta itu masih berproses ujinya, kami menunggu saja karena sasaran masing-masing provinsi sudah ada, kalau sudah selesai kami akan secepatnya men-droping (menyalurkan),” bebernya.

Harga masih akan dibahas setelah adanya arahan dari pemerintah pusat. Namun informasi yang ia terima, harga vaksin mencapai Rp 250-280 ribu per orang. “Tunggu saja harga resminya, saya tidak berani menyampaikan kalau tidak ada surat resmi dari Kemenkes,” pungkasnya.

 

TARAKAN MENDATA

Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 tiba di Indonesia, Minggu (6/12) pekan lalu. Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan belum mengetahui secara detail peruntukan vaksin tersebut.

Baca Juga :  RSAL Mulai Vaksinasi Masyarakat Umum

Kepala Dinas Kesehatan Tarakan, dr. Witoyo mengatakan, hingga saat ini belum ada surat resmi dari pusat. Entah itu kapan akan didistribusikan maupun berapa jumlah jatah vaksin untuk Tarakan. “Belum ada informasi kelanjutan berapa banyak jatah yang diberikan, kapan didistribusikan. Untuk sasarannya juga kami belum tahu pasti, karena belum ada surat resminya. Tapi ada untuk tenaga kesehatan, TNI-Polri,” terangnya kepada Radar Tarakan, Senin (14/12).

Sembari menunggu surat resmi dari pusat, Dinkes Tarakan mulai menyusun data-data terhadap tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan yang ada di Tarakan. Setelah menerima instruksi dari pusat, kemudian dilanjutkan dengan menyurati fasilitas-fasilitas kesehatan tersebut. Baik puskesmas maupun rumah sakit. “Kami baru kumpulkan data-data tenaga kesehatan saja, itu belum rampung masih sementara dikumpulkan. Tapi kalau 1,2 juta vaksin yang tiba di Indonesia, itu masih terbatas. Kemungkinan belum diperuntukkan bagi masyarakat umum,” bebernya.

Sembari menunggu kepastian pendistribusian vaksin Covid-19, dia mengimbau agar masyarakat mencegah penularan dengan memperketat penerapan protokol kesehatan.

Sejak Agustus lalu tambahan kasus terkonfirmasi belum terhenti hingga sekarang. Diperparah dengan tambahan 71 kasus per Senin (14/12). “Dengan memperketat protokol kesehatan, kami bisa mengendalikan kasus. Keluar dari rumah pakai masker, karena penularan di lingkungan kita tinggi. Tidak hanya pendatang, tapi tetangga kita positif kita tidak tahu karena tanpa gejala. Kita tidak tahu siapa saja yang sudah positif, jadi tetap patuh protokol kesehatan,” imbaunya. (shy/*/one/lim)

TARAKAN – Penyesuaian tarif vaksin Covid-19 telah diluncurkan pemerintah pusat. Namun, harga tersebut merupakan harga yang disesuaikan dengan pabrik penghasil vaksin Covid-19, sehingga Kalimantan Utara (Kaltara) diprediksi akan memberlakukan harga vaksin di atas harga pabrik, mengingat akses pengiriman yang terbilang jauh.

“Enggak mungkin segitu, itu harga belinya. Karena harga distribusi dari pabrik ke distributor ke user dan ke rumah sakit, belum lagi lewat pajak. Pasti lebih mahal dari itu,” ungkap dr. Franky Sientoro, Sp.A, ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara, (14/12).

Ketersediaan vaksin Covid-19 ini dijelaskan Franky dihasilkan oleh beberapa pabrik, seperti Sinovac, Bio Farma, AstraZeneca, Pfizer dan Moderna. Jenis-jenis vaksin ini telah melalui hasil penelitian dan telah diedarkan sehingga dinyatakan telah selesai melalui tahap uji dan dapat digunakan masyarakat.

Franky menjelaskan, pihaknya akan menggunakan hasil uji klinis dari pabrik penghasil vaksin. Para medis juga akan mempelajari uji klinis dengan menentukan usia berapa yang dianggap pas untuk menggunakan vaksin tersebut. “Tapi di Indonesia umur 18 sampai 59 tahun. Tapi di luar negeri ada yang usia 4 hingga 90 tahun, jadi inilah yang akan disesuaikan. Prediksi saya harga vaksin Rp 250 ribu,” jelas dokter spesialis anak ini.

Harga sebesar Rp 250 ribu dinilai Franky telah terjangkau bagi masyarakat, sebab di beberapa tempat tercatat vaksin mencapai Rp 1-2 juta. Penentuan harga vaksin ini dikatakan Franky bergantung dari hasil pabrik, kualitas dan prosedurnya. “Tapi yang dilihat inti vaksinnya. Ada vaksin yang menggunakan all body, ada juga yang RMA virus saja. Nah, yang RMA virus ini teknologinya lebih bagus ini pasti lebih mahal dari yang all body,” ujar Franky.

Baca Juga :  Tersisa Seorang Polair Belum Ditemukan

Jika ingin mendapatkan vaksin Covid-19, masyarakat harus dinyatakan sehat secara umum seperti tidak dalam keadaan batuk maupun demam. Sehingga masyarakat yang menerima vaksin diwajibkan untuk sehat dengan usia 18-59 tahun. “Tapi d iluar usia itu bisa, mungkin dari 4 tahun sampai 60 hingga 70 tahun. Standarnya berdasarkan hasil uji dari tempat lain,” ujarnya.

Khusus pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh, akan dilihat lagi perkembangan antibodinya yang terbentuk. Jika terbentuk banyak, maka dapat melakukan vaksin, namun jika belum terbentuk banyak wajib ditunda untuk melakukan pemberian vaksin.

Franky memprediksi Kaltara kemungkinan belum menerima vaksin tahap pertama. Vaksin tahap pertama lebih dulu akan menyentuh Jakarta dan wilayah Jawa lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman mengatakan pihaknya masih menunggu arahan pemerintah pusat terkait distribusi vaksin Covid-19. Pihaknya juga telah berkomunikasi bersama pemerintah pusat dan mendapatkan alokasi sebesar 430 ribu vaksin. “Yang jelas untuk sasaran Kaltara itu segitu. Tahap pertama yang 1,2 juta itu masih berproses ujinya, kami menunggu saja karena sasaran masing-masing provinsi sudah ada, kalau sudah selesai kami akan secepatnya men-droping (menyalurkan),” bebernya.

Harga masih akan dibahas setelah adanya arahan dari pemerintah pusat. Namun informasi yang ia terima, harga vaksin mencapai Rp 250-280 ribu per orang. “Tunggu saja harga resminya, saya tidak berani menyampaikan kalau tidak ada surat resmi dari Kemenkes,” pungkasnya.

 

TARAKAN MENDATA

Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 tiba di Indonesia, Minggu (6/12) pekan lalu. Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan belum mengetahui secara detail peruntukan vaksin tersebut.

Baca Juga :  Radar Tarakan Sabet Dua Juara Borneo Amazing Race

Kepala Dinas Kesehatan Tarakan, dr. Witoyo mengatakan, hingga saat ini belum ada surat resmi dari pusat. Entah itu kapan akan didistribusikan maupun berapa jumlah jatah vaksin untuk Tarakan. “Belum ada informasi kelanjutan berapa banyak jatah yang diberikan, kapan didistribusikan. Untuk sasarannya juga kami belum tahu pasti, karena belum ada surat resminya. Tapi ada untuk tenaga kesehatan, TNI-Polri,” terangnya kepada Radar Tarakan, Senin (14/12).

Sembari menunggu surat resmi dari pusat, Dinkes Tarakan mulai menyusun data-data terhadap tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan yang ada di Tarakan. Setelah menerima instruksi dari pusat, kemudian dilanjutkan dengan menyurati fasilitas-fasilitas kesehatan tersebut. Baik puskesmas maupun rumah sakit. “Kami baru kumpulkan data-data tenaga kesehatan saja, itu belum rampung masih sementara dikumpulkan. Tapi kalau 1,2 juta vaksin yang tiba di Indonesia, itu masih terbatas. Kemungkinan belum diperuntukkan bagi masyarakat umum,” bebernya.

Sembari menunggu kepastian pendistribusian vaksin Covid-19, dia mengimbau agar masyarakat mencegah penularan dengan memperketat penerapan protokol kesehatan.

Sejak Agustus lalu tambahan kasus terkonfirmasi belum terhenti hingga sekarang. Diperparah dengan tambahan 71 kasus per Senin (14/12). “Dengan memperketat protokol kesehatan, kami bisa mengendalikan kasus. Keluar dari rumah pakai masker, karena penularan di lingkungan kita tinggi. Tidak hanya pendatang, tapi tetangga kita positif kita tidak tahu karena tanpa gejala. Kita tidak tahu siapa saja yang sudah positif, jadi tetap patuh protokol kesehatan,” imbaunya. (shy/*/one/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/